Multiple Intelligence | Kecerdasan Kinestetik | Kecerdasan Naturalis | Kecerdasan Musikal
Acuan apa yang akan kami pakai dalam menentukan mainan untuk Azka? Beberapa waktu lalu, pertanyaan itu berputar-putar di kepala saya. Saya merasa, kami perlu membuat parameter itu agar mainan yang dibelikan, selain bermanfaat untuknya, juga tidak membuat kami jadi boros dalam belanja mainan.
Yang pasti, berdasarkan tulisan saya sebelumnya (Semua benda di rumah adalah mainan Azka, semua ruangan di rumah adalah tempat bermain Azka), salah satu ukuran yang kami pakai adalah, selama bisa menyediakan benda aslinya, kami tidak perlu lagi membelikan versi mini atau versi tiruannya. Jika saya sedang memasak, biasanya Azka juga sibuk memasak "masakannya" sendiri. Saya membiarkannya memakai wajan, sutil, piring, mangkok serta bahan-bahan masakan yang ada di dapur. Kadang-kadang ia meminta bahan-bahan yang akan saya masak. Saya sisihkan sedikit untuk "dimasaknya". Untuk kompornya, saya berikan kompor listrik bekas yang sudah tidak kami pakai.
Jika sudah bosan memasak sendiri sementara saya masih sibuk dengan kegiatan memasak, biasanya Azka kepingin nimbrung. Jika saya sedang mengaduk adonan tertentu, saya biarkan Azka ikut serta mengaduknya. Jika saya sedang memotong-motong, biasanya Azka akan menarik sebuah kursi ke dekat saya berdiri, menyuruh saya duduk, lalu ia pun minta dipangku. Itu tandanya, ia kepingin melihat kegiatan saya. Saya penuhi keinginannya, saya pangku Azka, lalu saya lanjutkan kembali memotong-motong sambil meladeni pertanyaannya. Jika saya sedang di depan kompor, biasanya Azka kepingin digendong agar dapat melihat apa-apa yang sedang saya masak di atas kompor. Saya lalu menggendongnya sambil memasak. Semua itu saya lakukan agar Azka tidak merasa asing dan berjarak dengan kegiatan memasak.
Mengutip pernyataan Howard Gardner, tokoh kecerdasan majemuk, dalam "Sekolah Para Juara"-nyaThomas Amstrong, bahwa beberapa kecerdasan muncul lebih dulu dibanding beberapa kecerdasan lainnya, maka saya pikir, menggunakan teori kecerdasan majemuk ini sebagai acuan dalam menentukan jenis mainan Azka, ada baiknya juga. Ketika saya ungkapkan hal itu pada suami, ia menyetujuinya. Jadi, tujuan mainan yang dibeli adalah untuk terus mengasah dan mengembangkan beberapa kecerdasannya yang telah muncul. Kecerdasan yang saya maksud di sini, tentu bukan kecerdasan akademis yang berkaitan dengan kegiatan membaca, menulis, dan berhitung.
Beberapa kecerdasan, dari keseluruhan kecerdasan majemuk, yang sudah muncul pada dini adalah kecerdasan kinestetik, kecerdasan berbahasa (lisan: mengucapkan kosakata dan kalimat sedehana), kecerdasan naturalis (ketertarikan pada hewan dan benda-benda di sekitar), kecerdasan musikal (ketertarikan pada bunyi-bunyian), kecerdasan intrapersonal (mampu merasakan dan mengenal emosi yang sederhana), serta kecerdasan interpersonal (mampu membedakan ekspresi wajah, gerak, isyarat). Munculnya kecerdasan ini, salah satunya dapat dilihat dari ketertarikan anak terhadap suatu hal atau kegiatan.
Untuk mengasah kecerdasan naturalisnya, saat ini kami membelikan Azka boneka hewan. Kami pilihkan boneka yang benar-benar mirip hewan asli. Bukan hewan jadi-jadian seperti angry bird, mickey mouse, donald duck, dan lainnya. Boneka-boneka ini dibelikan karena kondisi kami belum memungkinkan untuk memelihara hewan asli. Kepinginnya sih suatu saat Azka punya beberapa hewan peliharaan.
Penamaan boneka hewan ini pun disesuaikan dengan jenis atau suaranya. Boneka kuda ya namanya kuda. Boneka kucing ya namanya kucing atau meong. Boneka harimau ya namanya harimau atau aum. Boneka anjingnya bernama gukguk. Boneka kura-kura-nya bernama kura-kura. Begitu pula dengan bebek, gajah, dan hewan lainnya. Kami tidak mengarahkan Azka untuk memberi nama mumu, nyitnyit, bobo, atau yang sejenisnya, agar ketika suatu saat Azka bertemu dengan hewan asli, Azka tidak menyebutnya dengan nama mumu atau nyitnyit, tetapi menyebutnya kuda, atau gajah, atau gukguk.
Selain dipakai untuk parameter dalam membeli mainan, secara mengalir, ukuran ini ternyata juga terterapkan dalam memilih kegiatan untuk Azka. Ketika sedang belanja di pasar swalayan atau pasar tradisional (jika mereka ikut), sementara saya berbelanja, Azka dan abi biasanya sibuk melihat-lihat ikan, ayam, dan lainnya.
Kecerdasan naturalis ini juga saya asah dengan mengajak Azka jalan-jalan sore. Sambil berjalan, saya kenalkan ia pada bunga, rumput, daun, batu, tanah, rumah, pohon, pasir, tanah, bermacam jenis kendaraan, dan lainnya. Semakin bertambah usiaya, obrolan yang dilakukan pun makin meluas, dari yang tadinya saya hanya menjawab pertanyaan "apa ini" darinya, hingga pertanyaan tentang kepemilikan (rumah orang lain, layang-layang abang, motor om) dan pertanyaan "mana?" jika apa-apa yang dilihatnya sudah tak terlihat lagi.
Tujuan dari mengasah kecerdasan naturalis ini adalah agar kelak Azka merasa dekat dan peduli dengan hewan dan lingkungannya. Saya meyakini, jika kecerdasan ini terus diasah dengan konsisten, dengan terus mendekatkannya pada hewan dan lingkungan, dengan mendampinginya menjawab pertanyan "mengapa begini, mengapa begitu" seputar hewan dan lingkungan, kelak ia tidak hanya sekedar kepingin tahu "apa ini", akan tetapi juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian hewan dan lingkungan. Kepedulian terhadap hewan dan lingkungan adalah bagian dari akhlak untuk menjaga bumi-Nya dari kerusakan.
Untuk kegiatan liburan nanti pun, pilihan prioritas adalah mengunjungi kebun binatang dan taman safari.
Nah, untuk mengasah kecerdasan kinestetiknya, kami membelikannya mainan yang menstimulasinya untuk bergerak. Bola, agar ia berlari, menendang, melempar, menangkap. Tadinya sih saya kepingin membelikan bola aslinya, bola kaki, bola basket, bola voli. Tetapi kata suami, bola asli itu berat, belum kuat dimainkan anak-anak seusia Azka (20 bulan). Ya sudah, bola-bolaan saja kalau begitu untuk saat ini. Lalu, mainan yang mengeluarkan melodi selama beberapa saat agar ia menari, berputar, melompat.
Untuk kegiatan yang berkaitan dengan kecerdasan ini, selain memanfaatkan tangga di rumah untuk kegiatan naik-turun dan kasur untuk area guling-guling dan salto, jogging di stadion gor pontianak setiap sabtu dan minggu pagi adalah kegiatan bersama yang kami pilih saat weekend. Sebulan sekali, kami juga mengajak Azka berenang. Khusus di hari minggu, sebelum menuju gor, kami menikmati waktu berjalan-jalan di area car free day terlebih dulu.
Di car free day inilah saya mengetahui ada klab in line skate khusus untuk anak, di kota ini. Setiap hari minggu mereka berkumpul dan berkegiatan di car free day dengan memakai t-shirt berkerah bewarna hijau yang bertuliskan keterangan klab di bagian punggung atas kanan; seragam klab. Sependek pengamatan saya, rentang usia anak yang tergabung dalam klab ini sekitar empat atau lima, hingga belasan tahun.
Kanak-kanak mana yang tidak suka ber-in line skate? Apalagi jika kegiatan itu dilakukan ramai-ramai. Seru dan menantang. Tentu saja, bergabung di klab ini adalah salah satu rencana kami untuk Azka nanti. Dari sekarang, kami membiasakannya melihat para anggota klab itu berkegiatan. Itu artinya, in line skate masuk ke dalam daftar mainan atau perlengkapan yang akan kami belikan untuk Azka.
Kegiatan lain yang saya kepingin Azka untuk ikut, yang berkaitan dengan pengembangan kecerdasan kinestetiknya adalah kegiatan bela diri. Saat ini saya sedang mencari tahu klab bela diri apa saja yang ada di pontianak dan untuk rentang usia berapa tahun.
Untuk liburan nanti pun, pilihan prioritas akan berkisar pada kegiatan bergerak seperti berenang, jalan pagi di area car free day, jogging di taman-taman, mengunjungi arena permainan sepak bola untuk toddler (jika ada), mengunjungi beberapa arena olah raga dan melihat kegiatannya agar pengetahuan azka tentang jenis-jenis olah raga bertambah, dan sebagainya.
Kemudian, dalam mengasah kecerdasan musikalnya, mainan yang dibelikan adalah miniatur alat musik dan mainan yang mengeluarkan melodi. Untuk alat musik pukul, saya memanfaatkan benda-benda yang ada di rumah. Untuk memperkenalkan azka pada alat musik asli, saya bawa Azka ke kampus seni tempat abinya mengajar. Di sana ia puas bermain drum, piano, biola, gitar, dan lainnya.
Kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan kecerdasan musikal ini sudah pernah saya bahas (Mendengarkan, Meniru, dan Menciptakan Bunyi-bunyian).
Ke depannya, rencana kami selanjutnya adalah mengikutkan azka kursus drum di usia tiga tahun nanti. Terlebih lagi, dalam beberapa waktu ke belakang ini ia sangat tergila-gila dengan drum. Hampir setiap hari ia bilang kepingin main drum. Drum asli, bukan drum dari galon atau kaleng biskuit. Saat kami perlihatkan mainan drum di salah satu toko mainan anak pun ia tak berminat. Ia baru antusias saat kami mengunjungi toko alat musik dan menemukan drum asli di sana. Azka pun asik memukul-mukul dan takmau diajak pulang. Untungnya, di saat ia kepingin sekali main drum, di saat itu pula ada kegiatan abi yang memungkinkan azka ikut serta dan ia dapat bermain drum dengan puas di sana.
Oya, awal dari keinginan menggebu-gebunya itu, ketika ia melihat gambar drum di salah satu karpet di rumah. Ia mengenal gambar itu sebab pernah beberapa kali main drum di kampus tempat abi mengajar. Azka menunjuk-nunjuk gambar itu berulang-ulang seraya bilang, " ini, ini, main...(ia selalu bilang "main" jika melihat alat musik)."
"Oh, itu drum," ucap saya dengan memperagakan gerakan orang main drum sambil menirukan bunyi hasil pukulan drum. Azka pun lantas bilang, "mau umi, main, mau main ini, dyam, dyam." Beberapa hari berturut-turut Azka selalu mengatakan hal itu setiap melihat gambar di karpet.
Bagi saya, keinginannya itu ya seperti kata pepatah "pucuk di cinta ulam pun tiba". Jauh sebelumnya, abi juga pernah mengusulkan, saat Azka tiga tahun nanti, akan dikursuskan drum. Kala itu abi sedang menunjukkan pada saya, penampilan dua anak usia sekitar empat tahunan sedang bermain drum dan keyboard di televisi. Saat saya tanya mengapa drum, bukan alat musik yang lainnya, abi mengatakan, drum adalah salah satu alat musik paling mudah dimainkan oleh anak usia dini yang paling banyak membutuhkan gerakan dan koordinasi anggota tubuh. Cocok untuk anak-anak yang sedang butuh banyak bergerak. Saya sepakat. Bermain drum akan memperkuat otot tangannya, yang akan digunakannya untuk menulis kelak.
***
Ternyata, dengan dibuatnya ukuran untuk memilih mainan dan permainan atau kegiatan untuk Azka, lebih memudahkan kami dalam memilihkan berbagai mainan dan kegiatan untuknya. Serta, tujuan dari dibelikan mainan dan berkegiatan itu pun menjadi jelas dan terarah. Selain itu, ukuran ini dapat menjadi landasan kami dalam mengabulkan atau menolak permintaan Azka kelak, ketika ia sudah bisa meminta dibelikan mainan. Dan saat ini (sejak 18 bulanan) ia sudah mulai bisa meminta, mau ini, mau itu. Jika tidak boleh, kami dapat menyampaikan alasan yang jelas, tidak hanya sekedar bilang "tidak boleh" atau hanya memakai alasan "mainanmu kan sudah banyak di rumah". Pun jika boleh, kami paham tujuan dibelikan mainan itu untuk apa.
Ringkasnya, beberapa ukuran itu adalah:
1) Pembelian, pemberian, dan pemilihan mainan dan kegiatan disesuaikan dengan kemunculan kecerdasannya, merujuk pada teori kecerdasan majemuk Howard Gardner.
2) Selama masih bisa memberikan atau membelikan benda aslinya, kami akan memprioritaskan benda aslinya. Ketika Azka kepingin main masak-masakan, saya berikan wajan, sutil, dan kompor asli, tidak perlu membelikan mainan masak-memasak. Kalau Azka kepingin main alat musik, ya main ke kampus abi saja, di sana tersedia banyak alat musik asli (hihihiii...). Takperlu dibelikan gitar plastik atau drum-druman. Kalau kepingin main laptop, pake laptop abi aja takperlu beli laptop-laptop-an (hihihiii lagiii...).
3) Kalau kami belum bisa memberikan benda aslinya, ya diberikan yang semirip mungkin dengan benda aslinya. Bersebab belum bisa memelihara hewan asli, saat ini kami berikan Azka boneka hewan yang dipilih semirip mungkin dengan hewan asli. Kami juga usahakan agar Azka dapat melihat langsung hewan asli melalui kunjungan ke kebun binatang. Pengetahuan tentang hewan jadi-jadian itu nanti saja.
Pembahasan untuk mainan dan kegiatan pada beberapa kecerdasan lain akan saya bahas pada tulisan lain. Rasanya tulisan ini akan terlalu panjang jika saya satukan di sini.
Salam,
Ananda Putri Bumi
No comments:
Post a Comment