Multiple Intelligence | Kecerdasan Musikal
Sejak usia tiga atau empat bulan, gaya belajar dominan Azka mulai terlihat.
Ia kuat di visual, lalu auditori. Itu sebabnya, untuk ukuran bayi dan batita,
Azka cenderung lebih terlihat tenang, aktif namun tidak over-aktif.
Cenderung menjadi pengamat terlebih dulu sebelum terlibat aktif pada setiap situasi baru
(udah kebayang nanti gede-nya kayak gimanaaa, hahahaa...). Ia cepat hapal
bentuk dan nama benda. Penglihatannya detail. Lobang kecil yang berada di
dinding bagian atas pun terlihat dan terperhatikan olehnya.
Ia juga peka terhadap bunyi-bunyian di sekitar dan suka meniru bunyi-bunyi
itu dengan suaranya, bunyi yang halus dan sering diabaikan oleh orang dewasa
sekali pun, seperti bunyi yang keluar saat kita menggaruk bagian kulit yang
gatal dengan kuku.
Azka memiliki refleks mencari sumber bunyi dengan matanya. Setelah mendengar,
biasanya ia segera mencari asal suara tersebut. Biasanya, tebakannya selalu
tepat; ia selalu dapat menemukan tempat atau benda yang mengeluarkan bunyi-
bunyian itu. Namun semakin bertambah usianya, kemampuan itu sedikit
berkurang.
Seperti bayi-bayi pada umumnya, sejak bisa duduk sendiri, Azka mulai tertarik
untuk menghasilkan bunyi-bunyian dengan memukul benda-benda. Ya, tentu saja,
terus saya stimulasi, sebab, merujuk pada teori kecerdasan majemuk (multiple
intelligence)-nya Howard Gardner, kegiatan itu termasuk awal dari
perkembangan kecerdasan musikal bagi semua anak. Berkembang atau tidaknya
nanti, semua bergantung dari sikap orang tua; mengabaikannya, menstimulasi
setengah-setengah, atau menstimulasinya penuh hingga potensinya berkembang
menjadi kompetensi.
Salah satu program homeschooling kami adalah mengembangkan kecerdasan
majemuk, yang menurut Gardner semuanya merupakan kecerdasan, hingga sampai
pada tahap bisa, termasuk di dalamnya kecerdasan musikal. Lalu, mengembangkan
satu, dua, atau tiga bidang kecerdasan yang menjadi minat Azka, hingga sampai
pada tahap ahli. Gardner mengatakan, selama lingkungannya mendukung, setiap
manusia mampu mengembangkan semua kecerdasan yang dimilikinya, tidak hanya
terbatas pada satu atau dua kecerdasan saja.
Azka begitu takjub ketika pertama kali menemukan sebuah benda yang jika
dipukulkannya pada benda lain atau dipukul dengan tangannya, mereka
mengeluarkan bunyi-bunyian yang khas. Sejak saat itu, kegiatan memukul
benda-benda, baik dengan alat pemukul maupun dengan tangannya sendiri menjadi
kegiatan yang sehari-hari dilakukannya. Mulai dari memukul-mukul kaleng,
kotak, lemari, lantai, apa pun, bahkan memukul bagian tubuhnya.
Jika ia sedang asyik, saya biarkan, meski bunyi-bunyian yang dihasilkannya
cukup keras. Jika ia meminta saya bergabung, saya ladeni. Kami pun memukul
benda-benda dan asyik bersama. Saya berupaya melihat kegiatannya ini sebagai
awal dari perkembangan kecerdasan musikalnya, bukan sebaliknya, menganggapnya
sebagai kegiatan yang tidak bermanfaat dan berisik.
Tentu, sudut pandang saya pada kegiatannya ini akan berpengaruh pada sikap
saya. Jika saya menganggap kegiatannya ini adalah kegiatan yang tidak
bermanfaat, saya pasti akan mengabaikan, menyuruhnya berhenti jika ia mulai
berisik, bahkan melarangnya bersebab pusing dengan bunyi-bunyian yang bising
itu. Sebaliknya, jika saya memandang kegiatan ini merupakan awal dari
perkembangan kecerdasan musikalnya, tentu akan terus saya stimulasi dan saya
beri ia ruang untuk bereksplorasi dengan bunyi-bunyian itu.
Ternyata, kegiatan menghasilkan bunyi-bunyian ini terus berkembang seiring
dengan pertambahan usianya. Selain pendengarannya semakin peka, ia juga mulai
meniru bunyi-bunyian yang didengarnya dengan mulutnya dan berusaha
menyuarakannya semirip mungkin. Kerap ia meniru suara piring kaca yang
dipukul-pukul dengan sendok oleh penjual makanan yang sedang lewat di depan
rumah, suara air ketika keran dibuka, suara yang keluar dari rice cooker saat
nasi mulai matang, suara yang dihasilkan dari memaku-maku tembok, suara detik
jam, suara hewan, dan lainnya.
Ia juga kerap berjoget ketika mendengar bunyi-bunyian tertentu yang berbunyi
teratur dan berulang-ulang seperti bunyi gesekan gergaji dengan kayu, bunyi
sendok yang beradu dengan gelas saat mengaduk minuman, bunyi yang dihasilkan
saat menyikat kain ketika mencuci, dan bunyi-bunyian yang teratur lainnya.
Bagi Azka, semua bunyi-bunyian yang didengarnya sehari-hari adalah musik yang
mampu membuatnya bergerak, menari.
Sekarang, sejak usianya enam belas bulan, Azka juga senang melakukan kegiatan
menirukan melodi, yang berbunyi dari salah satu mainannya, dengan tangan dan
mulutnya. Ia memulainya dengan menekan salah satu tombol dari sebuah mainan
yang mengeluarkan melodi sekitar lima belas detik, lalu selama melodi itu
berbunyi, Azka bersuara, "pam... pam.. pam..." berusaha menirukan irama
melodi itu sambil memukul-mukul lututnya.
Satu lagi kesenangannya sejak ia mulai dapat berbicara yaitu, menebak asal
suara yang didengarnya saat wujud benda yang mengeluarkan suara itu takdapat
dilihatnya. Dari dalam rumah, dari pagi hingga malam, kami dapat mendengar
suara burung berkicau di pagi hari, suara gukguk, meong, ayam, dan bebek.
Juga suara kendaraan yang lewat sesekali, suara teriakan dan tangisan anak-anak
kecil di sekitar rumah, suara piring kaca yang dipukul-pukul dengan sendok
oleh penjual makanan, suara penjual yang meneriakkan jenis dagangannya,
tetangga yang sedang berbicara, suara pepohonan dan atap rumah saat tertiup
angin, suara rintik hujan pada atap rumah, serta suara yang selalu menarik
perhatiannya; suara pesawat terbang yang dapat terdengar beberapa kali dalam
sehari.
Jika dari dalam rumah ia mendengar suara anak-anak yang sedang menangis atau
berteriak, Azka (saat uia 17-18 bulan) segera bilang, "bah... bah... (abang, abang).
" Jika ia mendengar suara cericit burung, gonggongan, kukuruyuk, kwek-kwek, atau meong,
ia akan bilang, "buu cihh..., gukguk, yam, baba, puu (burung cit cit, gukguk,
ayam, bebek, pus)." Jika ia mendengar suatu suara namun belum mengenalnya, ia
akan bilang berulang-ulang, "Hah... mbnii, mbnii...(bunyi... bunyi...),"
dengan ekspresi mimik muka heran-penasaran dan mata yang membulat. Biasanya,
saya memberitahunya nama asal sumber bunyi itu, atau, jika kami dapat
melihatnya, saya akan membawanya untuk melihat sumber bunyi itu.
Lalu, jika ia mendengar suara pesawat terbang, suara paling favorit saat ini,
ia akan menghentikan kegiatannya, melihat ke arah pintu yang sedang terbuka,
menunjuk ke arah pintu bagian atas, dan mengatakan, "papah... papah...
(pesawat, pesawat)," lalu meminta saya membawanya untuk melihat pesawat
tersebut. Jika beruntung, kami dapat melihat dengan cukup jelas pesawat yang
sedang terbang itu dari teras atas atau dari pintu belakang rumah.
Azka juga kerap saya ajak ke kampus seni tari dan musik UNTAN, tempat suami
saya mengajar, sebab di sana ia akan banyak melihat abang dan kakak sedang
latihan musik dan tari. Jika disodorkan sebuah alat musik, ia antusias sekali
dan bisa kusyuk berlama-lama bereksplorasi dengan alat musik itu. Jika ia
dibolehkan bermain di studio musik atau ruang musik tradisi, Azka akan
berkeliling dan "memainkan" satu persatu alat musik yang ada di sana. Ia tahu lho,
mana alat musik yang di pukul pakai tangan, yang harus dipukul pakai alat,
ditiup, ditekan, digesek, serta dipetik. Sejauh ini, cukup banyak alat musik yang
sudah pernah dilihatnya langsung, disentuh, maupun "dimainkan"nya, seperti
gong, kenong, saron, tengga, rebana, marwas, gambus, tamborin, triangle, marakas,
beduk, akordeon, sape, selodang, gitar, keyboard, piano, biola, cello, contra bass,
drum, terompet, flute, serta klarinet.
***
Ada dua prinsip yang saya pegang dalam mengasah kecedasan musikal Azka, yaitu
1) bahwa cara mengasah kecerdasan musikal pada batita tidak hanya terbatas atau
sebatas dengan memperdengarkan musik, mempertontonkan kegiatan orang yang sedang
bermain musik, ataupun pergi ke acara musik. Batita itu lebih suka
"melakukan" ketimbang menonton atau mendengarkan lagu-lagu yang diputar.
Jika ia "melakukan", ia akan terus belajar selama matanya terbuka dan akan
menikmatinya. "Melakukan" berarti ia sendiri yang menciptakan bunyi-bunyian
itu, tidak sebatas menciptakan bunyi-bunyian melalui alat musik, namun benda
apapun bisa menjadi sumber bunyi, termasuk suara dan tubuhnya.
2) Bahwa mengembangkan kecerdasan musikal bukan hanya sekedar agar ia dapat
memainkan alat musik, menyanyi, atau menjadi penikmat musik, akan tetapi
lebih dari itu, yaitu untuk terus mempertajam indra pendengarannya, yang
merupakan salah satu media belajar, juga merupakan salah satu media dalam
berinteraksi dengan orang lain. Melalui pendengaran yang peka dan empati
tentunya, ia akan dapat membaca emosi melalui intonasi suara, suara napas,
apa yang sedang dirasakan oleh seseorang yang mengeluarkan bunyi ketukan jari
berulang-ulang, dan sebagainya.
Salam,
Ananda Putri Bumi
latihan hidup sehari-hari | akhlak | kemandirian | akidah | multiple intelligence | menjadi diri sendiri
Tuesday, February 24, 2015
Tuesday, February 17, 2015
Ummi, Aku Udah Nggak Mau Disuapi Lagi
Kemandirian | Latihan Hidup Sehari-hari
Ada dua metode makan bayi yang saya ketahui saat ini, yaitu metode
spoonfeeding dan baby-led-weaning (blw). Spoonfeeding adalah metode
yang sudah biasa kita temui sehari-hari, yaitu bayi makan dengan cara
disuapi dan porsi makannya ditentukan (biasanya oleh ibu). Pada bulan-
bulan awal, tekstur makanan dibuat berbentuk bubur, tim, lalu setelah
usia bayi kian bertambah, barulah tekstur makanannya pelan-pelan
disamakan dengan orang dewasa.
Sementara, blw adalah metode dimana bayi makan sendiri (tidak disuapi)
sejak pertama kali ia mulai makan; sejak usianya enam bulan. Dalam
metode blw, seberapa banyak makanan yang masuk ke dalam mulutnya, jenis
makanan apa saja yang ingin dimakannya, bayi tersebut yang menentukan
sendiri. Tugas orang tua hanyalah menyodorkan kepada bayi berbagai
pilihan makanan. Oleh karena bayi makan dengan menggunakan tangannya
sendiri, maka tekstur makanan yang dimakannya, agar bisa digenggam,
sifatnya padat atau semi padat dan dipotong atau dibentuk dengan ukuran
yang dapat digenggam bayi (finger food).
Lalu, metode makan apa yang saya terapkan pada Azka? Saya menerapkan
keduanya.
Saat Azka mulai MPASI adalah saat yang saya tunggu-tunggu dengan rasa
bahagia bercampur sedikit kegugupan. Rasanya, kebahagiaan saya tidak
lengkap jika tidak punya pengalaman menyuapinya, terutama di bulan-
bulan awal. Apalagi, pada bulan-bulan pertama mpasi ini, Azka masih
sangat mudah disuapi. Apa pun dan berapa pun makanan yang saya berikan,
ludes, tanpa perlu saya bawa makan sambil jalan-jalan atau saya alihkan
perhatiannya agar mau membuka mulut. Kalaupun tidak habis, itu bersebab
porsi makannya memang sengaja saya buat lebih, untuk berjaga-jaga
kalau-kalau kurang.
Meski demikian, saya juga menyadari, saya pun harus melatihnya untuk
mampu makan sendiri sedini mungkin. Metode blw sangat pas untuk hal
ini. Sehingga, saat usianya enam bulan, meski seharusnya jadwal makan
bayi saat ini baru satu kali, jadwal makan Azka sudah dua kali, sekali
disuapi, dan sekali ia makan sendiri. Saat makan disuapi, tekstur
makanan saya bikin lembek. Namun ketika sesi makan blw, tekstur makanan
sebagaimana asliya.
Pengalaman pertama kali ia mampu menggigit buah pir dengan gusinya dan
lalu mengunyahnya di saat usianya enam bulan adalah pengalaman yang
tidak pernah saya lupakan. Saya deg-degan sekali saat itu sementara
Azka, yang duduknya saja masih harus ditopang bantal di sisi kanan-
kirinya, terlihat sibuk mengulum, mengunyah, dan berusaha menelan buah
yang saya yakin masih berbentuk bongkahan-bongkahan di dalam mulutnya.
Beberapa saat kemudian, barangkali karena tidak dapat ditelan juga,
buah itu dilepehnya.
Saat menerapkan metode inilah saya benar-benar melihat langkah demi
langkah bertambahnya kemampuan Azka makan sendiri -tanpa disuapi. Mulai
dari berusaha mengambil makanan yang berada di tray-nya namun selalu
terlepas lagi -biasanya karena licin atau genggaman yang kurang kuat,
hingga akhirnya, setiap disodorkan makanan, yang dilakukannya adalah
langsung menggigit makanan dari tray dengan mulutnya. Kalau makanan itu
saya sodorkan dengan piring, kadang ia malah menggigit piringnya.
Lalu, mulailah ia mampu menggenggam makanan dan membawanya ke arah
mulut, namun makanan itu selalu jatuh duluan sebelum mampir di
mulutnya. Membuatnya kerap berteriak kesal. Oya, hal ini juga yang
menjadi salah satu sebab saya memutuskan untuk tidak hanya menerapkan
metode blw, akan tetapi juga menyuapinya, sebab ia sudah punya
ketertarikan untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya sejak pertama
kali disodorkan makanan (beberapa bayi blw cenderung mengabaikan
makanan di depannya pada beberapa hari pertama ketika disodorkan
makanan), dan selalu diakhiri dengan tangisan dan teriakan setiap
setelah beberapa kali gagal, meski tetap mencobanya kembali. Ya, saya
memilih menerapkan metode dimana kami sama-sama bahagia saat waktu
makan tiba, bukan sama-sama tertekan.
Selain itu, karena saya juga kepingin menyaksikan dan mengabadikan momen
ini:
Lalu, diusia tujuh bulan, ia sudah bisa makan dengan santai,
menggenggam bongkahan ikan tenggiri dan brokoli kukus dengan tangannya,
membawanya ke mulut, menggigit, mengulum, mengunyah, dan menelannya.
Ya, tentu saja, lengkap dengan remahan makanan disekitar dan sekujur
tubuhnya. Namanya juga bayi. Pada usia ini, saya tunggu ia selesai
makan sendiri terlebih dulu, lalu jika saya melihat Azka sudah memain-
mainkan makanannya, barulah saya suapi.
Di usia tujuh setengah bulan, ia sudah bisa menggenggam makanan lembek
tanpa menghancurkannya, seperti labu kuning kukus. Itu artinya, ia
sudah dapat mengontrol kekuatan genggamannya, menyesuaikan dengan
tekstur makanan yang digenggamnya.
Selanjutnya, di usia delapan bulan, ia sudah bisa mengambil makanan
dengan tiga jari. Tak berapa lama kemudian, pada usia delapan setengah
bulan, ia sudah dapat mengambil memakanan dengan dua jari, seperti
mengambil butiran jagung atau bongkahan kecil nasi.
Perkembangan kemampuan makan sendiri ini berlanjut pada makan memakai
sendok. Dari mampu menggenggam sendok namun belum mampu menyendok
makanan, lalu mampu menyendok makanan namun belum mampu menggerakkan
tangannya untuk membawa makanan ke arah mulut, lalu mampu menggerakkan
tangannya untuk membawa makanan ke arah mulut namun makanan itu selalu
jatuh sebelum sampai ke mulut, hingga akhirnya ia mampu makan dengan
sendok dengan tumpahan makanan yang makin lama makin berkurang. Akan
tetapi, saya perhatikan, ia lebih suka makan dengan memakai tangan. Ia
hanya menggunakan sendok jika makanan itu berkuah atau lembek, padahal
dalam setiap sesi makan, selalu ada sendok di atas piringnya.
Namun, meski saya menerapkan kedua metode tersebut, prinsip blw yang
saya pegang teguh dari sejak awal Azka mpasi yaitu, membiarkannya
menentukan porsi makannya sendiri. Jadi, biar pun disuapi, saat Azka
sudah tidak mau makan, saya pun berhenti menyuapinya, tidak berusaha
mengalihkan perhatiannya agar ia mau membuka mulut.
Selain itu juga, taksetiap sesi makan saya ikut nimbrung menyuapinya.
Malah ia lebih sering saya tinggal karena taksempat mendampinginya
makan; harus mengurusi ini itu. Paling-paling saya temani di awal
makan, lalu sesekali mengecek kalau-kalau ia membutuhkan ini-itu.
Caranya dalam menolak makanan ketika sudah takmau makan lagi pun
berkembang seiring pertambahan usianya. Awalnya, ia melepeh makanan
yang sudah saya suapkan ke dalam mulutnya. Biasanya saya ulang
menyuapinya hingga tiga kali. Jika pada suapan ketiga ia tetap
melepehnya, itu artinya Azka sudah kenyang.
Kemudian, caranya menyatakan sudah takingin makan lagi ber-ubah dengan
mengatupkan mulutnya dan menarik badannya ke belakang untuk menghindari
sendok atau tangan saya yang berisi makanan. Sekarang (sejak usianya
hampir 17 bulan), jika sudah tak mau disuapi lagi, Azka akan
menggelengkan kepalanya dan bilang,"auuu... (nggak mau)."
Suatu kali diusianya yang ke-17 bulan, saat saya suapi
disela-sela kesibukannya mengaduk makanan, ia menggeleng dan bilang,
"auuu...." Saya pikir ia masih belum terlalu lapar dan tidak terlalu
kepingin makan, hanya ingin bermain-main dengan makanannya. Namun
ternyata ia makan sendiri dengan lahapnya. Saya coba suapi lagi, ia
tetap menggeleng, namun masih kusyuk mengunyah dan memilah-milah
makanan di piringnya. Karena penasaran, beberapa saat kemudian, saya
suapi lagi, Azka tetap menggeleng dan sedikit menggeram dengan muka
merengut, seperti kesal. Tapi ia tetap makan sendiri. Pada beberapa
kali sesi makan setelahnya, hal itu tetap terjadi. Tahu lah saya kini
bahwa batita saya yang berusia 17 bulan itu kini sudah tak mau lagi
disuapi.
Sejak saat itu, saya nyaris takpernah menyuapinya lagi. Paling-paling
hanya satu kali seminggu, itu pun hanya dua atau tiga suap, selebihnya
ia makan sendiri. Jika sedang makan nasi, kadang saya masih membantunya
mengepal-ngepalkan nasi dan lauk hingga berbentuk bulatan kecil seperti
kelereng. Azka masih mau menerima bantuan saya selama bulatan nasi itu
saya letakkan di piring atau di tangannya, bukan disuapkan ke mulutnya.
Ya, ini adalah salah satu momen yang saya tunggu-tunggu dan juga salah
satu alasan saya dalam menerapkan kedua metode ini, tidak hanya salah
satu. Selain saya kepingin dia bisa makan sendiri sedini mungkin, saya
juga menunggu momen dimana Azka yang memutuskan sendiri bahwa ia tak
lagi mau disuapi. Diusianya yang ke-17 bulan, saya mendapatkan momen
ini, dan saya menghargai keinginannya untuk mandiri; memilih jenis
makanannya sendiri, menentukan porsi makannya sendiri, dan makan
sendiri.
Salam,
Ananda Putri Bumi
Ada dua metode makan bayi yang saya ketahui saat ini, yaitu metode
spoonfeeding dan baby-led-weaning (blw). Spoonfeeding adalah metode
yang sudah biasa kita temui sehari-hari, yaitu bayi makan dengan cara
disuapi dan porsi makannya ditentukan (biasanya oleh ibu). Pada bulan-
bulan awal, tekstur makanan dibuat berbentuk bubur, tim, lalu setelah
usia bayi kian bertambah, barulah tekstur makanannya pelan-pelan
disamakan dengan orang dewasa.
Sementara, blw adalah metode dimana bayi makan sendiri (tidak disuapi)
sejak pertama kali ia mulai makan; sejak usianya enam bulan. Dalam
metode blw, seberapa banyak makanan yang masuk ke dalam mulutnya, jenis
makanan apa saja yang ingin dimakannya, bayi tersebut yang menentukan
sendiri. Tugas orang tua hanyalah menyodorkan kepada bayi berbagai
pilihan makanan. Oleh karena bayi makan dengan menggunakan tangannya
sendiri, maka tekstur makanan yang dimakannya, agar bisa digenggam,
sifatnya padat atau semi padat dan dipotong atau dibentuk dengan ukuran
yang dapat digenggam bayi (finger food).
Lalu, metode makan apa yang saya terapkan pada Azka? Saya menerapkan
keduanya.
Saat Azka mulai MPASI adalah saat yang saya tunggu-tunggu dengan rasa
bahagia bercampur sedikit kegugupan. Rasanya, kebahagiaan saya tidak
lengkap jika tidak punya pengalaman menyuapinya, terutama di bulan-
bulan awal. Apalagi, pada bulan-bulan pertama mpasi ini, Azka masih
sangat mudah disuapi. Apa pun dan berapa pun makanan yang saya berikan,
ludes, tanpa perlu saya bawa makan sambil jalan-jalan atau saya alihkan
perhatiannya agar mau membuka mulut. Kalaupun tidak habis, itu bersebab
porsi makannya memang sengaja saya buat lebih, untuk berjaga-jaga
kalau-kalau kurang.
Meski demikian, saya juga menyadari, saya pun harus melatihnya untuk
mampu makan sendiri sedini mungkin. Metode blw sangat pas untuk hal
ini. Sehingga, saat usianya enam bulan, meski seharusnya jadwal makan
bayi saat ini baru satu kali, jadwal makan Azka sudah dua kali, sekali
disuapi, dan sekali ia makan sendiri. Saat makan disuapi, tekstur
makanan saya bikin lembek. Namun ketika sesi makan blw, tekstur makanan
sebagaimana asliya.
Pengalaman pertama kali ia mampu menggigit buah pir dengan gusinya dan
lalu mengunyahnya di saat usianya enam bulan adalah pengalaman yang
tidak pernah saya lupakan. Saya deg-degan sekali saat itu sementara
Azka, yang duduknya saja masih harus ditopang bantal di sisi kanan-
kirinya, terlihat sibuk mengulum, mengunyah, dan berusaha menelan buah
yang saya yakin masih berbentuk bongkahan-bongkahan di dalam mulutnya.
Beberapa saat kemudian, barangkali karena tidak dapat ditelan juga,
buah itu dilepehnya.
Saat menerapkan metode inilah saya benar-benar melihat langkah demi
langkah bertambahnya kemampuan Azka makan sendiri -tanpa disuapi. Mulai
dari berusaha mengambil makanan yang berada di tray-nya namun selalu
terlepas lagi -biasanya karena licin atau genggaman yang kurang kuat,
hingga akhirnya, setiap disodorkan makanan, yang dilakukannya adalah
langsung menggigit makanan dari tray dengan mulutnya. Kalau makanan itu
saya sodorkan dengan piring, kadang ia malah menggigit piringnya.
Lalu, mulailah ia mampu menggenggam makanan dan membawanya ke arah
mulut, namun makanan itu selalu jatuh duluan sebelum mampir di
mulutnya. Membuatnya kerap berteriak kesal. Oya, hal ini juga yang
menjadi salah satu sebab saya memutuskan untuk tidak hanya menerapkan
metode blw, akan tetapi juga menyuapinya, sebab ia sudah punya
ketertarikan untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya sejak pertama
kali disodorkan makanan (beberapa bayi blw cenderung mengabaikan
makanan di depannya pada beberapa hari pertama ketika disodorkan
makanan), dan selalu diakhiri dengan tangisan dan teriakan setiap
setelah beberapa kali gagal, meski tetap mencobanya kembali. Ya, saya
memilih menerapkan metode dimana kami sama-sama bahagia saat waktu
makan tiba, bukan sama-sama tertekan.
Selain itu, karena saya juga kepingin menyaksikan dan mengabadikan momen
ini:
Lalu, diusia tujuh bulan, ia sudah bisa makan dengan santai,
menggenggam bongkahan ikan tenggiri dan brokoli kukus dengan tangannya,
membawanya ke mulut, menggigit, mengulum, mengunyah, dan menelannya.
Ya, tentu saja, lengkap dengan remahan makanan disekitar dan sekujur
tubuhnya. Namanya juga bayi. Pada usia ini, saya tunggu ia selesai
makan sendiri terlebih dulu, lalu jika saya melihat Azka sudah memain-
mainkan makanannya, barulah saya suapi.
Di usia tujuh setengah bulan, ia sudah bisa menggenggam makanan lembek
tanpa menghancurkannya, seperti labu kuning kukus. Itu artinya, ia
sudah dapat mengontrol kekuatan genggamannya, menyesuaikan dengan
tekstur makanan yang digenggamnya.
Selanjutnya, di usia delapan bulan, ia sudah bisa mengambil makanan
dengan tiga jari. Tak berapa lama kemudian, pada usia delapan setengah
bulan, ia sudah dapat mengambil memakanan dengan dua jari, seperti
mengambil butiran jagung atau bongkahan kecil nasi.
Perkembangan kemampuan makan sendiri ini berlanjut pada makan memakai
sendok. Dari mampu menggenggam sendok namun belum mampu menyendok
makanan, lalu mampu menyendok makanan namun belum mampu menggerakkan
tangannya untuk membawa makanan ke arah mulut, lalu mampu menggerakkan
tangannya untuk membawa makanan ke arah mulut namun makanan itu selalu
jatuh sebelum sampai ke mulut, hingga akhirnya ia mampu makan dengan
sendok dengan tumpahan makanan yang makin lama makin berkurang. Akan
tetapi, saya perhatikan, ia lebih suka makan dengan memakai tangan. Ia
hanya menggunakan sendok jika makanan itu berkuah atau lembek, padahal
dalam setiap sesi makan, selalu ada sendok di atas piringnya.
Namun, meski saya menerapkan kedua metode tersebut, prinsip blw yang
saya pegang teguh dari sejak awal Azka mpasi yaitu, membiarkannya
menentukan porsi makannya sendiri. Jadi, biar pun disuapi, saat Azka
sudah tidak mau makan, saya pun berhenti menyuapinya, tidak berusaha
mengalihkan perhatiannya agar ia mau membuka mulut.
Selain itu juga, taksetiap sesi makan saya ikut nimbrung menyuapinya.
Malah ia lebih sering saya tinggal karena taksempat mendampinginya
makan; harus mengurusi ini itu. Paling-paling saya temani di awal
makan, lalu sesekali mengecek kalau-kalau ia membutuhkan ini-itu.
Caranya dalam menolak makanan ketika sudah takmau makan lagi pun
berkembang seiring pertambahan usianya. Awalnya, ia melepeh makanan
yang sudah saya suapkan ke dalam mulutnya. Biasanya saya ulang
menyuapinya hingga tiga kali. Jika pada suapan ketiga ia tetap
melepehnya, itu artinya Azka sudah kenyang.
Kemudian, caranya menyatakan sudah takingin makan lagi ber-ubah dengan
mengatupkan mulutnya dan menarik badannya ke belakang untuk menghindari
sendok atau tangan saya yang berisi makanan. Sekarang (sejak usianya
hampir 17 bulan), jika sudah tak mau disuapi lagi, Azka akan
menggelengkan kepalanya dan bilang,"auuu... (nggak mau)."
Suatu kali diusianya yang ke-17 bulan, saat saya suapi
disela-sela kesibukannya mengaduk makanan, ia menggeleng dan bilang,
"auuu...." Saya pikir ia masih belum terlalu lapar dan tidak terlalu
kepingin makan, hanya ingin bermain-main dengan makanannya. Namun
ternyata ia makan sendiri dengan lahapnya. Saya coba suapi lagi, ia
tetap menggeleng, namun masih kusyuk mengunyah dan memilah-milah
makanan di piringnya. Karena penasaran, beberapa saat kemudian, saya
suapi lagi, Azka tetap menggeleng dan sedikit menggeram dengan muka
merengut, seperti kesal. Tapi ia tetap makan sendiri. Pada beberapa
kali sesi makan setelahnya, hal itu tetap terjadi. Tahu lah saya kini
bahwa batita saya yang berusia 17 bulan itu kini sudah tak mau lagi
disuapi.
Sejak saat itu, saya nyaris takpernah menyuapinya lagi. Paling-paling
hanya satu kali seminggu, itu pun hanya dua atau tiga suap, selebihnya
ia makan sendiri. Jika sedang makan nasi, kadang saya masih membantunya
mengepal-ngepalkan nasi dan lauk hingga berbentuk bulatan kecil seperti
kelereng. Azka masih mau menerima bantuan saya selama bulatan nasi itu
saya letakkan di piring atau di tangannya, bukan disuapkan ke mulutnya.
Ya, ini adalah salah satu momen yang saya tunggu-tunggu dan juga salah
satu alasan saya dalam menerapkan kedua metode ini, tidak hanya salah
satu. Selain saya kepingin dia bisa makan sendiri sedini mungkin, saya
juga menunggu momen dimana Azka yang memutuskan sendiri bahwa ia tak
lagi mau disuapi. Diusianya yang ke-17 bulan, saya mendapatkan momen
ini, dan saya menghargai keinginannya untuk mandiri; memilih jenis
makanannya sendiri, menentukan porsi makannya sendiri, dan makan
sendiri.
Salam,
Ananda Putri Bumi
Tuesday, February 10, 2015
(Tidak Hanya) Membuang Sampah Pada Tempatnya
Latihan Hidup Sehari-hari | Akhlak | Multiple Intelligence | Kecerdasan Naturalis
Suatu hari, Azka (saat itu usianya 17 bulan) merajuk minta dibukakan kulkas. Ia kepingin ngemil dan ingin memilih sendiri cemilannya. Setelah menunjuk ini itu yang diinginkannya sambil minta izin saya, pilihan cemilan sore menjelang malam hari ini pun jatuh pada se-cup yoghurt, cemilan yang disukai Azka dan juga saya izinkan. Seperti biasa, jika sudah makan yoghurt, ia akan makan dengan tenang. Kali ini saya dudukkan ia di lantai, bukan di high chair, sebab high chair sebentar lagi akan dipakai untuk makan malam (dan saya malas untuk membersihkannya kembali).
Saya temani ia sebentar, lalu saya tinggal untuk membereskan ini-itu. Beberapa saat kemudian saya mendengar bunyi plastik kresek. Bersebab penasaran dengan apa yang sedang lakukannya, saya mengecek dari kejauhan dan melihatnya sedang memegang plastik kresek kecil yang sebelumnya saya jadikan tempat sampah untuk mengumpulkan remah-remah makanan dan tisu kotor. Saya lupa, plastik itu masih saya taruh di kursi makan -belum saya buang- tempat yang bisa dijangkau Azka. Refleks benak saya berucap, "Haduhhh... eksplorasi apa lagi yang akan dilakukannya dengan plastik dan sampah-sampah itu." Tapi ya sudah lah, selama ia tidak menyentuh hal yang berbahaya saat saya tinggal sebentar, saya biarkan saja. Nanti tinggal dibersihkan.
Tak berapa lama, Azka menghampiri saya dan berkata, "Paah, paah..," sambil menunjuk ke arah di mana ia tadi memegang plastik tersebut. "Iya, itu sampah," sahut saya sambil tetap beraktivitas dan tidak menengok pada apa yang sedang ditunjuknya. Azka sudah cukup bisa membedakan benda-benda yang merupakan sampah dan bukan sampah. Jadi dugaan saya saat itu, ia sedang mengucapkan apa yang sebelumnya dilihat atau ditemukannya. "Paah, paah..." ulangnya lagi sambil tetap menunjuk.
Saya pun menghentikan kegiatan saya dan menoleh ke arah telunjuknya menunjuk. Apa yang saya lihat membuat saya takjub. Ada cup yoghurt yang telah kosong berada dalam plastik itu. Jadi, saat itu ia sedang memberi tahu saya, "Umi, aku udah buang sampah bekas yoghurt di tempat sampah." Saya pun lalu memberikan apresiasi untuk memperkuat perilakunya.
***
Dari usia Azka sekitar sembilan bulan, saya memang sering berceloteh tentang sampah. Biasanya itu terjadi ketika Azka menemukan benda-benda di lantai dan akan memasukkannya ke dalam mulut. Saya bilang, "Itu bukan makanan, itu sampah, sampah adalah bla... bla... bla..., sampah harus dibuang ke tempatnya..., dan seterusnya."
Di usianya ini juga, ia mulai sering mencontoh saya mengelap noda di lantai dengan tisu atau kain. Meski, seringnya, yang ditirunya adalah gerakan mengelapnya, tidak benar-benar sedang ada noda di lantai. Kegiatan mengelapnya ini pun meluas, dari mengelap lantai, hingga mengelap dinding, lemari, kasur, serta benda apapun yang ditemuinya.
Kemudian, ketika usianya sekitar 15 bulan, ia sering mencontoh saya memasukkan benda-benda ke tempat sampah. Saya katakan padanya, "ini tempat sampah, sampah adalah bla... bla... bla..." Awalnya, semua benda yang ditemukannya -meski bukan sampah- dimasukkannya begitu saja. Kemudian saya pilah-pilah. Jika yang dimasukkannya bukan sampah, saya akan bilang, "ini bukan sampah, yang dimasukkan ke sini hanya sampah saja, sampah itu artinya bla... bla... bla..., nah kalau yang ini sampah..."
Setelah ia cukup bisa membedakan sampah dan bukan sampah, kegiatan menemukan dan membuang sampah adalah salah satu kegiatan yang disenanginya. Barangkali salah satu penyebabnya, ia sering melihat saya menyapu, mengepel, mengelap lantai yang kotor, lalu memunguti remahan-remahan -apapun itu- yang berserakan di lantai dan memasukkannya ke sebuah tempat. Maka, jika ada sesuatu yang tergeletak di lantai, ia akan menunjuk atau mengambil, lalu berkata, "Paah..." Saya lalu memintanya untuk membuang sendiri ke tempat sampah. Demikian juga ketika ia selesai makan, beberapa benda yang dianggapnya sampah -tisu kotor, hasil kunyahan yang taktertelan, makanan yang jatuh- akan diperlihatkannya pada saya seraya berkata, "Paah..."
Saya juga kerap meminta tolong Azka untuk membuang sampah, baik ketika sedang berada di rumah ataupun di luar rumah. Botol bekas minuman, misalnya, setelah isinya saya habiskan, saya minta tolong Azka untuk membuangnya ke tempat sampah. Dengan senang hati ia melakukannya.
Kembali ke cerita tentang sampah cup yoghurt tadi, jika biasanya, saat menemukan sampah, terlebih dulu ia memperlihatkannya pada saya seraya bilang "Paah..." (seakan meminta penegasan atau persetujuan saya bahwa itu memang sampah) lalu kemudian saya mengarahkan untuk membuangnya ke tempat sampah, namun kali ini ia berinisiatif membuangnya ke tempat sampah terlebih dulu, baru mengabarkannya pada saya. Ini adalah sebuah momen yang membikin saya takjub dan terharu biru.
***
Saat ini, kegiatan membuang sampah adalah kegiatan yang setiap hari dilakukan Azka. Saya selalu berusaha untuk tidak lupa sehingga ada satu hari di mana kegiatan ini luput dikerjakan. Azka pun juga adalah pengingat saya. Ia peka sekali dengan benda yang disebut sampah ini. Jika sedang berada di luar, ia akan terus menunjuk sampah-sampah yang tergeletak di jalan lalu berkata, "paahh..., paahh..." Azka juga sudah cukup bisa membedakan benda-benda yang dikategorikan sampah dan bukan sampah. Jika saya letakkan sampah di atas piring, lalu piring itu saya berikan pada Azka dan memintanya membuang ke tempat sampah, Azka hanya membuang sampahnya dan tidak membuang piringnya. Setiap ada jenis dan bentuk sampah baru, saya kenalkan padanya agar ia makin mampu membedakan.
Saya memahami bahwa kegiatan tertib sampah ini bukan hanya sekadar membuang sampah pada tempatnya, akan tetapi jauh lebih dalam lagi seperti mengelompokkan sampah sesuai jenisnya, meminimalisasi penggunaan plastik, mengurangi jumlah produksi sampah (rumah tangga), serta mendaur ulang sampah. Kegiatan tertib sampah saya baru sebatas membuang sampah pada tempatnya, mengelompokkan sampah sesuai jenisnya, membawa tas sendiri setiap berbelanja (kadang-kadang pun masih lupa), membuka bungkus plastik dengan rapi agar dapat didaur ulang.
Khusus yang terakhir ini, sekitar tahun 2008, saya pernah mengikuti pelatihan membuat tas, tempat pinsil, dan semacamnya dari bungkus plastik bekas. Namun syaratnya, bungkus itu baru bisa didaur ulang selama masih dalam keadaan rapi, tidak koyak di sana-sini. Sejak saat itu, jika membuka makanan atau minuman yang berbungkus plastik, saya buka dengan rapi dengan menggunting tepian atasnya dari ujung ke ujung, agar bisa didaur ulang oleh orang-orang yang menemukannya. Hal itu selalu saya perlihatkan pada Azka.
Rencana saya, ke depannya, pembahasan sampah dan praktek mendaur ulang sampah akan terus menjadi salah satu materi homeschooling kami. Bukan hanya materi satu kali pembahasan yang hanya menyentuh aspek kognitif lalu setelah itu selesai, tentu saja, akan tetapi materi yang sifatnya berkesinambungan antara terus mencari informasi tentang cara-cara terbaru dalam menangani sampah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, untuk menangani sampah plastik bekas serbuk minuman, kami akan mengguntingnya dengan rapi lalu menyimpannya, kemudian setelah jumlahnya cukup, kami jadikan sebagai bahan untuk membuat benda-benda lain seperti dompet, tempat hp, dan sebagainya. Suatu saat, siapa tahu kami bisa bikin museum khusus memajang benda-benda berbahan plastik bekas buatan kami.
Tentu, saya juga harus terus memperbaiki perilaku saya dalam tertib sampah agar dicontoh oleh anak saya. Anak adalah peniru ulung, bukan. Saya menyadari, kepekaan terhadap sampah dan perilaku tertib sampah adalah bagian dari akhlak, perilaku untuk menjaga bumi milik-Nya dari kerusakan. Ada banyak sekali ayat dalam Al-Qur'an yang yang memperingatkan kita untuk memelihara bumi beserta isinya. Tertib sampah adalah salah satu perilaku yang dapat menjaga bumi-Nya dari kerusakan. Bersebab itu, wajib untuk diajarkan pada anak-anak kita. Sudah takterhitung bencana yang datang akibat sampah-sampah yang menggunung.
Salam,
Ananda Putri Bumi
Suatu hari, Azka (saat itu usianya 17 bulan) merajuk minta dibukakan kulkas. Ia kepingin ngemil dan ingin memilih sendiri cemilannya. Setelah menunjuk ini itu yang diinginkannya sambil minta izin saya, pilihan cemilan sore menjelang malam hari ini pun jatuh pada se-cup yoghurt, cemilan yang disukai Azka dan juga saya izinkan. Seperti biasa, jika sudah makan yoghurt, ia akan makan dengan tenang. Kali ini saya dudukkan ia di lantai, bukan di high chair, sebab high chair sebentar lagi akan dipakai untuk makan malam (dan saya malas untuk membersihkannya kembali).
Saya temani ia sebentar, lalu saya tinggal untuk membereskan ini-itu. Beberapa saat kemudian saya mendengar bunyi plastik kresek. Bersebab penasaran dengan apa yang sedang lakukannya, saya mengecek dari kejauhan dan melihatnya sedang memegang plastik kresek kecil yang sebelumnya saya jadikan tempat sampah untuk mengumpulkan remah-remah makanan dan tisu kotor. Saya lupa, plastik itu masih saya taruh di kursi makan -belum saya buang- tempat yang bisa dijangkau Azka. Refleks benak saya berucap, "Haduhhh... eksplorasi apa lagi yang akan dilakukannya dengan plastik dan sampah-sampah itu." Tapi ya sudah lah, selama ia tidak menyentuh hal yang berbahaya saat saya tinggal sebentar, saya biarkan saja. Nanti tinggal dibersihkan.
Tak berapa lama, Azka menghampiri saya dan berkata, "Paah, paah..," sambil menunjuk ke arah di mana ia tadi memegang plastik tersebut. "Iya, itu sampah," sahut saya sambil tetap beraktivitas dan tidak menengok pada apa yang sedang ditunjuknya. Azka sudah cukup bisa membedakan benda-benda yang merupakan sampah dan bukan sampah. Jadi dugaan saya saat itu, ia sedang mengucapkan apa yang sebelumnya dilihat atau ditemukannya. "Paah, paah..." ulangnya lagi sambil tetap menunjuk.
Saya pun menghentikan kegiatan saya dan menoleh ke arah telunjuknya menunjuk. Apa yang saya lihat membuat saya takjub. Ada cup yoghurt yang telah kosong berada dalam plastik itu. Jadi, saat itu ia sedang memberi tahu saya, "Umi, aku udah buang sampah bekas yoghurt di tempat sampah." Saya pun lalu memberikan apresiasi untuk memperkuat perilakunya.
***
Dari usia Azka sekitar sembilan bulan, saya memang sering berceloteh tentang sampah. Biasanya itu terjadi ketika Azka menemukan benda-benda di lantai dan akan memasukkannya ke dalam mulut. Saya bilang, "Itu bukan makanan, itu sampah, sampah adalah bla... bla... bla..., sampah harus dibuang ke tempatnya..., dan seterusnya."
Di usianya ini juga, ia mulai sering mencontoh saya mengelap noda di lantai dengan tisu atau kain. Meski, seringnya, yang ditirunya adalah gerakan mengelapnya, tidak benar-benar sedang ada noda di lantai. Kegiatan mengelapnya ini pun meluas, dari mengelap lantai, hingga mengelap dinding, lemari, kasur, serta benda apapun yang ditemuinya.
Kemudian, ketika usianya sekitar 15 bulan, ia sering mencontoh saya memasukkan benda-benda ke tempat sampah. Saya katakan padanya, "ini tempat sampah, sampah adalah bla... bla... bla..." Awalnya, semua benda yang ditemukannya -meski bukan sampah- dimasukkannya begitu saja. Kemudian saya pilah-pilah. Jika yang dimasukkannya bukan sampah, saya akan bilang, "ini bukan sampah, yang dimasukkan ke sini hanya sampah saja, sampah itu artinya bla... bla... bla..., nah kalau yang ini sampah..."
Setelah ia cukup bisa membedakan sampah dan bukan sampah, kegiatan menemukan dan membuang sampah adalah salah satu kegiatan yang disenanginya. Barangkali salah satu penyebabnya, ia sering melihat saya menyapu, mengepel, mengelap lantai yang kotor, lalu memunguti remahan-remahan -apapun itu- yang berserakan di lantai dan memasukkannya ke sebuah tempat. Maka, jika ada sesuatu yang tergeletak di lantai, ia akan menunjuk atau mengambil, lalu berkata, "Paah..." Saya lalu memintanya untuk membuang sendiri ke tempat sampah. Demikian juga ketika ia selesai makan, beberapa benda yang dianggapnya sampah -tisu kotor, hasil kunyahan yang taktertelan, makanan yang jatuh- akan diperlihatkannya pada saya seraya berkata, "Paah..."
Saya juga kerap meminta tolong Azka untuk membuang sampah, baik ketika sedang berada di rumah ataupun di luar rumah. Botol bekas minuman, misalnya, setelah isinya saya habiskan, saya minta tolong Azka untuk membuangnya ke tempat sampah. Dengan senang hati ia melakukannya.
Kembali ke cerita tentang sampah cup yoghurt tadi, jika biasanya, saat menemukan sampah, terlebih dulu ia memperlihatkannya pada saya seraya bilang "Paah..." (seakan meminta penegasan atau persetujuan saya bahwa itu memang sampah) lalu kemudian saya mengarahkan untuk membuangnya ke tempat sampah, namun kali ini ia berinisiatif membuangnya ke tempat sampah terlebih dulu, baru mengabarkannya pada saya. Ini adalah sebuah momen yang membikin saya takjub dan terharu biru.
***
Saat ini, kegiatan membuang sampah adalah kegiatan yang setiap hari dilakukan Azka. Saya selalu berusaha untuk tidak lupa sehingga ada satu hari di mana kegiatan ini luput dikerjakan. Azka pun juga adalah pengingat saya. Ia peka sekali dengan benda yang disebut sampah ini. Jika sedang berada di luar, ia akan terus menunjuk sampah-sampah yang tergeletak di jalan lalu berkata, "paahh..., paahh..." Azka juga sudah cukup bisa membedakan benda-benda yang dikategorikan sampah dan bukan sampah. Jika saya letakkan sampah di atas piring, lalu piring itu saya berikan pada Azka dan memintanya membuang ke tempat sampah, Azka hanya membuang sampahnya dan tidak membuang piringnya. Setiap ada jenis dan bentuk sampah baru, saya kenalkan padanya agar ia makin mampu membedakan.
Saya memahami bahwa kegiatan tertib sampah ini bukan hanya sekadar membuang sampah pada tempatnya, akan tetapi jauh lebih dalam lagi seperti mengelompokkan sampah sesuai jenisnya, meminimalisasi penggunaan plastik, mengurangi jumlah produksi sampah (rumah tangga), serta mendaur ulang sampah. Kegiatan tertib sampah saya baru sebatas membuang sampah pada tempatnya, mengelompokkan sampah sesuai jenisnya, membawa tas sendiri setiap berbelanja (kadang-kadang pun masih lupa), membuka bungkus plastik dengan rapi agar dapat didaur ulang.
Khusus yang terakhir ini, sekitar tahun 2008, saya pernah mengikuti pelatihan membuat tas, tempat pinsil, dan semacamnya dari bungkus plastik bekas. Namun syaratnya, bungkus itu baru bisa didaur ulang selama masih dalam keadaan rapi, tidak koyak di sana-sini. Sejak saat itu, jika membuka makanan atau minuman yang berbungkus plastik, saya buka dengan rapi dengan menggunting tepian atasnya dari ujung ke ujung, agar bisa didaur ulang oleh orang-orang yang menemukannya. Hal itu selalu saya perlihatkan pada Azka.
Rencana saya, ke depannya, pembahasan sampah dan praktek mendaur ulang sampah akan terus menjadi salah satu materi homeschooling kami. Bukan hanya materi satu kali pembahasan yang hanya menyentuh aspek kognitif lalu setelah itu selesai, tentu saja, akan tetapi materi yang sifatnya berkesinambungan antara terus mencari informasi tentang cara-cara terbaru dalam menangani sampah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, untuk menangani sampah plastik bekas serbuk minuman, kami akan mengguntingnya dengan rapi lalu menyimpannya, kemudian setelah jumlahnya cukup, kami jadikan sebagai bahan untuk membuat benda-benda lain seperti dompet, tempat hp, dan sebagainya. Suatu saat, siapa tahu kami bisa bikin museum khusus memajang benda-benda berbahan plastik bekas buatan kami.
Tentu, saya juga harus terus memperbaiki perilaku saya dalam tertib sampah agar dicontoh oleh anak saya. Anak adalah peniru ulung, bukan. Saya menyadari, kepekaan terhadap sampah dan perilaku tertib sampah adalah bagian dari akhlak, perilaku untuk menjaga bumi milik-Nya dari kerusakan. Ada banyak sekali ayat dalam Al-Qur'an yang yang memperingatkan kita untuk memelihara bumi beserta isinya. Tertib sampah adalah salah satu perilaku yang dapat menjaga bumi-Nya dari kerusakan. Bersebab itu, wajib untuk diajarkan pada anak-anak kita. Sudah takterhitung bencana yang datang akibat sampah-sampah yang menggunung.
Salam,
Ananda Putri Bumi
Tuesday, February 3, 2015
Bermain Air
Kemandirian | Latihan Hidup Sehari-hari | Multiple Intelligence | Kecerdasan Kinestetik
Biasanya, setiap saya sedang melakukan pekerjaan rumah tangga, Azka saya bolehkan berpartisipasi -kamu tahu, anak-anak adalah manusia yang paling tulus, selalu ingin membantu, kecuali untuk beberapa pekerjaan yang belum memungkinkan saya untuk mengikutsertakannya seperti mencuci piring dan menyetrika.
Jika tidak membutuhkan waktu terlalu lama menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan itu, Azka saya minta menunggu -kalau ia sudah bosan bermain sendiri. Lalu, ia akan berdiri didekat saya, memperhatikan apa-apa yang saya lakukan, sesekali berjoget jika pekerjaan saya menciptakan bunyi-bunyian teratur yang dianggapnya musik, atau mengajak saya ngobrol; ia menyebut berulang-ulang nama-nama benda yang sedang saya pegang lalu meminta saya untuk juga menyebutkannya.
Namun, jika saya membutuhkan waktu lama untuk meyelesaikan segala pekerjaan itu, biasanya saya menyibukkannya dengan kegiatan yang takpernah bosan ia lakukan; bermain air.
Saya dudukkan Azka di high chair dan saya beri ia sedikit air (layak minum) di dalam cangkir. Juga, saya sediakan sendok dan mangkok. Ia pun akan sibuk menuang air dari cangkir ke dalam mangkok, lalu menuangnya kembali ke dalam cangkir, menuangnya lagi ke dalam mangkok, begitu seterusnya. Kadang-kadang ia menyendok air dari cangkir, mangkok, atau tray lalu menyeruputnya dari sendok. Kadang-kadang Azka mengaduk-aduk air dengan sendok seperti yang biasa ia melihat saya mengaduk minuman. Kadang ia juga menyeruput air langsung dari cangkir atau mangkok. Tak ketinggalan, ia juga memukul-mukul air yang tumpah di tray-nya sehingga cipratan air mengenai mukanya, lalu tertawa senang.
Sering juga, sambil bermain ia berceloteh sendiri (bahasa Azka saat usia 18 bulan); ain (air), ninom (minum), ce cum (sendok), cah cii (cangkir), kokou (mangkok), kmpaa (tumpah), caa ah (basah), ninin (dingin), kmja (jatuh: ketika peralatannya ada yang jatuh atau sengaja dijatuhkan), baa ah (tambah).
Kalau airnya sudah habis, Azka akan berulang-ulang bilang "tambah". Jika saya tidak langsung datang, ia menunggu sambil berdiri di high chair, duduk di tray, atau berusaha menjangkau benda-benda yang ada di meja makan.
Balita mana yang tidak senang main air. Saya lebih memilih menyibukkannya dengan air ketimbang menyibukkannya dengan tontonan, walaupun tontonannya sesuai usia dan diklaim sebagai tontonan yang mendidik, sebab saat ini perkembangan kemampuan berbicara dan berbahasanya sedang berlangsung pesat. Setiap saat ia mengulang kosa kata yang sudah diketahuinya, juga setiap saat kosa katanya dapat bertambah. Saya mengamati, pertambahan kosa kata pada bayi sangat tergantung dari intensitas eksplorasinya terhadap hal-hal baru yang ditemuinya di lingkungan. Saat ini kosa kata yang diketahui Azka juga sudah lumayan banyak. Mendudukkannya di depan televisi selama beberapa jam setiap hari, bagi saya, itu berarti mengurangi waktunya untuk eksplorasi lingkungan, latihan berbicara, dan menambah kosa kata. Selain itu, mendudukkannya di depan televisi selama beberapa jam setiap hari juga akan mengurangi waktunya untuk mengembangkan kemampuan motoriknya. Meski -jujur saja, menyibukkannya dengan bermain air, lebih repot. Setelahnya, saya harus mengepel lantai, mengeringkan high chair-nya, lalu mengganti baju dan popoknya.
Akan tetapi, saya merasakan, banyak pembelajaran yang didapatkan Azka dari bermain air. Tiba-tiba saja pada suatu waktu, saya melihatnya (saat itu berusia 16 bulan) minum langsung dari cangkir dengan santainya, seperti orang dewasa minum dari gelas (itu tanda otot-otot yang berhubungan dengan kegiatan minum sudah berkembang). Bedanya, ia masih memegang cangkir dengan kedua tangannya. Padahal selama ini Azka masih minum dengan sedotan. Lalu, kemampuannya makan sendiri dengan sendok juga makin stabil, salah satunya karena sering menyendok dan menyeruput air dari sendok.
Kadang-kadang, ketika ia meminta bermain air, entah itu pada sesi setelah makan atau pada saat ia sudah bosan berjalan ke sana ke mari, ada rasa malas untuk mengizinkannya, sebab sudah terbayang duluan acara repot-repot setelahnya. Namun ingatan tentang kemampuannya menyediakan minum untuk dirinya sendiri (menuang, menyendok, mengaduk) atau bahkan membikinkan saya atau abinya minuman akan dapat berkembang sedini mungkin dengan latihan-latihan itu -sehingga tugas saya membikinkan minuman sudah bisa diambil alih olehnya (hohohoo...), cukup mampu menguatkan mental saya, lalu mengizinkannya. Kecuali bila di malam hari, di atas pukul sembilan malam ia masih meminta bermain air, saya sudah tidak izinkan, sebab saya juga menerapkan aturan bebas yang berbatas (yang nanti juga akan saya bahas dalam tulisan lain).
Sejak usianya hampir memasuki 19 bulan, kegiatan bermain air Azka tidak lagi hanya sebatas di high chair, akan tetapi juga di kamar mandi ketika saya sedang mencuci bajunya (khusus baju Azka saya cuci manual). Setiap saya mencuci, ia pasti ikut serta; juga ikut menyikat baju, membilas, serta memeras. Jika ia sudah bosan ikut-ikutan kegiatan mencuci, ia akan bikin aktivitas sendiri; menyiduk air dari bak lalu menumpahkannya ke ember, memindahkan air dari ember ke ember, mengelap dinding kamar mandi dengan baju yang sudah saya cuci, menyikat lantai kamar mandi, dan lainnya.
Salam,
Ananda Putri Bumi
Biasanya, setiap saya sedang melakukan pekerjaan rumah tangga, Azka saya bolehkan berpartisipasi -kamu tahu, anak-anak adalah manusia yang paling tulus, selalu ingin membantu, kecuali untuk beberapa pekerjaan yang belum memungkinkan saya untuk mengikutsertakannya seperti mencuci piring dan menyetrika.
Jika tidak membutuhkan waktu terlalu lama menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan itu, Azka saya minta menunggu -kalau ia sudah bosan bermain sendiri. Lalu, ia akan berdiri didekat saya, memperhatikan apa-apa yang saya lakukan, sesekali berjoget jika pekerjaan saya menciptakan bunyi-bunyian teratur yang dianggapnya musik, atau mengajak saya ngobrol; ia menyebut berulang-ulang nama-nama benda yang sedang saya pegang lalu meminta saya untuk juga menyebutkannya.
Namun, jika saya membutuhkan waktu lama untuk meyelesaikan segala pekerjaan itu, biasanya saya menyibukkannya dengan kegiatan yang takpernah bosan ia lakukan; bermain air.
Saya dudukkan Azka di high chair dan saya beri ia sedikit air (layak minum) di dalam cangkir. Juga, saya sediakan sendok dan mangkok. Ia pun akan sibuk menuang air dari cangkir ke dalam mangkok, lalu menuangnya kembali ke dalam cangkir, menuangnya lagi ke dalam mangkok, begitu seterusnya. Kadang-kadang ia menyendok air dari cangkir, mangkok, atau tray lalu menyeruputnya dari sendok. Kadang-kadang Azka mengaduk-aduk air dengan sendok seperti yang biasa ia melihat saya mengaduk minuman. Kadang ia juga menyeruput air langsung dari cangkir atau mangkok. Tak ketinggalan, ia juga memukul-mukul air yang tumpah di tray-nya sehingga cipratan air mengenai mukanya, lalu tertawa senang.
Sering juga, sambil bermain ia berceloteh sendiri (bahasa Azka saat usia 18 bulan); ain (air), ninom (minum), ce cum (sendok), cah cii (cangkir), kokou (mangkok), kmpaa (tumpah), caa ah (basah), ninin (dingin), kmja (jatuh: ketika peralatannya ada yang jatuh atau sengaja dijatuhkan), baa ah (tambah).
Kalau airnya sudah habis, Azka akan berulang-ulang bilang "tambah". Jika saya tidak langsung datang, ia menunggu sambil berdiri di high chair, duduk di tray, atau berusaha menjangkau benda-benda yang ada di meja makan.
Balita mana yang tidak senang main air. Saya lebih memilih menyibukkannya dengan air ketimbang menyibukkannya dengan tontonan, walaupun tontonannya sesuai usia dan diklaim sebagai tontonan yang mendidik, sebab saat ini perkembangan kemampuan berbicara dan berbahasanya sedang berlangsung pesat. Setiap saat ia mengulang kosa kata yang sudah diketahuinya, juga setiap saat kosa katanya dapat bertambah. Saya mengamati, pertambahan kosa kata pada bayi sangat tergantung dari intensitas eksplorasinya terhadap hal-hal baru yang ditemuinya di lingkungan. Saat ini kosa kata yang diketahui Azka juga sudah lumayan banyak. Mendudukkannya di depan televisi selama beberapa jam setiap hari, bagi saya, itu berarti mengurangi waktunya untuk eksplorasi lingkungan, latihan berbicara, dan menambah kosa kata. Selain itu, mendudukkannya di depan televisi selama beberapa jam setiap hari juga akan mengurangi waktunya untuk mengembangkan kemampuan motoriknya. Meski -jujur saja, menyibukkannya dengan bermain air, lebih repot. Setelahnya, saya harus mengepel lantai, mengeringkan high chair-nya, lalu mengganti baju dan popoknya.
Akan tetapi, saya merasakan, banyak pembelajaran yang didapatkan Azka dari bermain air. Tiba-tiba saja pada suatu waktu, saya melihatnya (saat itu berusia 16 bulan) minum langsung dari cangkir dengan santainya, seperti orang dewasa minum dari gelas (itu tanda otot-otot yang berhubungan dengan kegiatan minum sudah berkembang). Bedanya, ia masih memegang cangkir dengan kedua tangannya. Padahal selama ini Azka masih minum dengan sedotan. Lalu, kemampuannya makan sendiri dengan sendok juga makin stabil, salah satunya karena sering menyendok dan menyeruput air dari sendok.
Kadang-kadang, ketika ia meminta bermain air, entah itu pada sesi setelah makan atau pada saat ia sudah bosan berjalan ke sana ke mari, ada rasa malas untuk mengizinkannya, sebab sudah terbayang duluan acara repot-repot setelahnya. Namun ingatan tentang kemampuannya menyediakan minum untuk dirinya sendiri (menuang, menyendok, mengaduk) atau bahkan membikinkan saya atau abinya minuman akan dapat berkembang sedini mungkin dengan latihan-latihan itu -sehingga tugas saya membikinkan minuman sudah bisa diambil alih olehnya (hohohoo...), cukup mampu menguatkan mental saya, lalu mengizinkannya. Kecuali bila di malam hari, di atas pukul sembilan malam ia masih meminta bermain air, saya sudah tidak izinkan, sebab saya juga menerapkan aturan bebas yang berbatas (yang nanti juga akan saya bahas dalam tulisan lain).
Sejak usianya hampir memasuki 19 bulan, kegiatan bermain air Azka tidak lagi hanya sebatas di high chair, akan tetapi juga di kamar mandi ketika saya sedang mencuci bajunya (khusus baju Azka saya cuci manual). Setiap saya mencuci, ia pasti ikut serta; juga ikut menyikat baju, membilas, serta memeras. Jika ia sudah bosan ikut-ikutan kegiatan mencuci, ia akan bikin aktivitas sendiri; menyiduk air dari bak lalu menumpahkannya ke ember, memindahkan air dari ember ke ember, mengelap dinding kamar mandi dengan baju yang sudah saya cuci, menyikat lantai kamar mandi, dan lainnya.
Salam,
Ananda Putri Bumi
Subscribe to:
Posts (Atom)
