Showing posts with label Latihan Hidup Sehari-hari. Show all posts
Showing posts with label Latihan Hidup Sehari-hari. Show all posts

Thursday, April 23, 2015

Bukan Melarang, Mengatur, dan Mengendalikan, tetapi Memfasilitasi, Memberi Ruang Bereksplorasi, Mencontohkan, Mengajak, dan Mengarahkan Pada Saat yang Tepat

Kemandirian | Latihan Hidup Sehari-hari | Multiple Intelligence


Azka memiliki tempat piringnya sendiri, sejak usia 19 bulan. Tempat itu terletak dalam jangkauannya. Ada beberapa mangkok, piring, cangkir, sendok, dan garpu di dalamnya. Jadi, jika ia kepingin makan atau minum, saya minta ia sendiri yang mengambil peralatan makannya. Dengan begitu, Azka makin mampu membedakan antara piring dan mangkok, sendok dan garpu. Kadang-kadang, jika peralatan makannya baru selesai dicuci, Azka juga kami ajak dan contohkan untuk menaruhnya sendiri.

Azka juga memiliki tempat pakaian kotor sendiri. Tiap akan mandi, saya mengajaknya untuk bersama-sama, lalu mencontohkan untuk meletakkan pakaian kotornya di tempat yang telah disediakan.

Azka suka sekali buah Lengkeng. Baru-baru ini, Azka (21 bulan) sudah bisa membuka sendiri kulit lengkeng dengan cara digigit. Sekarang, ia kerap menolak jika saya menawarkan bantuan untuk membukakan kulit lengkeng yang akan dimakannya. Kepingin membukanya sendiri.

Di rumah, kami memiliki jemuran setinggi dagu Azka. Jika saya sedang menjemur kain, bebadapa kali ia ikut menyampirkan cucian baju pada tali jemuran, lalu berusaha menjepitnya dengan jepitan baju. Meski tentu saja, hasil pekerjaannya belum sempurna. Saya biarkan saja susunan baju-baju yang dijemurnya sebagaimana adanya.

Kami juga menyediakan gantungan baju sejangkauannya agar dia bisa menggantung sendiri baju-bajunya yang telah saya setrika. Salah satu kegiatan yang disukainya.

Jika akan naik atau turun tangga di rumah, Azka melakukannya sendiri. Ia sudah jago sekali naik tangga. Memasuki usia 20 bulan, ia juga sudah bisa turun tangga sendiri.

Sejak usia 21 bulan, Azka tidak pernah lagi dengan sengaja memperlakukan hp dengan tidak semestinya, seperti sengaja menjatuhkan atau melempar, menginjak, atau memukul-mukulkannya pada lantai. Ia memperlakukan hp seperti halnya kita memperlakukan. Meski tentu, belum sempurna.

Jemari Azka (21 bulan) juga sudah cukup stabil dan terkendali dalam mengoperasikan touchscreen hp. Bila ia kepingin membuka app drum, biola, gitar, atau pun piano di-hp, ia sudah bisa melakukannya sendri. Pun jika Azka kepingin melihat rekaman kegiatannya, ia juga sudah bisa membuka dan memilih-milih rekaman yang akan ditontonnya.

Jika kepingin minum, Azka juga sudah memiliki inisiatif mengambil cangkir sendiri dari tempat piringnya, lalu menggeser kursi ke dekat meja dispenser dan meminta saya duduk, setelah itu ia meminta saya untuk memangkunya, lantas meletakkan cangkir yang dibawanya di bawah keran dispenser dingin, menunjuk keran dispenser panas seraya bilang, "anas" dan menunjuk keran dispenser dingin seraya bilang "ninin", kemudian menekan keran dispenser dingin hingga airnya keluar.

Azka memiliki beberapa cangkir yang ada tutupnya, yang tutupnya harus diputar jika ingin menutup cangkir itu erat. Suatu hari ia mengetuk-ngetuk kamar mandi memanggil-manggil saya yang sedang berada di dalam dan memperlihatkan keberhasilannya dalam menutup cangkir itu. Rapi dan erat.

Suatu kali, Azka (ketika ia 20 bulan) bermain- main dengan sekumpulan meal boxes, menebarnya dan menjadikannya alat musik pukul. Setelah puas bermain, ia bangkit dari duduknya, dan bilang, "tayok agi", lalu meletakkan kembali box-box itu pada tempat semula. Hal itu kerap terjadi hingga sekarang tanpa sekalipun saya menyuruhnya.

Sejak ia 18 bulan hingga kini, setiap saya sedang menyapu dan memasukkan sampah hasil sapuan ke dalam cikrak, Azka buru-buru mengambil cikrak itu dan berjalan menuju tempat sampah, lalu membuang sampa-sampah yang ada di dalamnya. Kini, ia pun kepingin, ia sendiri yang menyapukan sampah itu ke dalam cikrak.

Bersebab tanah di sini tanah rawa, kadang-kadang ada kaki seribu yang masuk ke dalam rumah. Jika kebetulan Azka melihatnya, ia langsung sibuk mencari sapu, mengarahkan saya untuk membuka pintu, lalu mendorong kaki seribu itu dengan sapu ke arah luar rumah. Salah satu tugas Azka sekarang adalah menyingkirkan kaki seribu dari dalam rumah. Kadang, sebelum membuangnya, ia memperhatikan dulu kaki seribu itu lama-lama sambil bilang, "kaki ebu, kaki ebu." Kepo.

Apa itu karena saya selalu berusaha untuk mengajarinya?

Saya tidak pernah mengajarinya.

Saya dan suami hanya memberikan sarana dan memberinya ruang untuk melakukan aktivitas yang kepingin dilakukannya.

Yang kami lakukan hanya membiarkannya bereksplorasi, dan membiarkan rumah berantakan bersebab eksplorasinya.

Yang saya lakukan hanya menahan diri untuk tidak melarang-larangnya dan menahan diri untuk tidak mengatur-aturnya, apalagi berusaha mengendalikannya.

Suatu kali, ketika ia sedang bermain sendok, saya pernah mencoba mengaturnya dengan mengatakan, "kalau sudah selesai main, tarok lagi di tempatnya ya." Azka lalu bangkit berdiri dan bilang, "gak!" Kemudian dengan cueknya berlari meninggalkan sendok-sendok itu dan bermain yang lainnya.

Yang saya lakukan adalah mencermati aktivitasnya, lalu "masuk" pada situasi yang tepat, yaitu ketika ia siap untuk mendengarkan, baru saya berikan arahan.

Ketika Azka kepingin bermain beras, saya biarkan. Lalu ketika ia akan membuang segenggam beras ke lantai, saya bilang, "berasnya masukin kesini ya," sambil saya berikan sebuah wadah. Kini, setiap sedang main beras, tepung, kacang hijau, makaroni, Azka selalu mengambil wadah lain untuk menuangnya. Ia tidak lagi menyerakkannya ke lantai. Tapi tentu saja ya, tetap masih ada yang berceceran di lantai.

Ketika Azka kepingin bermain hp, saya berikan. Kalau kebetulan ia bermain hp di dapur, di bawah kompor pula, saya bilang, "Azka kalau mau main hp di depan (ruang tamu) ya." Ia akan segera bangkit dan berjalan ke ruang tamu.

Kalau Azka kepingin minum dari gelas kaca, saya izinkan. Tapi, sebelum ia minum, saya bilang, "minumnya sambil duduk ya." Azka pun akan segera duduk.

Kalau ia sedang main hp, lalu kesulitan menemukan hal yang dicarinya, Azka akan berteriak bilang, "Cucaah, cucaah," atau "Nggak ica, nggak ica." Saat itulah saya "masuk" dan memberinya pengarahan.

Jika Azka kepingin memanjat-manjat di area dekat televisi, saya biarkan. Ia senang sekali mengutak-atik tombol-tombol di tv dan speaker. Saya cuma bilang, "Azka kalau mau naik-naik, bilang umi ya." Dan setiap ia akan memanjat, ia selalu bilang, "Mii, Aca aiik (umi, Azka mau naik)." Segera saya gelar matras di bawahnya, agar jika ia terjatuh, tidak terlalu sakit.

Yang kami lakukan adalah mencontohkan. Ketika Azka menumpahkan air, langsung saya pel lantainya tanpa melarangnya kembali untuk menumpahkan. Ketika ia selesai bermain dengan piring-mangkoknya yang ia tumpahkan dan sebar ke penjuru ruangan, setelah ia selesai main, saya kumpulkan mainannya ke tempatnya tanpa melarangnya untuk bermain dan menebarnya kembali. Setiap ada sampah di lantai, langsung saya pungut dan buang ke tempat sampah. Azka melihat dan merekam semuanya, lalu menirunya.

Ketika ia menumpahkan air, ia akan mencari kain pel dan mengelapnya sendiri. Ketika menemukan sampah, ia akan memungut lalu membuangnya tanpa disuruh. Ketika ada semut di lantai, Azka langsung ambil sapu dan menyapu semut-semut itu. Yaaa... meski semut-semutnya jadinya bertebaran di mana-mana sih...

Ya memang ada saatnya saya akan bilang "Azka boleh main ini itu asal nanti dibereskan lagi," tapi ya itu nanti, bukan sekarang di saat ia masih 21 bulan ini.

Yang kami lakukan adalah mengajaknya melakukan suatu hal. "Yuk, kita masukkan baju kotor Azka ke tempatnya." Saya juga ikut mendampinginya berjalan ke tempat keranjang kotor, memasukkan sehelai, lalu meminta Azka memasukkan yang lainnya.

Saya meyakini, dari pengalaman, pengamatan, dan bacaan, pola asuh yang terlalu banyak melarang, mengatur, dan mengendalikan tidak akan membuat anak banyak belajar. Pola asuh tersebut hanya akan menimbulkan banyak perselisihan antara orang tua dan anak. Orang tua akan menganggap anak keras kepala dan suka melawan karena tidak mau menurut. Anak akan menganggap orang tua terlalu banyak melarang dan mengatur. Jadi, jika pola asuh tersebut tidak banyak membuahkan hasil, malah hanya membuat orang tua dan anak kerap berselisih, mengapa harus diteruskan?

Anak-anak itu adalah mahluk yang penuh energi. Badan mereka masih segar dan sehat. Tidak seperti kita yang sudah banyak sakit di sana sini dan cepat lelah. Menyuruh orang yang memiliki energi penuh, yang badannya masih segar dan sehat untuk melulu duduk diam, melarang mereka untuk bergerak ke sana kemari, bukankah itu hal yang mustahil? Selama badan kita segar, sehat, penuh energi, pasti kita kepinginnya bergerak terus. Begitu pun anak-anak.

Pembelajar dan mandiri sebenarnya adalah sifat alami manusia. Proses belajar adalah proses yang didahului oleh rasa ingin tahu, dan berlanjut dengan pengulangan-pengulangan. Sementara, kemandirian ditandai dengan berusaha melakukan sesuatu sendiri, tanpa mengandalkan orang lain. Bukankah hal ini sangat kental terlihat pada anak-anak?

Azka, tidak mau disuapi. Kepingin buka buah lengkeng sendiri. Kepingin mengambil air sendiri dari dispenser. Ketika minum, gelasnya tidak mau dibantu dipegangi. Kepingin menyalakan dan mematikan televisi, lampu, kipas angin sendiri. Kepingin naik-turun tangga sendiri. Kalau makan ikan atau ayam, tidak mau disuwir-suwir, kepinginnya diberikan utuh, biar ia yang melepasnya dari tulangnya, dan lainnya. Ini adalah tanda-tanda kemandirian, bukan?

Azka, selalu bertanya "apa ini?" ketika melihat sebuah benda. Lalu setelah diberi tahu, ia akan mengulangnya terus. Jika esok harinya ia menemukan benda yang sama, ia akan menyebutnya berulang-ulang kembali. Saya tidak pernah mengajarinya harus menghapal kosa kata ini dan itu. Azka selalu kepingin tahu apa yang sedang saya lakukan. Sampai-sampai ia hapal urutan mencuci dan membilas baju, urutan menanak nasi, dan lainnya. Saya tidak pernah mengajarinya. Ia yang kepingin tahu, lalu kepingin juga melakukannya. Ini adalah sifat seorang pembelajar, bukan?

Lalu mengapa, ketika anak-anak itu menjadi manusia dewasa, sifat pembelajar dan mandiri itu perlahan malah menjadi lenyap? Banyak orang tua yang mengeluhkan anaknya susah disuruh belajar, tidak mau membantu di rumah, dan apa-apa minta diambilkan atau dibantu.

Saya meyakini, sifat mandiri dan pembelajar yang secara alami sudah ada pada manusia sejak kanak-kanak itu malah menjadi lenyap ketika mereka beranjak dewasa,itu adalah akibat pola asuh yang tidak tepat.


Salam,


Ananda Putri Bumi

Wednesday, March 18, 2015

Semua Benda di Rumah Adalah Mainan Azka, Semua Ruangan di Rumah Adalah Tempat Bermain Azka

Latihan Hidup Sehari-hari | Kemandirian | Multiple Intelligence


Saya mulai mempertanyakan tentang apa sebenarnya fungsi mainan setelah beberapa
waktu mengamati Azka dengan mainannya. Jika mainan itu baru dilihatnya atau baru
dibelikan, ia akan cukup intens menguliknya. Akan tetapi, kegiatan itu hanya berselang
beberapa saat. Esoknya, perlakuannya terhadap mainan baru itu sama saja dengan
perlakuannya terhadap mainan lama, dicuekkin aja. Azka baru akan mengulik mainannya
lagi jika diajak untuk menguliknya, atau jika sudah cukup lama takdisentuhnya.
Tidak ada sebuah mainan pun yang tidak pernah bosan diuliknya terus setiap hari.

Padahal, semua mainannya sengaja dipajang pada sebuah tempat seperti meletakkan
pajangan, tidak ditumpuk di dalam keranjang atau kardus, tujuannya agar ia dapat
selalu melihatnya dan tertarik untuk memainkannya. Namun, Azka hanya gemar
memporak-porandakannya (jika pagi hari saat bangun dari tidur lantas ia melihat
semua mainannya tersusun rapi), lalu mengabaikannya.

Azka justru tertarik pada benda-benda yang sering dipakai oleh saya atau abinya. Jika
saya sedang memasak, ia senang bermain dengan sutil, wajan, panci, misting, maupun
ulekan. Dalam bermain, kadang benda-benda itu diperlakukannya sesuai fungsinya. Ia
mengaduk-aduk entah apa yang diisinya ke dalam wajan -kerupuk mentah, kacang mentah,
tepung, makaroni, bahan masakan yang akan saya masak, sisa makanan dan minumannya-
lalu mengaduk-aduknya dengan sutil. Terkadang, peralatan masak itu dipukul-pukulnya
seperti sedang memainkan alat musik pukul. Sambil tetap memukul, ia lantas menari-nari
atau berjalan ke sana ke mari.

Jika sedang menemani abinya bertukang membikin beberapa peralatan rumah (tempat
sepatu, meja setrika, gantungan pakaian, rak-rak di ruang makan), ia senang memainkan
palu, paku, meteran, spidol, penggaris, kayu, obeng, cutter, dan apa pun peralatan
pertukangan yang sedang dipakai abinya. Kadang ia meniru apa-apa yang dilakukan abi
dengan peralatan itu, kadang benda-benda itu dijadikannya pemukul untuk menghasilkan
bunyi-bunyian, entah memukul lantai, dinding, atau lainnya. Kadang, benda-benda
panjang seperti penggaris dan kayu dijadikannya seolah-olah itu adalah alat musik
tiup.

Ketimbang bermain dengan mainan yang sengaja dibelikan untuknya, ia justru akan
bermain dengan durasi waktu lebih lama jika bermain-main dengan benda-benda yang
merupakan "peralatan dan perlengkapan rumah tangga".

Pada titik itulah saya mulai mempertanyakan fungsi mainan. Jika anak-anak justru lebih
menyukai benda-benda "peralatan dan perlengkapan rumah tangga" ketimbang mainan
yang sengaja dibelikan untuknya, lantas, apa sebenarnya fungsi mainan? Untuk apa
mainan itu diciptakan? Lalu, mengapa tak kita biarkan saja anak-anak kita bermain
dengan "peralatan dan perlengkapan rumah tangga", alih-alih memaksa mereka bermain
dengan mainannya? Ya, terkecuali jika memang mainan itu menarik minatnya.

Dan, bukankah mainan itu justru menjauhkannya atau menjadikannya berjarak dengan
benda-benda asli yang justru kelak akan dipakainya dalam kehidupan sehari-hari?
Bagaimana ia akan dapat memakai gunting dengan baik, misalnya, jika yang kita sodorkan
padanya adalah gunting-guntingan. Apalagi, sepanjang pengamatan saya, rata-rata bentuk
gunting-guntingan itu cukup jauh berbeda dengan bentuk gunting asli.

Azka (19 bulan), sejak pertama kali ia melihat dan penasaran dengan gunting (kalau
tidak salah sejak usianya 16 bulanan), saya sodorkan gunting asli, seraya saya jelaskan
kalau benda itu tajam. Saya berikan ia pengalaman menyentuh bagian tajam dari gunting
agar ia tahu apa yang dimaksud dengan tajam. Efeknya, setiap bereksplorasi dengan
gunting, ia bersikap hati-hati, lalu setelah puas, ia akan menyerahkan benda itu pada
saya (seolah-olah paham jika benda tajam takboleh diletakkan sembarangan).

Begitu juga dengan jarum (ia sering melihat saya menggunakan jarum saat memakai
kerudung), saya berikan jarum asli untuk dipegangnya (tentu saja tetap dalam
pengawasan) dan saya sentuhkan ujung jarum pada kulitnya agar ia paham jarum itu
tajam dan bagaimana rasanya jika terkena benda tajam. Sejak ia memahami hal itu,
setiap ia menemukan benda tajam, jarum, peniti, dan sejenisnya, ia akan memungutnya
dan memberikannya pada saya, seraya bilang, "jajum...(jarum), jam...(tajam)."

Saya pernah cukup lama berkecimpung dalam dunia entrepreneurship, dari mulai rajin
menghadiri seminar, workshop, maupun sekolah entrepreneurship, menjadi bagian dari
event organizer yang mengadakan seminar maupun workshopnya, bersama teman-teman
mendirikan organisasi yang bergerak dalam bidang entrepreneurship, bekerja sebagai
reporter dan penulis di sebuah majalah entrepreneurship, beberapa kali merintis bisnis
sendiri bersama kawan-kawan, dan terakhir, saya diminta oleh kawan saya untuk menjadi
bagian dari pemilik dan manajemen perusahaan yang sedang dirintisnya.

Barangkali bersebab adanya pengalaman tersebut, sehingga arah kesimpulan atas
pertanyaan saya di atas adalah, "mainan sejatinya diciptakan untuk kepentingan bisnis,
bukan murni untuk membantu perkembangan anak. Analoginya kira-kira seperti ini; sebuah
perusahaan obat yang menemukan bahwa sejenis buah yang sehari-hari mudah ditemukan,
ternyata jika dikonsumsi rutin, dapat menyembuhkan penyakit berat seperti kanker. Akan
tetapi, perusahaan obat itu menyembunyikan fakta itu dan berusaha membikin bahan
sintetis atau obat yang menyerupai kandungan buah itu. Tentu saja, agar perusahaan
obat itu dapat meraih keuntungan besar dari penjualan obat ciptaannya.

Ya, memang tidak semuanya. Sebab ada juga mainan-mainan yang murni dibuat untuk
membantu tumbuh kembang anak, namun akhirnya banyak orang tua yang tertarik
ingin memiliki untuk anak-anak mereka, maka jadilah mainan itu diproduksi lebih banyak
untuk memenuhi permintaan, lalu akhirnya jadilah sebuah bisnis mainan. Jika ditilik
dari sejarahnya, salah satu contohnya adalah mainan Lego.

Di sinilah saya pikir, kami sebagai orang tua, pada akhirnya harus mampu memilah-milah
mainan yang memang benar-benar bermanfaat bagi Azka, dan mainan yang justru
hanya akan menjauhkannya atau menjadikannya berjarak dengan kehidupan nyata. Maksud
saya berjarak dengan kehidupan nyata itu misalnya, anak-anak yang dilarang bermain-
main di dapur dan di larang bermain-main dengan peralatan dapur, dengan alasan apapun
(biasanya alasannya adalah takut anak terkena minyak panas atau terkena api kompor)
kemungkinan besar jika ia dewasa nanti, ia tidak akan pandai memasak dan tidak akan
betah berada lama-lama di dapur.

Di rumah, kami memiliki dua rak untuk meletakkan piring-mangkok-talenan-ulekan-
misting-cangkir-dan benda semacamnya. Benda-benda yang diletakkan pada rak ini berada
dalam jangkauan Azka. Ia bisa kapan saja bereksplorasi dengan benda-benda ini. Saya
merasa cukup aman membiarkannya bermain dengan peralatan ini sebab tidak ada yang
terbuat dari kaca, dan memang sengaja tidak membeli benda-benda yang terbuat dari
kaca. Apa yang dilakukannya dengan benda-benda ini? Pertama, ia meniru apa-apa yang
pernah saya lakukan dengan menggunakan benda-benda itu, kedua, ia menciptakan bunyi-
bunyian dengan benda-benda itu, ketiga, untuk peralatan eksperimennya; memindahkan air
atau benda cair lainnya dari satu wadah ke wadah lain.

Bersebab ia suka sekali menekan saklar lampu, tombol kipas angin, dan tombol televisi,
setiap saya hendak mematikan atau menyalakan benda-benda tersebut, saya minta ia yang
melakukannya. Tentu saja, Azka dengan senang hati melakukannya. Televisi dan kipas
angin juga terletak dalam jangkauannya. Sejak usia 15-16 bulanan ia sudah paham
bagaimana menyalakan dan mematikan benda-benda itu. Apakah Azka sering memasukkan
jarinya ke celah-celah kipas angin? Awalnya ya, akan tetapi setelah beberapa kali
jarinya pernah tersangkut dan ia susah untuk melepasnya, sudah tidak lagi.

Bahan-bahan memasak saya juga terletak dalam jangkauannya. Ia senang sekali bermain
dengan makaroni, beras, tepung, kerupuk mentah, dan kacang-kacangan. Awalnya,
makaroni dan beras mentah itu sering dimakannya. Akan tetapi, setelah memiliki
pengalaman bahwa kedua benda itu keras untuk digigit, susah untuk ditelan,
ia taklagi memakannya jika sedang memain-mainkannya.

Ada juga benda-benda yang saya letakkan jauh dari jangkauan Azka, yaitu benda-benda
yang jika dimainkannya harus dalam pengawasan. Salah satunya, Azka suka sekali duduk-
duduk di meja makan, sementara di meja makan ada sebuah rak khusus untuk menyimpan
beberapa gelas kaca. Ia suka memainkan gelas-gelas itu, mengangkatnya, pura-pura minum
dari gelas itu, atau pura-pura mengaduk minuman. Efek positifnya, jika sedang minum
dengan memakai gelas kaca, pegangan tangannya sudah kuat. Pernah beberapa kali saya
mendapatkan Azka berhasil mengambil gelas kaca berisi minuman saya atau abinya,
bersebab gelas itu terletak hampir ditepi meja sehingga dapat dijangkaunya. Ia
berhasil mengambilnya tanpa menjatuhkannya, lalu meminum isinya, membawanya
mondar-mandir, juga tanpa menjatuhkan gelas tersebut.

Intinya, seperti judul yang saya tuliskan di atas, semua benda di rumah adalah
mainan Azka, juga peralatan menyapu, mencuci, kulkas beserta isinya, pakaian, dan
lainnya. Satu hal saya rasakan, semakin dekat ia dengan benda-benda asli dalam
kehidupan nyata, semakin banyak kosa katanya dan semakin banyak ia memahami fungsi-
fungsi benda. Sebab, setiap ia melihat dan menyentuh sebuah benda, pertama kali yang
ditanyakannya pasti nama benda tersebut dan kepingin tahu benda itu untuk apa. Setelah
diberi tahu, ia akan mengulang-ulang terus nama benda itu. Lalu, jika suatu saat ia
melihat dan menyentuhnya kembali, ia akan mengulang menyebutkan nama benda itu
kembali dan memperagakan cara memakainya.

Jika ada sebuah benda yang pernah dilihat dan disentuhnya namun jarang-jarang, kadang
ia lupa namanya, namun ingat fungsinya. Contohnya adalah palu. Azka hanya menyentuh
palu ketika sedang menemani abi membikin rak. Suatu kali ia menunjuk-nunjuk tempat
penyimpanan palu sambil bilang, "Km km km km," sambil memeragakan cara memakai palu.
Itu adalah bunyi palu yang pukulkan pada paku yang pernah didengarnya.

Mendidik anak itu memang penuh dengan resiko. Jika anak dibiarkan memanjat atau
berlari-lari, akan ada resiko cidera terjatuh atau terpeleset. Jika anak diperkenankan
bermain-main di dapur, akan ada resiko terkena api atau terkena minyak panas. Jika
anak diperkenankan bermain air atau diajak dalam kegiatan mencuci, akan ada resiko ia
terpeleset dan demam karena kedinginan. Jika anak diperkenankan mendekati kita yang
sedang menyetrika, akan ada resiko tangannya akan terkena setrika panas, seperti yang
sudah pernah terjadi pada azka. Jika anak diizinkan bermain dengan benda-benda tajam,
akan ada resiko tertusuk. Akan tetapi, berani mengambil resiko dalam mendidik anak
bukan berarti tidak berhati-hati.

Saya meyakini, tugas orang tua adalah menjaga anak saat mereka sedang bereksplorasi
agar cedera yang mereka terima masih dalam batas wajar. Tugas orang tua bukan
melarang-larang atau menjauhkan anak-anak dari hal-hal yang beresiko. Misal, saat azka
sedang berjalan di lantai yang licin, tugas saya adalah memberitahunya bahwa lantai
itu licin, bukan melarangnya berjalan di lantai yang licin. Lalu ketika ia terjatuh,
saya usahakan agar saat jatuh, kepalanya tidak terbentur lantai.

Kemampuan mengambil, menghadapi, dan menerima resiko itu tidak tumbuh dengan
sendirinya. Kemampuan itu didapatkan dari latihan yang berulang-ulang. Orang tua yang
terlalu sering melarang-larang anaknya melakukan permainan yang beresiko justru akan
menghambat anak dalam latihan menghadapi resiko.

Hidup ini pun penuh dengan resiko, bukan? Saya meyakini, anak yang sering dilarang-
larang melakukan ini itu karena orang tuanya memiliki ketakutan yang berlebihan
terhadap resiko atau cedera yang akan menimpa sang anak, akan mencetak anak-anak yang
takut mengambil resiko dalam kehidupan nyatanya kelak, anak-anak peragu dan penakut,
anak-anak yang pasif, dan anak yang tidak memiliki banyak kemampuan. Ketakutan orang
tua yang berlebihan itu akan menular pada anak.

Sebaliknya, orang tua yang menahan diri untuk tidak melarang-larang anaknya
bereksplorasi dan memberikan kesempatan pada anak untuk merasakan "sakit" entah itu
sakit karena jatuh atau yang lainnya, akan mencetak anak-anak yang berani serta
berhati-hati. Anak-anak itu akan memiliki sifat berani karena orang tua tidak
menularkan ketakutan mereka, juga, mereka akan memiliki sikap berhati-hati karena
sudah punya segudang pengalaman "sakit".

Resiko itu wajar. Cedera itu wajar. Itu yang selalu saya bilang pada Azka jika ia
terjatuh dan mulai menangis. Setelah saya bantu ia berdiri jika posisi jatuhnya
membuatnya kesulitan bergerak, atau setelah saya obati jika ia terluka, saya akan
bilang, "kalau Azka gak mau jatuh atau sakit, ya diem aja. Selama Azka bergerak,
selama itu pula akan ada resiko yang akan Azka tanggung. Itu namanya konsekuensi.

Berani bergerak ya harus berani terima apa pun konsekuensi yang mengikutinya."
Sekali lagi, seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, semua benda di rumah adalah
mainan Azka, tanpa terkecuali. Semua ruangan di rumah adalah tempat bermain Azka,
tanpa terkecuali, termasuk di dapur saat saya sedang memasak, di tangga, atau pun di
kamar mandi. Ia juga bebas bermain apa pun; berlari, memanjat, berputar-putar, dan
sebagainya. Tugas kami sebagai orang tua adalah menjaga agar resiko yang diterimanya
masih dalam batas wajar. Tugas kami bukan melarang-larangnya. Tertusuk sedikit jarum,
terkena setrika panas, terjatuh saat berlari, adalah resiko-resiko yang wajar.

Tuesday, March 10, 2015

Belajar Naik Tangga

Latihan hidup sehari-hari | Kemandirian | Multiple Intelligence | Kecerdasan Kinestetik


Rumah yang kami tempati saat ini adalah rumah mungil berlantai dua. Kedua lantai tersebut terhubung dengan sebuah tangga kayu. Tangga tersebut agak curam -tidak landai- dan memiliki jarak yang agak lebar antar anak tangga.

Pertama kali pindah ke rumah ini, saya sedikit takut untuk menggendong Azka naik turun tangga. Bahkan, ketika pertama kali kami melihat-lihat rumah ini, belum memutuskan untuk tinggal di sini, saya meminta suami yang menggendong Azka naik-turun, saya belum berani. Saat itu, saya membayangkan, jika kami akhirnya memilih untuk tinggal di sini, mungkin ruangan untuk tamu akan saya sulap sebagian untuk ruangan tidur siang Azka (semua kamar tidur di lantai atas) dan baju-baju rumah Azka sebagian saya simpan di lantai bawah agar saya takperlu sering-sering naik turun.

Akan tetapi, setelah beberapa lama tinggal di rumah ini, naik turun tangga dengan menggendong Azka akhirnya menjadi hal biasa bagi saya. Azka pun, jika tidur siang, tak pernah di lantai bawah. Setelah terbiasa, mulailah saya memikirkan untuk melatih Azka naik tangga sendiri.

Jarak antara lantai bawah dan anak tangga pertama lebih lebar lagi dibanding jarak antar anak tangga, sehingga Azka hingga kini belum bisa naik dari lantai bawah ke anak tangga pertama. Kondisi ini membuat saya masih merasa cukup aman untuk melepasnya bermain sendiri disekitar tangga jika sedang berada di lantai bawah. Barangkali, kondisi ini pula yang menyebabkan Azka, hingga usia 17 bulan, jarang sekali minta bermain-main di tangga atau minta naik tangga sendiri. Sementara, pada anak tangga teratas, ada pagar dengan tinggi sekitar satu meter, yang selalu kami kunci jika Azka sedang berada di lantai atas.

Pertama kali saya resmi mengukuhkan bahwa sudah saatnya Azka naik tangga sendiri ya di usianya ke-17 bulan itu. Sebelumnya, beberapa kali saya biarkan ia naik dengan cara ditatah (saya pegang kedua tangannya, ia melangkah sendiri).

Maka dimulailah pengalaman pertama Azka naik tangga sendiri. Saya naikkan ia ke anak tangga pertama, setelah itu saya lepas. Ia senyum-senyum senang. Lalu Azka pun mulai naik tangga sendiri dengan cara merangkak. Saya mengikuti di belakangnya. Sejak saat itu, Azka pun resmi naik tangga sendiri jika kami hendak ke lantai atas. Kecuali jika sudah mengantuk, biasanya ia kepinginnya digendong. Lama-lama, Azka juga bisa naik tangga dengan cara, sebelah tangan berpegangan pada tangan tangga, tanpa merangkak, meski belum laju benar.

Sekarang, tangga adalah salah satu tempat bermain Azka. Ia tak hanya senang menaikinya, tapi juga senang duduk-duduk di tangga. Alhasil, saat ini, jika sedang naik tangga, bisa memakan waktu bermenit-menit. Pada setiap anak tangga ia kepingin duduk, lalu baru mulai menaiki lagi. Kadang-kadang pada anak tangga tertentu, ia hanya bolak-balik turun-naik turun-naik sambil bilang, "aik... (naik), dudu... (duduk)," berulang-ulang.Hal ini kerap bikin saya garuk-garuk kepala dan menghembuskan napas. Akan tetapi, saya menyadari, kalau pada akhirnya saya gendong juga ia untuk menuju ke atas, misi melepasnya untuk naik tangga sendiri ini bisa-bisa tidak akan konsisten.

Akhirnya, saya menemukan sebuah cara. Jika saya sedang kepingin cepat namun tetap tanpa menggendongnya, saya cari sebuah benda yang membikinnya penasaran, lalu saya letakkan pada anak tangga di depannya namun takterjangkau olehnya. Azka akan naik dengan cepat dan bersemangat untuk menjangkau benda itu. Setiap ia hampir dapat menyentuh benda tersebut, saya naikkan lagi ke anak tangga di atasnya, begitu seterusnya hingga sampai ke lantai atas.

Pernah pada suatu saat, saya menaikkannya ke anak tangga pertama, sengaja tanpa meletakkan sebuah benda di depannya, sebab kepingin tahu apa yang akan dilakukannya, apakah tetap naik dengan ngebut, atau naik sambil duduk-duduk di tangga, atau yang lainnya. Ia lantas melihat cukup lama ke anak tangga, lalu menoleh ke arah saya yang berada di belakangnya dengan mimik muka heran dan berkata, "mannaa...?" Lalu, setelah saya letakkan sebuah benda di hadapannya, ia pun tersenyum dan memulai aksi pengejaran.

Setelah jago naik tangga, Azka sekarang juga kepingin turun tangga sendiri. Kegiatan turun tangga sedikit lebih sulit ketimbang sebaliknya sehingga memakan waktu lebih lama. Hingga usianya 19 bulan, paling-paling ia baru berani turun hingga tiga anak tangga, setelah itu minta gendong. Akan tetapi, sekitar sebulan kemudian, saat ia 20 bulan, Azka mulai berani turun tangga, dengan satu tangan berpegangan pada tangan tangga, dan satu tangan lagi berpegang pada tangan saya.

Meski Azka sudah bisa naik tangga sendiri sejak usia 17 bulan, namun saya belum terlalu khawatir untuk meninggalkannya barang semenit atau dua menit di lantai bawah jika ada keperluan sebentar di lantai atas semisal, sekedar hendak menutup pintu depan atas atau mengambil diapers serta pakaian Azka, sebab ia belum bisa naik ke anak tangga pertama yang jarak antara lantai dan anak tangga itu cukup lebar. Paling-paling Azka akan menunggui saya di bawah tangga sambil bermain-main dan sesekali memanggil.

Akan tetapi, ketika usianya 19 bulan, saat saya hendak turun setelah menyelesaikan keperluan di lantai atas, beberapa kali saya mendapati Azka sudah mencapai anak tangga ketiga, hendak menyusul saya. Itu artinya, ia sudah mampu naik sendiri dari lantai bawah ke anak tangga pertama. Saya cukup kaget juga, sebab setahu saya, ia masih kesulitan untuk naik ke anak tangga pertama itu. Cara yang dilakukannya untuk bisa naik ke anak tangga pertama itu membikin saya penasaran, sebab tidak mungkin dengan cara memanjat seperti biasa, anak tangga itu cukup tinggi.

Bersebab penasaran, beberapa kali saya beri Azka kesempatan untuk naik sendiri ke anak tangga pertama saat kami akan ke lantai atas. Anehnya, jika ada saya, meski ia berusaha beberapa kali, ia tetap tidak bisa melakukannya sehingga saya pun kembali membantunya untuk naik ke anak tangga pertama itu. Bersebab itu juga, saya masih belum khawatir untuk meninggalkannya sebentar di lantai bawah jika ada keperluan di atas yang hanya memakan waktu semenit atau dua menit, meski beberapa kali Azka telah berhasil naik sendiri. Saya pikir, ya itu kebetulan saja.

Lalu, pada suatu hari, saat saya meninggalkannya sebentar di lantai bawah untuk mencari sesuatu di kamar yang terletak di lantai atas (yang mungkin tanpa saya sadari memakan waktu cukup lama), tiba-tiba saya mendengar bunyi pagar tangga di lantai atas yang ditutup lalu dikunci. Ketika saya keluar kamar, saya mendapati Azka sudah ada di lantai atas dan sedang mengunci pagar tersebut, seperti biasa saya melakukannya begitu kami menginjakkan kaki di lantai atas. Azka (saat itu usianya hampir 20 bulan) naik tangga sendiri, tanpa dijaga. Saya kaget sekali, sekaligus senang, bangga dan juga bersyukur sebab tidak terjadi apa-apa padanya, semisal terpeleset atau kehilangan keseimbangan lalu berguling-guling ke bawah karena tidak ada yang menjaganya.

Sedikit, demi sedikit, saya mencoba melepaskan ketergantungan Azka pada kami, untuk hal-hal yang memang kami pikir ia sudah mampu melakukannya sendiri. Salah satunya adalah pada kegiatan naik tangga ini. Tujuannya, tentu, agar ia makin mandiri, sehingga kelak, jika kepingin melakukan ini itu, ia tidak merengek minta dibantu atau dilayani padahal sudah bisa melakukannya sendiri meski belum sempurna.

Saya masih banyak mendapati orang tua yang melarang anaknya berlari, memanjat, melompat, apalagi salto, bahkan naik tangga sendiri padahal usia anak itu sudah hampir dua tahun. Padahal, kegiatan tersebut masih bagian dari tumbuh kembang mereka. Banyak orang tua yang belum menyadari bahwa perkembangan motorik kasar tidak hanya sampai pada saat anak berhasil berjalan sendiri. Kebanyakan orang tua, mereka sangat memberi kesempatan bagi anak-anak mereka agar mampu berjalan secepat mungkin, namun setelah anak-anak itu mampu berjalan, mulailah banyak larangan yang keluar dari mulut orang tua saat melihat anaknya mulai berlari, memanjat, melompat, dan lainnya.

Di rumah, kami membiarkan Azka berlari (bahkan ada sesi bermain kejar-kejaran), berputar-putar, berdiri di high chair-nya lalu berupaya memanjat dan melompat ke meja makan, berjalan di lantai yang licin (namun tetap diberitahukan padanya bahwa lantai itu licin, agar ia berhati-hati), naik tangga, dan baru-baru ini Azka tengah belajar salto dengan abinya. Ya memang, sudah tak terhitung berapa kali ia jatuh karena berlari dan memanjat, bahkan dalam sehari.

Khusus untuk kegiatan naik tangga, selain untuk perkembangan motorik kasarnya, kegiatan ini juga memiliki manfaat banyak bagi Azka, di antaranya, melatih keseimbangan tubuhnya, melatih fokusnya, melatih keberaniannya berada pada ketinggian, dan lainnya.

Naik-turun tangga adalah salah satu kegiatan bermain yang saya dan Azka lakukan ketika sedang berdua saja di rumah.


Salam,


Ananda Putri Bumi

Tuesday, February 17, 2015

Ummi, Aku Udah Nggak Mau Disuapi Lagi

Kemandirian | Latihan Hidup Sehari-hari


Ada dua metode makan bayi yang saya ketahui saat ini, yaitu metode
spoonfeeding dan baby-led-weaning (blw). Spoonfeeding adalah metode
yang sudah biasa kita temui sehari-hari, yaitu bayi makan dengan cara
disuapi dan porsi makannya ditentukan (biasanya oleh ibu). Pada bulan-
bulan awal, tekstur makanan dibuat berbentuk bubur, tim, lalu setelah
usia bayi kian bertambah, barulah tekstur makanannya pelan-pelan
disamakan dengan orang dewasa.

Sementara, blw adalah metode dimana bayi makan sendiri (tidak disuapi)
sejak pertama kali ia mulai makan; sejak usianya enam bulan. Dalam
metode blw, seberapa banyak makanan yang masuk ke dalam mulutnya, jenis
makanan apa saja yang ingin dimakannya, bayi tersebut yang menentukan
sendiri. Tugas orang tua hanyalah menyodorkan kepada bayi berbagai
pilihan makanan. Oleh karena bayi makan dengan menggunakan tangannya
sendiri, maka tekstur makanan yang dimakannya, agar bisa digenggam,
sifatnya padat atau semi padat dan dipotong atau dibentuk dengan ukuran
yang dapat digenggam bayi (finger food).

Lalu, metode makan apa yang saya terapkan pada Azka? Saya menerapkan
keduanya.

Saat Azka mulai MPASI adalah saat yang saya tunggu-tunggu dengan rasa
bahagia bercampur sedikit kegugupan. Rasanya, kebahagiaan saya tidak
lengkap jika tidak punya pengalaman menyuapinya, terutama di bulan-
bulan awal. Apalagi, pada bulan-bulan pertama mpasi ini, Azka masih
sangat mudah disuapi. Apa pun dan berapa pun makanan yang saya berikan,
ludes, tanpa perlu saya bawa makan sambil jalan-jalan atau saya alihkan
perhatiannya agar mau membuka mulut. Kalaupun tidak habis, itu bersebab
porsi makannya memang sengaja saya buat lebih, untuk berjaga-jaga
kalau-kalau kurang.

Meski demikian, saya juga menyadari, saya pun harus melatihnya untuk
mampu makan sendiri sedini mungkin. Metode blw sangat pas untuk hal
ini. Sehingga, saat usianya enam bulan, meski seharusnya jadwal makan
bayi saat ini baru satu kali, jadwal makan Azka sudah dua kali, sekali
disuapi, dan sekali ia makan sendiri. Saat makan disuapi, tekstur
makanan saya bikin lembek. Namun ketika sesi makan blw, tekstur makanan
sebagaimana asliya.

Pengalaman pertama kali ia mampu menggigit buah pir dengan gusinya dan
lalu mengunyahnya di saat usianya enam bulan adalah pengalaman yang
tidak pernah saya lupakan. Saya deg-degan sekali saat itu sementara
Azka, yang duduknya saja masih harus ditopang bantal di sisi kanan-
kirinya, terlihat sibuk mengulum, mengunyah, dan berusaha menelan buah
yang saya yakin masih berbentuk bongkahan-bongkahan di dalam mulutnya.

Beberapa saat kemudian, barangkali karena tidak dapat ditelan juga,
buah itu dilepehnya.

Saat menerapkan metode inilah saya benar-benar melihat langkah demi
langkah bertambahnya kemampuan Azka makan sendiri -tanpa disuapi. Mulai
dari berusaha mengambil makanan yang berada di tray-nya namun selalu
terlepas lagi -biasanya karena licin atau genggaman yang kurang kuat,
hingga akhirnya, setiap disodorkan makanan, yang dilakukannya adalah
langsung menggigit makanan dari tray dengan mulutnya. Kalau makanan itu
saya sodorkan dengan piring, kadang ia malah menggigit piringnya.

Lalu, mulailah ia mampu menggenggam makanan dan membawanya ke arah
mulut, namun makanan itu selalu jatuh duluan sebelum mampir di
mulutnya. Membuatnya kerap berteriak kesal. Oya, hal ini juga yang
menjadi salah satu sebab saya memutuskan untuk tidak hanya menerapkan
metode blw, akan tetapi juga menyuapinya, sebab ia sudah punya
ketertarikan untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya sejak pertama
kali disodorkan makanan (beberapa bayi blw cenderung mengabaikan
makanan di depannya pada beberapa hari pertama ketika disodorkan
makanan), dan selalu diakhiri dengan tangisan dan teriakan setiap
setelah beberapa kali gagal, meski tetap mencobanya kembali. Ya, saya
memilih menerapkan metode dimana kami sama-sama bahagia saat waktu
makan tiba, bukan sama-sama tertekan.

Selain itu, karena saya juga kepingin menyaksikan dan mengabadikan momen
ini:


Lalu, diusia tujuh bulan, ia sudah bisa makan dengan santai,
menggenggam bongkahan ikan tenggiri dan brokoli kukus dengan tangannya,
membawanya ke mulut, menggigit, mengulum, mengunyah, dan menelannya.
Ya, tentu saja, lengkap dengan remahan makanan disekitar dan sekujur
tubuhnya. Namanya juga bayi. Pada usia ini, saya tunggu ia selesai
makan sendiri terlebih dulu, lalu jika saya melihat Azka sudah memain-
mainkan makanannya, barulah saya suapi.

Di usia tujuh setengah bulan, ia sudah bisa menggenggam makanan lembek
tanpa menghancurkannya, seperti labu kuning kukus. Itu artinya, ia
sudah dapat mengontrol kekuatan genggamannya, menyesuaikan dengan
tekstur makanan yang digenggamnya.

Selanjutnya, di usia delapan bulan, ia sudah bisa mengambil makanan
dengan tiga jari. Tak berapa lama kemudian, pada usia delapan setengah
bulan, ia sudah dapat mengambil memakanan dengan dua jari, seperti
mengambil butiran jagung atau bongkahan kecil nasi.

Perkembangan kemampuan makan sendiri ini berlanjut pada makan memakai
sendok. Dari mampu menggenggam sendok namun belum mampu menyendok
makanan, lalu mampu menyendok makanan namun belum mampu menggerakkan
tangannya untuk membawa makanan ke arah mulut, lalu mampu menggerakkan
tangannya untuk membawa makanan ke arah mulut namun makanan itu selalu
jatuh sebelum sampai ke mulut, hingga akhirnya ia mampu makan dengan
sendok dengan tumpahan makanan yang makin lama makin berkurang. Akan
tetapi, saya perhatikan, ia lebih suka makan dengan memakai tangan. Ia
hanya menggunakan sendok jika makanan itu berkuah atau lembek, padahal
dalam setiap sesi makan, selalu ada sendok di atas piringnya.

Namun, meski saya menerapkan kedua metode tersebut, prinsip blw yang
saya pegang teguh dari sejak awal Azka mpasi yaitu, membiarkannya
menentukan porsi makannya sendiri. Jadi, biar pun disuapi, saat Azka
sudah tidak mau makan, saya pun berhenti menyuapinya, tidak berusaha
mengalihkan perhatiannya agar ia mau membuka mulut.

Selain itu juga, taksetiap sesi makan saya ikut nimbrung menyuapinya.
Malah ia lebih sering saya tinggal karena taksempat mendampinginya
makan; harus mengurusi ini itu. Paling-paling saya temani di awal
makan, lalu sesekali mengecek kalau-kalau ia membutuhkan ini-itu.
Caranya dalam menolak makanan ketika sudah takmau makan lagi pun
berkembang seiring pertambahan usianya. Awalnya, ia melepeh makanan
yang sudah saya suapkan ke dalam mulutnya. Biasanya saya ulang
menyuapinya hingga tiga kali. Jika pada suapan ketiga ia tetap
melepehnya, itu artinya Azka sudah kenyang.

Kemudian, caranya menyatakan sudah takingin makan lagi ber-ubah dengan
mengatupkan mulutnya dan menarik badannya ke belakang untuk menghindari
sendok atau tangan saya yang berisi makanan. Sekarang (sejak usianya
hampir 17 bulan), jika sudah tak mau disuapi lagi, Azka akan
menggelengkan kepalanya dan bilang,"auuu... (nggak mau)."

Suatu kali diusianya yang ke-17 bulan, saat saya suapi
disela-sela kesibukannya mengaduk makanan, ia menggeleng dan bilang,
"auuu...." Saya pikir ia masih belum terlalu lapar dan tidak terlalu
kepingin makan, hanya ingin bermain-main dengan makanannya. Namun
ternyata ia makan sendiri dengan lahapnya. Saya coba suapi lagi, ia
tetap menggeleng, namun masih kusyuk mengunyah dan memilah-milah
makanan di piringnya. Karena penasaran, beberapa saat kemudian, saya
suapi lagi, Azka tetap menggeleng dan sedikit menggeram dengan muka
merengut, seperti kesal. Tapi ia tetap makan sendiri. Pada beberapa
kali sesi makan setelahnya, hal itu tetap terjadi. Tahu lah saya kini
bahwa batita saya yang berusia 17 bulan itu kini sudah tak mau lagi
disuapi.

Sejak saat itu, saya nyaris takpernah menyuapinya lagi. Paling-paling
hanya satu kali seminggu, itu pun hanya dua atau tiga suap, selebihnya
ia makan sendiri. Jika sedang makan nasi, kadang saya masih membantunya
mengepal-ngepalkan nasi dan lauk hingga berbentuk bulatan kecil seperti
kelereng. Azka masih mau menerima bantuan saya selama bulatan nasi itu
saya letakkan di piring atau di tangannya, bukan disuapkan ke mulutnya.

Ya, ini adalah salah satu momen yang saya tunggu-tunggu dan juga salah
satu alasan saya dalam menerapkan kedua metode ini, tidak hanya salah
satu. Selain saya kepingin dia bisa makan sendiri sedini mungkin, saya
juga menunggu momen dimana Azka yang memutuskan sendiri bahwa ia tak
lagi mau disuapi. Diusianya yang ke-17 bulan, saya mendapatkan momen
ini, dan saya menghargai keinginannya untuk mandiri; memilih jenis
makanannya sendiri, menentukan porsi makannya sendiri, dan makan
sendiri.


Salam,


Ananda Putri Bumi

Tuesday, February 10, 2015

(Tidak Hanya) Membuang Sampah Pada Tempatnya

Latihan Hidup Sehari-hari | Akhlak | Multiple Intelligence | Kecerdasan Naturalis


Suatu hari, Azka (saat itu usianya 17 bulan) merajuk minta dibukakan kulkas. Ia kepingin ngemil dan ingin memilih sendiri cemilannya. Setelah menunjuk ini itu yang diinginkannya sambil minta izin saya, pilihan cemilan sore menjelang malam hari ini pun jatuh pada se-cup yoghurt, cemilan yang disukai Azka dan juga saya izinkan. Seperti biasa, jika sudah makan yoghurt, ia akan makan dengan tenang. Kali ini saya dudukkan ia di lantai, bukan di high chair, sebab high chair sebentar lagi akan dipakai untuk makan malam (dan saya malas untuk membersihkannya kembali).

Saya temani ia sebentar, lalu saya tinggal untuk membereskan ini-itu. Beberapa saat kemudian saya mendengar bunyi plastik kresek. Bersebab penasaran dengan apa yang sedang lakukannya, saya mengecek dari kejauhan dan melihatnya sedang memegang plastik kresek kecil yang sebelumnya saya jadikan tempat sampah untuk mengumpulkan remah-remah makanan dan tisu kotor. Saya lupa, plastik itu masih saya taruh di kursi makan -belum saya buang- tempat yang bisa dijangkau Azka. Refleks benak saya berucap, "Haduhhh... eksplorasi apa lagi yang akan dilakukannya dengan plastik dan sampah-sampah itu." Tapi ya sudah lah, selama ia tidak menyentuh hal yang berbahaya saat saya tinggal sebentar, saya biarkan saja. Nanti tinggal dibersihkan.

Tak berapa lama, Azka menghampiri saya dan berkata, "Paah, paah..," sambil menunjuk ke arah di mana ia tadi memegang plastik tersebut. "Iya, itu sampah," sahut saya sambil tetap beraktivitas dan tidak menengok pada apa yang sedang ditunjuknya. Azka sudah cukup bisa membedakan benda-benda yang merupakan sampah dan bukan sampah. Jadi dugaan saya saat itu, ia sedang mengucapkan apa yang sebelumnya dilihat atau ditemukannya. "Paah, paah..." ulangnya lagi sambil tetap menunjuk.

Saya pun menghentikan kegiatan saya dan menoleh ke arah telunjuknya menunjuk. Apa yang saya lihat membuat saya takjub. Ada cup yoghurt yang telah kosong berada dalam plastik itu. Jadi, saat itu ia sedang memberi tahu saya, "Umi, aku udah buang sampah bekas yoghurt di tempat sampah." Saya pun lalu memberikan apresiasi untuk memperkuat perilakunya.

***

Dari usia Azka sekitar sembilan bulan, saya memang sering berceloteh tentang sampah. Biasanya itu terjadi ketika Azka menemukan benda-benda di lantai dan akan memasukkannya ke dalam mulut. Saya bilang, "Itu bukan makanan, itu sampah, sampah adalah bla... bla... bla..., sampah harus dibuang ke tempatnya..., dan seterusnya."

Di usianya ini juga, ia mulai sering mencontoh saya mengelap noda di lantai dengan tisu atau kain. Meski, seringnya, yang ditirunya adalah gerakan mengelapnya, tidak benar-benar sedang ada noda di lantai. Kegiatan mengelapnya ini pun meluas, dari mengelap lantai, hingga mengelap dinding, lemari, kasur, serta benda apapun yang ditemuinya.

Kemudian, ketika usianya sekitar 15 bulan, ia sering mencontoh saya memasukkan benda-benda ke tempat sampah. Saya katakan padanya, "ini tempat sampah, sampah adalah bla... bla... bla..." Awalnya, semua benda yang ditemukannya -meski bukan sampah- dimasukkannya begitu saja. Kemudian saya pilah-pilah. Jika yang dimasukkannya bukan sampah, saya akan bilang, "ini bukan sampah, yang dimasukkan ke sini hanya sampah saja, sampah itu artinya bla... bla... bla..., nah kalau yang ini sampah..."

Setelah ia cukup bisa membedakan sampah dan bukan sampah, kegiatan menemukan dan membuang sampah adalah salah satu kegiatan yang disenanginya. Barangkali salah satu penyebabnya, ia sering melihat saya menyapu, mengepel, mengelap lantai yang kotor, lalu memunguti remahan-remahan -apapun itu- yang berserakan di lantai dan memasukkannya ke sebuah tempat. Maka, jika ada sesuatu yang tergeletak di lantai, ia akan menunjuk atau mengambil, lalu berkata, "Paah..." Saya lalu memintanya untuk membuang sendiri ke tempat sampah. Demikian juga ketika ia selesai makan, beberapa benda yang dianggapnya sampah -tisu kotor, hasil kunyahan yang taktertelan, makanan yang jatuh- akan diperlihatkannya pada saya seraya berkata, "Paah..."

Saya juga kerap meminta tolong Azka untuk membuang sampah, baik ketika sedang berada di rumah ataupun di luar rumah. Botol bekas minuman, misalnya, setelah isinya saya habiskan, saya minta tolong Azka untuk membuangnya ke tempat sampah. Dengan senang hati ia melakukannya.

Kembali ke cerita tentang sampah cup yoghurt tadi, jika biasanya, saat menemukan sampah, terlebih dulu ia memperlihatkannya pada saya seraya bilang "Paah..." (seakan meminta penegasan atau persetujuan saya bahwa itu memang sampah) lalu kemudian saya mengarahkan untuk membuangnya ke tempat sampah, namun kali ini ia berinisiatif membuangnya ke tempat sampah terlebih dulu, baru mengabarkannya pada saya. Ini adalah sebuah momen yang membikin saya takjub dan terharu biru.

***

Saat ini, kegiatan membuang sampah adalah kegiatan yang setiap hari dilakukan Azka. Saya selalu berusaha untuk tidak lupa sehingga ada satu hari di mana kegiatan ini luput dikerjakan. Azka pun juga adalah pengingat saya. Ia peka sekali dengan benda yang disebut sampah ini. Jika sedang berada di luar, ia akan terus menunjuk sampah-sampah yang tergeletak di jalan lalu berkata, "paahh..., paahh..." Azka juga sudah cukup bisa membedakan benda-benda yang dikategorikan sampah dan bukan sampah. Jika saya letakkan sampah di atas piring, lalu piring itu saya berikan pada Azka dan memintanya membuang ke tempat sampah, Azka hanya membuang sampahnya dan tidak membuang piringnya. Setiap ada jenis dan bentuk sampah baru, saya kenalkan padanya agar ia makin mampu membedakan.

Saya memahami bahwa kegiatan tertib sampah ini bukan hanya sekadar membuang sampah pada tempatnya, akan tetapi jauh lebih dalam lagi seperti mengelompokkan sampah sesuai jenisnya, meminimalisasi penggunaan plastik, mengurangi jumlah produksi sampah (rumah tangga), serta mendaur ulang sampah. Kegiatan tertib sampah saya baru sebatas membuang sampah pada tempatnya, mengelompokkan sampah sesuai jenisnya, membawa tas sendiri setiap berbelanja (kadang-kadang pun masih lupa), membuka bungkus plastik dengan rapi agar dapat didaur ulang.

Khusus yang terakhir ini, sekitar tahun 2008, saya pernah mengikuti pelatihan membuat tas, tempat pinsil, dan semacamnya dari bungkus plastik bekas. Namun syaratnya, bungkus itu baru bisa didaur ulang selama masih dalam keadaan rapi, tidak koyak di sana-sini. Sejak saat itu, jika membuka makanan atau minuman yang berbungkus plastik, saya buka dengan rapi dengan menggunting tepian atasnya dari ujung ke ujung, agar bisa didaur ulang oleh orang-orang yang menemukannya. Hal itu selalu saya perlihatkan pada Azka.

Rencana saya, ke depannya, pembahasan sampah dan praktek mendaur ulang sampah akan terus menjadi salah satu materi homeschooling kami. Bukan hanya materi satu kali pembahasan yang hanya menyentuh aspek kognitif lalu setelah itu selesai, tentu saja, akan tetapi materi yang sifatnya berkesinambungan antara terus mencari informasi tentang cara-cara terbaru dalam menangani sampah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, untuk menangani sampah plastik bekas serbuk minuman, kami akan mengguntingnya dengan rapi lalu menyimpannya, kemudian setelah jumlahnya cukup, kami jadikan sebagai bahan untuk membuat benda-benda lain seperti dompet, tempat hp, dan sebagainya. Suatu saat, siapa tahu kami bisa bikin museum khusus memajang benda-benda berbahan plastik bekas buatan kami.

Tentu, saya juga harus terus memperbaiki perilaku saya dalam tertib sampah agar dicontoh oleh anak saya. Anak adalah peniru ulung, bukan. Saya menyadari, kepekaan terhadap sampah dan perilaku tertib sampah adalah bagian dari akhlak, perilaku untuk menjaga bumi milik-Nya dari kerusakan. Ada banyak sekali ayat dalam Al-Qur'an yang yang memperingatkan kita untuk memelihara bumi beserta isinya. Tertib sampah adalah salah satu perilaku yang dapat menjaga bumi-Nya dari kerusakan. Bersebab itu, wajib untuk diajarkan pada anak-anak kita. Sudah takterhitung bencana yang datang akibat sampah-sampah yang menggunung.


Salam,


Ananda Putri Bumi

Tuesday, February 3, 2015

Bermain Air

Kemandirian | Latihan Hidup Sehari-hari | Multiple Intelligence | Kecerdasan Kinestetik


Biasanya, setiap saya sedang melakukan pekerjaan rumah tangga, Azka saya bolehkan berpartisipasi -kamu tahu, anak-anak adalah manusia yang paling tulus, selalu ingin membantu, kecuali untuk beberapa pekerjaan yang belum memungkinkan saya untuk mengikutsertakannya seperti mencuci piring dan menyetrika.

Jika tidak membutuhkan waktu terlalu lama menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan itu, Azka saya minta menunggu -kalau ia sudah bosan bermain sendiri. Lalu, ia akan berdiri didekat saya, memperhatikan apa-apa yang saya lakukan, sesekali berjoget jika pekerjaan saya menciptakan bunyi-bunyian teratur yang dianggapnya musik, atau mengajak saya ngobrol; ia menyebut berulang-ulang nama-nama benda yang sedang saya pegang lalu meminta saya untuk juga menyebutkannya.

Namun, jika saya membutuhkan waktu lama untuk meyelesaikan segala pekerjaan itu, biasanya saya menyibukkannya dengan kegiatan yang takpernah bosan ia lakukan; bermain air.

Saya dudukkan Azka di high chair dan saya beri ia sedikit air (layak minum) di dalam cangkir. Juga, saya sediakan sendok dan mangkok. Ia pun akan sibuk menuang air dari cangkir ke dalam mangkok, lalu menuangnya kembali ke dalam cangkir, menuangnya lagi ke dalam mangkok, begitu seterusnya. Kadang-kadang ia menyendok air dari cangkir, mangkok, atau tray lalu menyeruputnya dari sendok. Kadang-kadang Azka mengaduk-aduk air dengan sendok seperti yang biasa ia melihat saya mengaduk minuman. Kadang ia juga menyeruput air langsung dari cangkir atau mangkok. Tak ketinggalan, ia juga memukul-mukul air yang tumpah di tray-nya sehingga cipratan air mengenai mukanya, lalu tertawa senang.

Sering juga, sambil bermain ia berceloteh sendiri (bahasa Azka saat usia 18 bulan); ain (air), ninom (minum), ce cum (sendok), cah cii (cangkir), kokou (mangkok), kmpaa (tumpah), caa ah (basah), ninin (dingin), kmja (jatuh: ketika peralatannya ada yang jatuh atau sengaja dijatuhkan), baa ah (tambah).

Kalau airnya sudah habis, Azka akan berulang-ulang bilang "tambah". Jika saya tidak langsung datang, ia menunggu sambil berdiri di high chair, duduk di tray, atau berusaha menjangkau benda-benda yang ada di meja makan.

Balita mana yang tidak senang main air. Saya lebih memilih menyibukkannya dengan air ketimbang menyibukkannya dengan tontonan, walaupun tontonannya sesuai usia dan diklaim sebagai tontonan yang mendidik, sebab saat ini perkembangan kemampuan berbicara dan berbahasanya sedang berlangsung pesat. Setiap saat ia mengulang kosa kata yang sudah diketahuinya, juga setiap saat kosa katanya dapat bertambah. Saya mengamati, pertambahan kosa kata pada bayi sangat tergantung dari intensitas eksplorasinya terhadap hal-hal baru yang ditemuinya di lingkungan. Saat ini kosa kata yang diketahui Azka juga sudah lumayan banyak. Mendudukkannya di depan televisi selama beberapa jam setiap hari, bagi saya, itu berarti mengurangi waktunya untuk eksplorasi lingkungan, latihan berbicara, dan menambah kosa kata. Selain itu, mendudukkannya di depan televisi selama beberapa jam setiap hari juga akan mengurangi waktunya untuk mengembangkan kemampuan motoriknya. Meski -jujur saja, menyibukkannya dengan bermain air, lebih repot. Setelahnya, saya harus mengepel lantai, mengeringkan high chair-nya, lalu mengganti baju dan popoknya.

Akan tetapi, saya merasakan, banyak pembelajaran yang didapatkan Azka dari bermain air. Tiba-tiba saja pada suatu waktu, saya melihatnya (saat itu berusia 16 bulan) minum langsung dari cangkir dengan santainya, seperti orang dewasa minum dari gelas (itu tanda otot-otot yang berhubungan dengan kegiatan minum sudah berkembang). Bedanya, ia masih memegang cangkir dengan kedua tangannya. Padahal selama ini Azka masih minum dengan sedotan. Lalu, kemampuannya makan sendiri dengan sendok juga makin stabil, salah satunya karena sering menyendok dan menyeruput air dari sendok.

Kadang-kadang, ketika ia meminta bermain air, entah itu pada sesi setelah makan atau pada saat ia sudah bosan berjalan ke sana ke mari, ada rasa malas untuk mengizinkannya, sebab sudah terbayang duluan acara repot-repot setelahnya. Namun ingatan tentang kemampuannya menyediakan minum untuk dirinya sendiri (menuang, menyendok, mengaduk) atau bahkan membikinkan saya atau abinya minuman akan dapat berkembang sedini mungkin dengan latihan-latihan itu -sehingga tugas saya membikinkan minuman sudah bisa diambil alih olehnya (hohohoo...), cukup mampu menguatkan mental saya, lalu mengizinkannya. Kecuali bila di malam hari, di atas pukul sembilan malam ia masih meminta bermain air, saya sudah tidak izinkan, sebab saya juga menerapkan aturan bebas yang berbatas (yang nanti juga akan saya bahas dalam tulisan lain).

Sejak usianya hampir memasuki 19 bulan, kegiatan bermain air Azka tidak lagi hanya sebatas di high chair, akan tetapi juga di kamar mandi ketika saya sedang mencuci bajunya (khusus baju Azka saya cuci manual). Setiap saya mencuci, ia pasti ikut serta; juga ikut menyikat baju, membilas, serta memeras. Jika ia sudah bosan ikut-ikutan kegiatan mencuci, ia akan bikin aktivitas sendiri; menyiduk air dari bak lalu menumpahkannya ke ember, memindahkan air dari ember ke ember, mengelap dinding kamar mandi dengan baju yang sudah saya cuci, menyikat lantai kamar mandi, dan lainnya.

Salam,


Ananda Putri Bumi