Tuesday, March 3, 2015

Azka Mulai Menabung

Kemandirian | Multiple Intelligence | Kecerdasan Logis Matematis | Kecerdasan Finansial

dutii... (duit)
babum... (nabung)
-Azka, 18 bulan

Itu adalah dua kata yang diucapkan Azka ketika melihat duit maupun celengannya. Sejak
awal Nopember 2014, ketika ia berusia 14 bulan, salah satu kegiatan rutin Azka adalah
menabung.

Semua berawal saat saya melihat dua anak bule usia tiga atau empat tahunan, satu
laki-laki dan yang lainnya perempuan, menarik dan menduduki travel bag milik mereka
ketika di Bandara Schiphol, Amsterdam, Oktober 2014 lalu. Travel bag si anak perempuan
berwarna pink sementara milik anak laki-laki berwarna biru muda.

Yang membikin saya tertarik dengan travel bag itu adalah desain dan fungsinya.
Bentuknya bukan seperti travel bag anak-anak pada umumnya; berbentuk tas punggung,
bergambar kartun, beroda dua di belakang dan memiliki tarikan yang terbuat dari
plastik keras. Akan tetapi, bentuknya seperti koper mini, desainnya dibikin untuk bisa
dan nyaman diduduki, beroda empat, dan memiliki tarikan di salah satu pinggirnya -
bukan di bagian belakang-, mirip tali yang bukan berbahan keras.

Secara umum, desainnya memudahkan anak untuk menariknya hilir mudik. Juga, ketika ada
situasi dimana kita harus menunggu cukup lama saat bepergian, ia dapat dijadikan
tempat duduk bagi anak-anak. Saya benar-benar naksir.

Tadinya saya pikir travel bag dengan model tersebut tidak ada di Indonesia. Jika ingin
beli online pun, saya tidak tahu merknya sehingga mungkin agak sulit untuk mencari di
google. Sementara keberadaan kami di bandara saat itu menuju pulang, sehingga tidak
ada kesempatan untuk mencarinya. Padahal saya kepingin sekali membelikan Azka
bersebab desainnya yang mudah untuk dibawa/ditarik oleh anak-anak serta punya fungsi lebih.

Kami, minimal satu kali setahun, pasti akan melakukan perjalanan keluar pulau; pulang
kampung. Pengalaman selama ini, lebih dari sekali dalam setahun kami mengadakan
perjalanan keluar pulau yang tak hanya pulang kampung sehingga travel bag menjadi
peralatan yang cukup penting buat kami.

Jika Azka sudah berusia sekitar dua tahunan, saya berencana secara bertahap akan
memintanya untuk mengurus pakaian dan perlengkapannya sendiri saat kami akan
melakukan perjalanan, lalu membawanya sendiri, sehingga keberadaan travel bag khusus
untuknya merupakan hal yang penting.

Saat penerbangan dari Jakarta ke Pontianak, saya iseng membuka-buka majalah yang
memuat barang-barang yang dijual maskapai tersebut. Ternyata, maskapai itu menjual
travel bag yang saya inginkan, juga tidak harus langsung membelinya di atas pesawat
saat itu juga, sebab mereka punya webshop bagi pelanggan yang ingin belanja online.

Saya girang sekaligus garuk-garuk kepala saat melihat harganya yang hampir tujuh ratus
ribu rupiah. Akan tetapi, niat ingin membelikan Azka benda itu tidak surut sama
sekali, sebab bisa dibilang, travel bag adalah salah satu peralatan homeschooling yang
saya perlukan untuk melatih Azka mandiri.

Membelinya dengan langsung mengeluarkan kocek segitu memang akan membuat benda itu
terasa cukup mahal. Maka saya pun putar otak, menghitung ini itu, dan aha, saya punya
sebuah cara agar dapat membelinya, juga sekaligus tidak merasakan benda itu sebagai
benda mahal saat membelinya, yaitu Menabung.

Jika Azka menabung dua ribu rupiah saja sehari, maka dalam waktu setahun Azka dapat
mengumpulkan sekitar 720 ribu rupiah, jumlah yang lebih dari cukup untuk membeli
travel bag itu. Lagi pula, mengajarkannya untuk membawa barangnya sendiri saat kami
melakukan perjalanan mulai tahun depan tidaklah terlambat, sebab usianya nanti baru
2,5 tahun.

Yang paling penting, selama setahun ini, saya bisa mengajarkannya beberapa hal lagi,
yaitu pelajaran "menabung terlebih dulu jika ingin membeli sebuah benda", serta
pelajaran "kemampuan menunda keinginan untuk sementara waktu". Dua pelajaran ini
termasuk dalam pelajaran "kemampuan mengendalikan diri", dimana kemampuan ini
merupakan salah satu faktor penting yang akan menentukan keberhasilan anak dalam
mencapai impiannya kelak.

Lalu, awal Nopember 2014 lalu, mulai lah Azka menabung. Tabungannya dibuat dari toples
plastik yang sedikit transparan. Bulat dan cukup tinggi. Saya minta tolong suami untuk
memberi lubang memanjang pada permukaan tutup toples tersebut. Sengaja saya buat dari
toples agar mudah dibuka, dirapikan, dan ditutup kembali jika uang di dalamnya sudah
lumayan penuh. Warnanya yang agak transparan, yang membikin uang-uang di dalamnya
sedikit kelihatan, menjadi daya tarik tersendiri bagi Azka.

Saya usahakan setiap hari mengajaknya menabung. Azka juga senang dengan kegiatan ini,
apalagi jika yang dimasukkannya uang logam. Untuk uang logam, ia bisa memasukkannya
sendiri, namun untuk uang kertas, saya lipat dan cantolkan dulu di lubangnya, baru
setelah itu, Azka yang menekannya masuk.

Sejauh ini, sejak usianya 16 bulan, jika melihat duit, Azka akan bilang,"Du tii...
(duit), bah buu... (nabung)." Melalui kegiatan ini, kosa kata yang dimilikinya
setidaknya jadi bertambah (meski kadang-kadang sobekan kertas bertulisan yang sebesar
uang kertas masih dibilangnya duit). Selain itu, ia juga mulai mengasosiasikan duit
dengan kegiatan menabung. Jika ia melihat uang, di mana pun berada, ia akan bilang,"Du
tii... (duit), bah buu... (nabung)."

Target lain saya dari kegiatan menabung ini, selain latihan menabung secara khusus dan
latihan mengendalikan diri secara umum, juga mengajarkan pada Azka (dan mengingatkan
diri saya sendiri) untuk menghargai uang sebab itu adalah hasil keringat sang pencari
nafkah, sekecil apa pun nilainya. Juga bahwa, sekecil apapun nilai uang, jika terus
dikumpulkan secara konsisten, jumlahnya bisa menakjubkan.

Menabung sebesar dua ribu rupiah saja perhari, jika konsisten dilakukan dalam satu
tahun saja dulu, sudah bisa membeli sebuah perlengkapan yang nilainya sekitar tujuh
ratus ribu rupiah. Pemikiran ini berawal dari, terkadang, bersebab nilainya yang
kecil, uang kertas senilai dua ribu rupiah ini mudah saja digeletakkan di mana-mana
dan cuek-cuek saja jika hilang.

Lalu, juga ada pembelajaran umum yang didapat dari menabung sedikit demi sedikit lalu
lama-lama menjadi bukit ini, yaitu pembelajaran tentang proses. Proses (apa pun itu)
yang rasanya remeh temeh, yang rasanya nilainya kecil dan nyaris takberarti -misal,
membaca lima menit sehari atau menulis satu paragraf sehari-, jika terus dilakukan
dengan konsisten, pada suatu waktu akan membuahkan hasil yang menakjubkan. Hal ini
juga akan membuatnya paham bahwa segala sesuatu yang ada, tidak tiba-tiba jatuh dari
langit, akan tetapi semua yang ada pasti telah melewati serangkaian proses.

Akhirnya, kami menyepakati, ke depannya, jika Azka memiliki keinginan dan kebutuhan
tertentu yang harganya lumayan tinggi namun tidak terlalu mendesak, kami akan
mengarahkannya untuk menabung terlebih dulu; memastikan harga benda tersebut,
menetapkan waktu benda itu akan dibeli (jika ada deadline-nya), lalu menghitung ini
itu-nya sehingga didapatkan angka berapa rupiah ia harus menabung perhari atau per dua
hari atau perminggunya. Lihatkan, di sini pun ia tidak hanya belajar menabung, tapi
juga belajar logika matematika, belajar menetapkan dan memastikan tujuan, belajar
memotong-motong proses yang panjang hingga menjadi langkah-langkah kecil yang akan
dilakukannya perhari atau perminggu, belajar melakukan sesuatu secara konsisten, dan
barangkali masih banyak lagi.

Ke depannya, materi mengelola keuangan tentu juga akan masuk ke dalam program
homeschooling kami. Di mulai dari latihan menabung/menyimpan uang; menabung dulu
untuk membeli/melakukan sesuatu yang diinginkan (tidak langsung membelinya saat itu
juga) dan menabung yang tidak untuk tujuan membeli benda tertentu, tapi untuk
mengantisipasi hal-hal takterduga yang terjadi di masa datang yang bisa jadi
membutuhkan uang yang tidak sedikit.

Lalu, berikutnya, tentu, akan ada juga latihan menghasilkan uang. Dalam bayangan saya,
kelak nanti jika Azka sudah memahami fungsi dan nilai uang, saya akan mengarahkannya
untuk "bekerja" dulu jika ingin mendapatkan uang atau meminta uang dari orang tuanya.
Bahkan jika uang yang dimintanya itu untuk tujuan menabung. "Bekerja" di sini, tentu
sesuai kemampuannya, misal, ia harus mengajari saya terlebih dulu sebuah keterampilan
yang telah dikuasainya, atau ia membikin hasil karya lalu mempresentasikannya pada
saya yang jika saya membeli hasil karyanya, benefit apa saja yang akan saya dapatkan.
Atau, bisa juga, saya memintanya terlebih dulu untuk melakukan suatu kegiatan jika ia
ingin mendapatkan uang, misal membuat atau menghias pigura foto, membuat sebuah lagu,
menjadi juru potret saya, membuat gambar-gambar untuk di pajang di dinding, lalu, ia
akan menerima kompensasi atas jasanya.

Untuk latihan menghasilkan uang ini, saya akan menghindari memberinya kompensasi atas
bantuan yang telah dilakukannya, (misal, ia membantu saya berbenah rumah). Saya juga
akan menghindari untuk memberinya kompensasi jika saya membutuhkan bantuannya
untuk melakukan suatu hal, misal saya meminta tolong padanya untuk menjemur pakaian.
Hal itu saya maksudkan agar ia mampu membedakan antara memberi bantuan dan
melakukan pekerjaan-pekerjaan yang memang dapat dilakukannya untuk menghasilkan uang.

Kemudian, setelah latihan menghasilkan uang, berikutnya akan ada latihan mengelola
keuangan. Setelahnya juga akan ada latihan memutar uang.

Bahasan tentang pengelolaan keuangan lainnya, rencananya akan saya bahas lebih detail
di tulisan lain.


Salam,


Ananda Putri Bumi

4 comments: