Latihan Hidup Sehari-hari | Kemandirian | Multiple Intelligence
Saya mulai mempertanyakan tentang apa sebenarnya fungsi mainan setelah beberapa
waktu mengamati Azka dengan mainannya. Jika mainan itu baru dilihatnya atau baru
dibelikan, ia akan cukup intens menguliknya. Akan tetapi, kegiatan itu hanya berselang
beberapa saat. Esoknya, perlakuannya terhadap mainan baru itu sama saja dengan
perlakuannya terhadap mainan lama, dicuekkin aja. Azka baru akan mengulik mainannya
lagi jika diajak untuk menguliknya, atau jika sudah cukup lama takdisentuhnya.
Tidak ada sebuah mainan pun yang tidak pernah bosan diuliknya terus setiap hari.
Padahal, semua mainannya sengaja dipajang pada sebuah tempat seperti meletakkan
pajangan, tidak ditumpuk di dalam keranjang atau kardus, tujuannya agar ia dapat
selalu melihatnya dan tertarik untuk memainkannya. Namun, Azka hanya gemar
memporak-porandakannya (jika pagi hari saat bangun dari tidur lantas ia melihat
semua mainannya tersusun rapi), lalu mengabaikannya.
Azka justru tertarik pada benda-benda yang sering dipakai oleh saya atau abinya. Jika
saya sedang memasak, ia senang bermain dengan sutil, wajan, panci, misting, maupun
ulekan. Dalam bermain, kadang benda-benda itu diperlakukannya sesuai fungsinya. Ia
mengaduk-aduk entah apa yang diisinya ke dalam wajan -kerupuk mentah, kacang mentah,
tepung, makaroni, bahan masakan yang akan saya masak, sisa makanan dan minumannya-
lalu mengaduk-aduknya dengan sutil. Terkadang, peralatan masak itu dipukul-pukulnya
seperti sedang memainkan alat musik pukul. Sambil tetap memukul, ia lantas menari-nari
atau berjalan ke sana ke mari.
Jika sedang menemani abinya bertukang membikin beberapa peralatan rumah (tempat
sepatu, meja setrika, gantungan pakaian, rak-rak di ruang makan), ia senang memainkan
palu, paku, meteran, spidol, penggaris, kayu, obeng, cutter, dan apa pun peralatan
pertukangan yang sedang dipakai abinya. Kadang ia meniru apa-apa yang dilakukan abi
dengan peralatan itu, kadang benda-benda itu dijadikannya pemukul untuk menghasilkan
bunyi-bunyian, entah memukul lantai, dinding, atau lainnya. Kadang, benda-benda
panjang seperti penggaris dan kayu dijadikannya seolah-olah itu adalah alat musik
tiup.
Ketimbang bermain dengan mainan yang sengaja dibelikan untuknya, ia justru akan
bermain dengan durasi waktu lebih lama jika bermain-main dengan benda-benda yang
merupakan "peralatan dan perlengkapan rumah tangga".
Pada titik itulah saya mulai mempertanyakan fungsi mainan. Jika anak-anak justru lebih
menyukai benda-benda "peralatan dan perlengkapan rumah tangga" ketimbang mainan
yang sengaja dibelikan untuknya, lantas, apa sebenarnya fungsi mainan? Untuk apa
mainan itu diciptakan? Lalu, mengapa tak kita biarkan saja anak-anak kita bermain
dengan "peralatan dan perlengkapan rumah tangga", alih-alih memaksa mereka bermain
dengan mainannya? Ya, terkecuali jika memang mainan itu menarik minatnya.
Dan, bukankah mainan itu justru menjauhkannya atau menjadikannya berjarak dengan
benda-benda asli yang justru kelak akan dipakainya dalam kehidupan sehari-hari?
Bagaimana ia akan dapat memakai gunting dengan baik, misalnya, jika yang kita sodorkan
padanya adalah gunting-guntingan. Apalagi, sepanjang pengamatan saya, rata-rata bentuk
gunting-guntingan itu cukup jauh berbeda dengan bentuk gunting asli.
Azka (19 bulan), sejak pertama kali ia melihat dan penasaran dengan gunting (kalau
tidak salah sejak usianya 16 bulanan), saya sodorkan gunting asli, seraya saya jelaskan
kalau benda itu tajam. Saya berikan ia pengalaman menyentuh bagian tajam dari gunting
agar ia tahu apa yang dimaksud dengan tajam. Efeknya, setiap bereksplorasi dengan
gunting, ia bersikap hati-hati, lalu setelah puas, ia akan menyerahkan benda itu pada
saya (seolah-olah paham jika benda tajam takboleh diletakkan sembarangan).
Begitu juga dengan jarum (ia sering melihat saya menggunakan jarum saat memakai
kerudung), saya berikan jarum asli untuk dipegangnya (tentu saja tetap dalam
pengawasan) dan saya sentuhkan ujung jarum pada kulitnya agar ia paham jarum itu
tajam dan bagaimana rasanya jika terkena benda tajam. Sejak ia memahami hal itu,
setiap ia menemukan benda tajam, jarum, peniti, dan sejenisnya, ia akan memungutnya
dan memberikannya pada saya, seraya bilang, "jajum...(jarum), jam...(tajam)."
Saya pernah cukup lama berkecimpung dalam dunia entrepreneurship, dari mulai rajin
menghadiri seminar, workshop, maupun sekolah entrepreneurship, menjadi bagian dari
event organizer yang mengadakan seminar maupun workshopnya, bersama teman-teman
mendirikan organisasi yang bergerak dalam bidang entrepreneurship, bekerja sebagai
reporter dan penulis di sebuah majalah entrepreneurship, beberapa kali merintis bisnis
sendiri bersama kawan-kawan, dan terakhir, saya diminta oleh kawan saya untuk menjadi
bagian dari pemilik dan manajemen perusahaan yang sedang dirintisnya.
Barangkali bersebab adanya pengalaman tersebut, sehingga arah kesimpulan atas
pertanyaan saya di atas adalah, "mainan sejatinya diciptakan untuk kepentingan bisnis,
bukan murni untuk membantu perkembangan anak. Analoginya kira-kira seperti ini; sebuah
perusahaan obat yang menemukan bahwa sejenis buah yang sehari-hari mudah ditemukan,
ternyata jika dikonsumsi rutin, dapat menyembuhkan penyakit berat seperti kanker. Akan
tetapi, perusahaan obat itu menyembunyikan fakta itu dan berusaha membikin bahan
sintetis atau obat yang menyerupai kandungan buah itu. Tentu saja, agar perusahaan
obat itu dapat meraih keuntungan besar dari penjualan obat ciptaannya.
Ya, memang tidak semuanya. Sebab ada juga mainan-mainan yang murni dibuat untuk
membantu tumbuh kembang anak, namun akhirnya banyak orang tua yang tertarik
ingin memiliki untuk anak-anak mereka, maka jadilah mainan itu diproduksi lebih banyak
untuk memenuhi permintaan, lalu akhirnya jadilah sebuah bisnis mainan. Jika ditilik
dari sejarahnya, salah satu contohnya adalah mainan Lego.
Di sinilah saya pikir, kami sebagai orang tua, pada akhirnya harus mampu memilah-milah
mainan yang memang benar-benar bermanfaat bagi Azka, dan mainan yang justru
hanya akan menjauhkannya atau menjadikannya berjarak dengan kehidupan nyata. Maksud
saya berjarak dengan kehidupan nyata itu misalnya, anak-anak yang dilarang bermain-
main di dapur dan di larang bermain-main dengan peralatan dapur, dengan alasan apapun
(biasanya alasannya adalah takut anak terkena minyak panas atau terkena api kompor)
kemungkinan besar jika ia dewasa nanti, ia tidak akan pandai memasak dan tidak akan
betah berada lama-lama di dapur.
Di rumah, kami memiliki dua rak untuk meletakkan piring-mangkok-talenan-ulekan-
misting-cangkir-dan benda semacamnya. Benda-benda yang diletakkan pada rak ini berada
dalam jangkauan Azka. Ia bisa kapan saja bereksplorasi dengan benda-benda ini. Saya
merasa cukup aman membiarkannya bermain dengan peralatan ini sebab tidak ada yang
terbuat dari kaca, dan memang sengaja tidak membeli benda-benda yang terbuat dari
kaca. Apa yang dilakukannya dengan benda-benda ini? Pertama, ia meniru apa-apa yang
pernah saya lakukan dengan menggunakan benda-benda itu, kedua, ia menciptakan bunyi-
bunyian dengan benda-benda itu, ketiga, untuk peralatan eksperimennya; memindahkan air
atau benda cair lainnya dari satu wadah ke wadah lain.
Bersebab ia suka sekali menekan saklar lampu, tombol kipas angin, dan tombol televisi,
setiap saya hendak mematikan atau menyalakan benda-benda tersebut, saya minta ia yang
melakukannya. Tentu saja, Azka dengan senang hati melakukannya. Televisi dan kipas
angin juga terletak dalam jangkauannya. Sejak usia 15-16 bulanan ia sudah paham
bagaimana menyalakan dan mematikan benda-benda itu. Apakah Azka sering memasukkan
jarinya ke celah-celah kipas angin? Awalnya ya, akan tetapi setelah beberapa kali
jarinya pernah tersangkut dan ia susah untuk melepasnya, sudah tidak lagi.
Bahan-bahan memasak saya juga terletak dalam jangkauannya. Ia senang sekali bermain
dengan makaroni, beras, tepung, kerupuk mentah, dan kacang-kacangan. Awalnya,
makaroni dan beras mentah itu sering dimakannya. Akan tetapi, setelah memiliki
pengalaman bahwa kedua benda itu keras untuk digigit, susah untuk ditelan,
ia taklagi memakannya jika sedang memain-mainkannya.
Ada juga benda-benda yang saya letakkan jauh dari jangkauan Azka, yaitu benda-benda
yang jika dimainkannya harus dalam pengawasan. Salah satunya, Azka suka sekali duduk-
duduk di meja makan, sementara di meja makan ada sebuah rak khusus untuk menyimpan
beberapa gelas kaca. Ia suka memainkan gelas-gelas itu, mengangkatnya, pura-pura minum
dari gelas itu, atau pura-pura mengaduk minuman. Efek positifnya, jika sedang minum
dengan memakai gelas kaca, pegangan tangannya sudah kuat. Pernah beberapa kali saya
mendapatkan Azka berhasil mengambil gelas kaca berisi minuman saya atau abinya,
bersebab gelas itu terletak hampir ditepi meja sehingga dapat dijangkaunya. Ia
berhasil mengambilnya tanpa menjatuhkannya, lalu meminum isinya, membawanya
mondar-mandir, juga tanpa menjatuhkan gelas tersebut.
Intinya, seperti judul yang saya tuliskan di atas, semua benda di rumah adalah
mainan Azka, juga peralatan menyapu, mencuci, kulkas beserta isinya, pakaian, dan
lainnya. Satu hal saya rasakan, semakin dekat ia dengan benda-benda asli dalam
kehidupan nyata, semakin banyak kosa katanya dan semakin banyak ia memahami fungsi-
fungsi benda. Sebab, setiap ia melihat dan menyentuh sebuah benda, pertama kali yang
ditanyakannya pasti nama benda tersebut dan kepingin tahu benda itu untuk apa. Setelah
diberi tahu, ia akan mengulang-ulang terus nama benda itu. Lalu, jika suatu saat ia
melihat dan menyentuhnya kembali, ia akan mengulang menyebutkan nama benda itu
kembali dan memperagakan cara memakainya.
Jika ada sebuah benda yang pernah dilihat dan disentuhnya namun jarang-jarang, kadang
ia lupa namanya, namun ingat fungsinya. Contohnya adalah palu. Azka hanya menyentuh
palu ketika sedang menemani abi membikin rak. Suatu kali ia menunjuk-nunjuk tempat
penyimpanan palu sambil bilang, "Km km km km," sambil memeragakan cara memakai palu.
Itu adalah bunyi palu yang pukulkan pada paku yang pernah didengarnya.
Mendidik anak itu memang penuh dengan resiko. Jika anak dibiarkan memanjat atau
berlari-lari, akan ada resiko cidera terjatuh atau terpeleset. Jika anak diperkenankan
bermain-main di dapur, akan ada resiko terkena api atau terkena minyak panas. Jika
anak diperkenankan bermain air atau diajak dalam kegiatan mencuci, akan ada resiko ia
terpeleset dan demam karena kedinginan. Jika anak diperkenankan mendekati kita yang
sedang menyetrika, akan ada resiko tangannya akan terkena setrika panas, seperti yang
sudah pernah terjadi pada azka. Jika anak diizinkan bermain dengan benda-benda tajam,
akan ada resiko tertusuk. Akan tetapi, berani mengambil resiko dalam mendidik anak
bukan berarti tidak berhati-hati.
Saya meyakini, tugas orang tua adalah menjaga anak saat mereka sedang bereksplorasi
agar cedera yang mereka terima masih dalam batas wajar. Tugas orang tua bukan
melarang-larang atau menjauhkan anak-anak dari hal-hal yang beresiko. Misal, saat azka
sedang berjalan di lantai yang licin, tugas saya adalah memberitahunya bahwa lantai
itu licin, bukan melarangnya berjalan di lantai yang licin. Lalu ketika ia terjatuh,
saya usahakan agar saat jatuh, kepalanya tidak terbentur lantai.
Kemampuan mengambil, menghadapi, dan menerima resiko itu tidak tumbuh dengan
sendirinya. Kemampuan itu didapatkan dari latihan yang berulang-ulang. Orang tua yang
terlalu sering melarang-larang anaknya melakukan permainan yang beresiko justru akan
menghambat anak dalam latihan menghadapi resiko.
Hidup ini pun penuh dengan resiko, bukan? Saya meyakini, anak yang sering dilarang-
larang melakukan ini itu karena orang tuanya memiliki ketakutan yang berlebihan
terhadap resiko atau cedera yang akan menimpa sang anak, akan mencetak anak-anak yang
takut mengambil resiko dalam kehidupan nyatanya kelak, anak-anak peragu dan penakut,
anak-anak yang pasif, dan anak yang tidak memiliki banyak kemampuan. Ketakutan orang
tua yang berlebihan itu akan menular pada anak.
Sebaliknya, orang tua yang menahan diri untuk tidak melarang-larang anaknya
bereksplorasi dan memberikan kesempatan pada anak untuk merasakan "sakit" entah itu
sakit karena jatuh atau yang lainnya, akan mencetak anak-anak yang berani serta
berhati-hati. Anak-anak itu akan memiliki sifat berani karena orang tua tidak
menularkan ketakutan mereka, juga, mereka akan memiliki sikap berhati-hati karena
sudah punya segudang pengalaman "sakit".
Resiko itu wajar. Cedera itu wajar. Itu yang selalu saya bilang pada Azka jika ia
terjatuh dan mulai menangis. Setelah saya bantu ia berdiri jika posisi jatuhnya
membuatnya kesulitan bergerak, atau setelah saya obati jika ia terluka, saya akan
bilang, "kalau Azka gak mau jatuh atau sakit, ya diem aja. Selama Azka bergerak,
selama itu pula akan ada resiko yang akan Azka tanggung. Itu namanya konsekuensi.
Berani bergerak ya harus berani terima apa pun konsekuensi yang mengikutinya."
Sekali lagi, seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, semua benda di rumah adalah
mainan Azka, tanpa terkecuali. Semua ruangan di rumah adalah tempat bermain Azka,
tanpa terkecuali, termasuk di dapur saat saya sedang memasak, di tangga, atau pun di
kamar mandi. Ia juga bebas bermain apa pun; berlari, memanjat, berputar-putar, dan
sebagainya. Tugas kami sebagai orang tua adalah menjaga agar resiko yang diterimanya
masih dalam batas wajar. Tugas kami bukan melarang-larangnya. Tertusuk sedikit jarum,
terkena setrika panas, terjatuh saat berlari, adalah resiko-resiko yang wajar.
anakku juga lebih seneng main di dapur. segala kotak makan dan tutupnya jadi mainan favorit. sebar aja di lantai, asyik sendiri dia mainin itu. concern aku kipas angin mbak, satu-satunya yang selalu aku hindari kipas angin soalnya takut jarinya masuk. emang kalau jari masuk celah kipas angin, nggak takut kena kipasnya ya?
ReplyDeleteAnak dibawah 2,5 tahun memang lebih suka bermain natural.
ReplyDeletehaha ini ceritanya kayak ponakanku di rumah kak :D
ReplyDelete