Thursday, April 23, 2015

Bukan Melarang, Mengatur, dan Mengendalikan, tetapi Memfasilitasi, Memberi Ruang Bereksplorasi, Mencontohkan, Mengajak, dan Mengarahkan Pada Saat yang Tepat

Kemandirian | Latihan Hidup Sehari-hari | Multiple Intelligence


Azka memiliki tempat piringnya sendiri, sejak usia 19 bulan. Tempat itu terletak dalam jangkauannya. Ada beberapa mangkok, piring, cangkir, sendok, dan garpu di dalamnya. Jadi, jika ia kepingin makan atau minum, saya minta ia sendiri yang mengambil peralatan makannya. Dengan begitu, Azka makin mampu membedakan antara piring dan mangkok, sendok dan garpu. Kadang-kadang, jika peralatan makannya baru selesai dicuci, Azka juga kami ajak dan contohkan untuk menaruhnya sendiri.

Azka juga memiliki tempat pakaian kotor sendiri. Tiap akan mandi, saya mengajaknya untuk bersama-sama, lalu mencontohkan untuk meletakkan pakaian kotornya di tempat yang telah disediakan.

Azka suka sekali buah Lengkeng. Baru-baru ini, Azka (21 bulan) sudah bisa membuka sendiri kulit lengkeng dengan cara digigit. Sekarang, ia kerap menolak jika saya menawarkan bantuan untuk membukakan kulit lengkeng yang akan dimakannya. Kepingin membukanya sendiri.

Di rumah, kami memiliki jemuran setinggi dagu Azka. Jika saya sedang menjemur kain, bebadapa kali ia ikut menyampirkan cucian baju pada tali jemuran, lalu berusaha menjepitnya dengan jepitan baju. Meski tentu saja, hasil pekerjaannya belum sempurna. Saya biarkan saja susunan baju-baju yang dijemurnya sebagaimana adanya.

Kami juga menyediakan gantungan baju sejangkauannya agar dia bisa menggantung sendiri baju-bajunya yang telah saya setrika. Salah satu kegiatan yang disukainya.

Jika akan naik atau turun tangga di rumah, Azka melakukannya sendiri. Ia sudah jago sekali naik tangga. Memasuki usia 20 bulan, ia juga sudah bisa turun tangga sendiri.

Sejak usia 21 bulan, Azka tidak pernah lagi dengan sengaja memperlakukan hp dengan tidak semestinya, seperti sengaja menjatuhkan atau melempar, menginjak, atau memukul-mukulkannya pada lantai. Ia memperlakukan hp seperti halnya kita memperlakukan. Meski tentu, belum sempurna.

Jemari Azka (21 bulan) juga sudah cukup stabil dan terkendali dalam mengoperasikan touchscreen hp. Bila ia kepingin membuka app drum, biola, gitar, atau pun piano di-hp, ia sudah bisa melakukannya sendri. Pun jika Azka kepingin melihat rekaman kegiatannya, ia juga sudah bisa membuka dan memilih-milih rekaman yang akan ditontonnya.

Jika kepingin minum, Azka juga sudah memiliki inisiatif mengambil cangkir sendiri dari tempat piringnya, lalu menggeser kursi ke dekat meja dispenser dan meminta saya duduk, setelah itu ia meminta saya untuk memangkunya, lantas meletakkan cangkir yang dibawanya di bawah keran dispenser dingin, menunjuk keran dispenser panas seraya bilang, "anas" dan menunjuk keran dispenser dingin seraya bilang "ninin", kemudian menekan keran dispenser dingin hingga airnya keluar.

Azka memiliki beberapa cangkir yang ada tutupnya, yang tutupnya harus diputar jika ingin menutup cangkir itu erat. Suatu hari ia mengetuk-ngetuk kamar mandi memanggil-manggil saya yang sedang berada di dalam dan memperlihatkan keberhasilannya dalam menutup cangkir itu. Rapi dan erat.

Suatu kali, Azka (ketika ia 20 bulan) bermain- main dengan sekumpulan meal boxes, menebarnya dan menjadikannya alat musik pukul. Setelah puas bermain, ia bangkit dari duduknya, dan bilang, "tayok agi", lalu meletakkan kembali box-box itu pada tempat semula. Hal itu kerap terjadi hingga sekarang tanpa sekalipun saya menyuruhnya.

Sejak ia 18 bulan hingga kini, setiap saya sedang menyapu dan memasukkan sampah hasil sapuan ke dalam cikrak, Azka buru-buru mengambil cikrak itu dan berjalan menuju tempat sampah, lalu membuang sampa-sampah yang ada di dalamnya. Kini, ia pun kepingin, ia sendiri yang menyapukan sampah itu ke dalam cikrak.

Bersebab tanah di sini tanah rawa, kadang-kadang ada kaki seribu yang masuk ke dalam rumah. Jika kebetulan Azka melihatnya, ia langsung sibuk mencari sapu, mengarahkan saya untuk membuka pintu, lalu mendorong kaki seribu itu dengan sapu ke arah luar rumah. Salah satu tugas Azka sekarang adalah menyingkirkan kaki seribu dari dalam rumah. Kadang, sebelum membuangnya, ia memperhatikan dulu kaki seribu itu lama-lama sambil bilang, "kaki ebu, kaki ebu." Kepo.

Apa itu karena saya selalu berusaha untuk mengajarinya?

Saya tidak pernah mengajarinya.

Saya dan suami hanya memberikan sarana dan memberinya ruang untuk melakukan aktivitas yang kepingin dilakukannya.

Yang kami lakukan hanya membiarkannya bereksplorasi, dan membiarkan rumah berantakan bersebab eksplorasinya.

Yang saya lakukan hanya menahan diri untuk tidak melarang-larangnya dan menahan diri untuk tidak mengatur-aturnya, apalagi berusaha mengendalikannya.

Suatu kali, ketika ia sedang bermain sendok, saya pernah mencoba mengaturnya dengan mengatakan, "kalau sudah selesai main, tarok lagi di tempatnya ya." Azka lalu bangkit berdiri dan bilang, "gak!" Kemudian dengan cueknya berlari meninggalkan sendok-sendok itu dan bermain yang lainnya.

Yang saya lakukan adalah mencermati aktivitasnya, lalu "masuk" pada situasi yang tepat, yaitu ketika ia siap untuk mendengarkan, baru saya berikan arahan.

Ketika Azka kepingin bermain beras, saya biarkan. Lalu ketika ia akan membuang segenggam beras ke lantai, saya bilang, "berasnya masukin kesini ya," sambil saya berikan sebuah wadah. Kini, setiap sedang main beras, tepung, kacang hijau, makaroni, Azka selalu mengambil wadah lain untuk menuangnya. Ia tidak lagi menyerakkannya ke lantai. Tapi tentu saja ya, tetap masih ada yang berceceran di lantai.

Ketika Azka kepingin bermain hp, saya berikan. Kalau kebetulan ia bermain hp di dapur, di bawah kompor pula, saya bilang, "Azka kalau mau main hp di depan (ruang tamu) ya." Ia akan segera bangkit dan berjalan ke ruang tamu.

Kalau Azka kepingin minum dari gelas kaca, saya izinkan. Tapi, sebelum ia minum, saya bilang, "minumnya sambil duduk ya." Azka pun akan segera duduk.

Kalau ia sedang main hp, lalu kesulitan menemukan hal yang dicarinya, Azka akan berteriak bilang, "Cucaah, cucaah," atau "Nggak ica, nggak ica." Saat itulah saya "masuk" dan memberinya pengarahan.

Jika Azka kepingin memanjat-manjat di area dekat televisi, saya biarkan. Ia senang sekali mengutak-atik tombol-tombol di tv dan speaker. Saya cuma bilang, "Azka kalau mau naik-naik, bilang umi ya." Dan setiap ia akan memanjat, ia selalu bilang, "Mii, Aca aiik (umi, Azka mau naik)." Segera saya gelar matras di bawahnya, agar jika ia terjatuh, tidak terlalu sakit.

Yang kami lakukan adalah mencontohkan. Ketika Azka menumpahkan air, langsung saya pel lantainya tanpa melarangnya kembali untuk menumpahkan. Ketika ia selesai bermain dengan piring-mangkoknya yang ia tumpahkan dan sebar ke penjuru ruangan, setelah ia selesai main, saya kumpulkan mainannya ke tempatnya tanpa melarangnya untuk bermain dan menebarnya kembali. Setiap ada sampah di lantai, langsung saya pungut dan buang ke tempat sampah. Azka melihat dan merekam semuanya, lalu menirunya.

Ketika ia menumpahkan air, ia akan mencari kain pel dan mengelapnya sendiri. Ketika menemukan sampah, ia akan memungut lalu membuangnya tanpa disuruh. Ketika ada semut di lantai, Azka langsung ambil sapu dan menyapu semut-semut itu. Yaaa... meski semut-semutnya jadinya bertebaran di mana-mana sih...

Ya memang ada saatnya saya akan bilang "Azka boleh main ini itu asal nanti dibereskan lagi," tapi ya itu nanti, bukan sekarang di saat ia masih 21 bulan ini.

Yang kami lakukan adalah mengajaknya melakukan suatu hal. "Yuk, kita masukkan baju kotor Azka ke tempatnya." Saya juga ikut mendampinginya berjalan ke tempat keranjang kotor, memasukkan sehelai, lalu meminta Azka memasukkan yang lainnya.

Saya meyakini, dari pengalaman, pengamatan, dan bacaan, pola asuh yang terlalu banyak melarang, mengatur, dan mengendalikan tidak akan membuat anak banyak belajar. Pola asuh tersebut hanya akan menimbulkan banyak perselisihan antara orang tua dan anak. Orang tua akan menganggap anak keras kepala dan suka melawan karena tidak mau menurut. Anak akan menganggap orang tua terlalu banyak melarang dan mengatur. Jadi, jika pola asuh tersebut tidak banyak membuahkan hasil, malah hanya membuat orang tua dan anak kerap berselisih, mengapa harus diteruskan?

Anak-anak itu adalah mahluk yang penuh energi. Badan mereka masih segar dan sehat. Tidak seperti kita yang sudah banyak sakit di sana sini dan cepat lelah. Menyuruh orang yang memiliki energi penuh, yang badannya masih segar dan sehat untuk melulu duduk diam, melarang mereka untuk bergerak ke sana kemari, bukankah itu hal yang mustahil? Selama badan kita segar, sehat, penuh energi, pasti kita kepinginnya bergerak terus. Begitu pun anak-anak.

Pembelajar dan mandiri sebenarnya adalah sifat alami manusia. Proses belajar adalah proses yang didahului oleh rasa ingin tahu, dan berlanjut dengan pengulangan-pengulangan. Sementara, kemandirian ditandai dengan berusaha melakukan sesuatu sendiri, tanpa mengandalkan orang lain. Bukankah hal ini sangat kental terlihat pada anak-anak?

Azka, tidak mau disuapi. Kepingin buka buah lengkeng sendiri. Kepingin mengambil air sendiri dari dispenser. Ketika minum, gelasnya tidak mau dibantu dipegangi. Kepingin menyalakan dan mematikan televisi, lampu, kipas angin sendiri. Kepingin naik-turun tangga sendiri. Kalau makan ikan atau ayam, tidak mau disuwir-suwir, kepinginnya diberikan utuh, biar ia yang melepasnya dari tulangnya, dan lainnya. Ini adalah tanda-tanda kemandirian, bukan?

Azka, selalu bertanya "apa ini?" ketika melihat sebuah benda. Lalu setelah diberi tahu, ia akan mengulangnya terus. Jika esok harinya ia menemukan benda yang sama, ia akan menyebutnya berulang-ulang kembali. Saya tidak pernah mengajarinya harus menghapal kosa kata ini dan itu. Azka selalu kepingin tahu apa yang sedang saya lakukan. Sampai-sampai ia hapal urutan mencuci dan membilas baju, urutan menanak nasi, dan lainnya. Saya tidak pernah mengajarinya. Ia yang kepingin tahu, lalu kepingin juga melakukannya. Ini adalah sifat seorang pembelajar, bukan?

Lalu mengapa, ketika anak-anak itu menjadi manusia dewasa, sifat pembelajar dan mandiri itu perlahan malah menjadi lenyap? Banyak orang tua yang mengeluhkan anaknya susah disuruh belajar, tidak mau membantu di rumah, dan apa-apa minta diambilkan atau dibantu.

Saya meyakini, sifat mandiri dan pembelajar yang secara alami sudah ada pada manusia sejak kanak-kanak itu malah menjadi lenyap ketika mereka beranjak dewasa,itu adalah akibat pola asuh yang tidak tepat.


Salam,


Ananda Putri Bumi

Thursday, April 16, 2015

Ketika Bayi Azka Senang Mengulum Jari Tangannya

Kemandirian


Dulu, sewaktu Azka sedang senang-senangnya memasukkan tangan ke dalam mulut, ketika usianya masih hitungan bulan, saya membiarkannya. Saya hanya memastikan tangannya selalu dalam keadaan bersih.

Karena dibiarkan, kegiatan memasukkan tangan ke dalam mulut pun makin lama makin berkembang. Dari yang tadinya hanya sekedar mengisap-isap ujung jari, hingga ia berusaha memasukkan kedua tangannya ke dalam mulut lalu mengunyah jari-jarinya. Ia juga sering kelolodan karena jari dan telapak tangannya terlalu dalam masuk ke dalam mulut.

Saya menyadari, membiarkan bayi memasukkan jari-jarimya ke dalam mulut, bahkan hingga dia mengunyah jari-jarinya sendiri sampai kelolodan, adalah diluar kebiasaan. Saya perhatikan, kebanyakan orang selalu melarang bayinya ketika sang bayi hendak memasukkan tangannya ke dalam mulut.

Bahkan, beberapa kali saya menyaksikan, ketika saya membawa Azka ke tempat umum atau sedang berada di tempat kerabat, saat ia akan memasukkan tangannya ke dalam mulut, banyak orang yang berinisiatif sendiri langsung berusaha menjauhkan tangan Azka dari mulutnya. Alasan mereka, tangan itu kotor. Padaha saat itu Azka belum merangkak sehingga tidak sulit untuk selalu mengontrol kebersihan tangannya.

Lalu, mengapa saya biarkan?

Semua bayi, pada usia tertentu, pasti gemar memasukkan tangannya ke dalam mulut, bukan? Semua bayi. Bukan hanya bayi tertentu saja. Sama halnya dengan, semua bayi pada waktunya pasti akan tengkurap, merangkak, lalu berjalan. Artinya, semua bayi memang di desain begitu, akan ada fase di mana mereka gemar memasukkan tangan ke dalam mulut. Lalu siapa yang mendesain mereka seperti itu? Allah.

Apakah Allah pernah menciptakan sesuatu tanpa alasan? Artinya, pasti ada alasannya mengapa Allah menciptakan bayi dengan kegemarannya memasukkan tangan ke dalam mulut. Apakah Allah pernah salah dalam menciptakan atau merencanakan sesuatu? Bagi saya, jawabannya adalah "tidak". Jadi, apakah merupakan sebuah kesalahan atau ketelodaran dari Allah, ketika Ia menciptakan bayi gemar memasukkan tangannya ke dalam mulut pada usia tertentu? Bagi saya, jawabannya adalah "tidak". Allah menciptakan adanya fase oral pada bayi, tentu ada maksud tertentu di dalamnya.

Itulah landasan yang saya pegang saat membiarkan Azka bereksplorasi dengan mulut dan tangannya, bahwa apapun yang dilakukan bayi dan kanak-kanak, saat mereka belum memiliki dosa, adalah arahan dari Allah.

Jika hal itu adalah arahan dari Allah, mengapa kebanyakan orang tua justru melarang? Sebab, ketika mengasuh anak, kebanyakan orang tua memandang bayi adalah mahluk kecil yang belum tahu apa-apa, jadi mesti selalu diajari ini-itu. Mereka lupa bahwa bayi itu di desain oleh Zat yang Maha Sempurna. Kebanyakan orang tua lupa menyertakan Sang Pencipta saat sedang mengasuh dan mendidik anak-anak mereka sehingga tidak pernah menyadari bahwa apa-apa yang dilakukan bayi adalah desain dan arahan dari Sang Pencipta, bukan karena bayi belum mengerti apa pun.

Dengan membiarkan Azka bereksplorasi dengan tangan dan mulutnya, pengetahuan saya malah jadi bertambah. Tadinya saya pikir bayi hanya sekedar mengisap jari tangannya saja. Tapi ternyata mereka mampu memasukkan kedua telapak tangan dan jari-jari mereka ke dalam mulut, lalu mengunyah jari-jari dengan gusi hingga ia kelolodan. Ketika kelolodan, barulah Azka mengeluarkan jari-jarinya dari dalam mulut. Tak berapa lama, kegiatan itu diulanginya kembali. Dengan begitu, saya pun mengetahui bahwa mengunyah adalah juga refleks yang tak perlu diajari kepada bayi seperti halnya mengisap. Bayi sudah tahu dengan sendirinya.

Dan saat pertama kali saya sodorkan pada Azka potongan buah pir ketika usianya enam bulan (seperti yang pernah saya bahas pada tulisan "Ummi, Aku Sudah Tidak Mau Disuapi Lagi"), Azka langsung berupaya mengunyah dengan gusinya, seolah sudah tahu bahwa makanan itu harus dikunyah dulu sebelum ditelan.

Memasukkan jari tangan, mengulum, dan mengunyahnya akan memperkuat otot rahangnya.

Saat bayi sedang merasa cemas atau tidak nyaman, mereka juga akan memasukkan tangannya ke dalam mulut sebagai upaya untuk mengurangi perasaan cemas atau ketidaknyamanannya. Artinya, ketika misalnya bayi sedang berada di tengah keramaian, lalu tiba-tiba ia memasukkan tangannya ke dalam mulut, itu pertanda bahwa bayi sedang merasa tidak nyaman dengan kondisi sekitar, dan ia sedang berusaha menenangkan dirinya dengan caranya. Jika dilarang, dapat dipastikan tak berapa lama kemudian, bayi akan rewel bersebab terus-terusan merasa tidak nyaman.

Melarang bayi memasukkan tangannya ke dalam mulut juga dapat mengganggu tumbuh kembangnya di kemudian hari. Urusan tumbuh kembang bukan hanya menyangkut fisik, tapi juga jiwa. Ada beberapa artikel online yang membahas hal ini dengan cukup jelas. Googling saja.

Belakangan, saya baru tahu kalau membiarkan bayi mengulum dan mengunyah jari tangannya juga akan membantu perkembangan otaknya.


Salam,


Ananda Putri Bumi

Thursday, April 2, 2015

Jenis Permainan yang Dilarang

Akhlak | Multiple Intelligence | Kecerdasan Intrapersonal | Kecerdasan Interpersonal


Suatu hari, saya mendengar abi dan Azka seru sekali bercengkerama di ruang tamu. Ada suara benturan, ada suara abi, dan ada gelak tawa Azka. Bersebab penasaran, saya melongok ke ruang tamu. Saat itu, saya melihat Azka sedang mendorong sepedanya ke arah abi hingga membentur dinding. Abi berpura-pura sepeda itu mengenainya dan meng-"aduh" kesakitan. Azka spontan tertawa melihat ekspresi kesakitan dan dan teriakan "aduh" dari abi. Makin keras Azka membenturkan sepeda ke dinding, maka makin keras abi berteriak dan mengekspresikan kesakitannya, makin berderai pula gelak tawa Azka. Hal itu dilakukan berulang-ulang.

Saya mengernyitkan kening melihat permainan itu. Rasanya seperti ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak berkenan di hati. Akan tetapi, di lain sisi, permainan semacam itu adalah permainan yang tidak asing dimainkan oleh orang dewasa ketika sedang bermain dengan kanak-kanak. Setidaknya sependek ingatan saya. Semacam permainan di mana orang dewasa menjadi objek penderita, entah itu pura-pura tertembak, pura-pura tertabrak, atau pura-pura terkena tendangan anak, kemudian mereka berpura-pura berteriak kesakitan maupun berpura-pura mati, lalu anak-anak pun tertawa menyaksikan drama itu.

Jadi, meski tidak berkenan di hati, saya diamkan dan biarkan saja permainan terus berlanjut, sebab permainan itu memang permainan yang tidak asing. Menjadi objek penderita adalah suatu usaha yang kerap dilakukan orang dewasa demi membuat anak-anak terhibur dan tertawa. Seingat saya, beberapa kali saya juga pernah memainkannya dengan para keponakan saya dulu dan juga dengan Azka saat ini.

Akan tetapi, sungguh berbeda ternyata ketika kita menjadi pelaku dan pengamat. Ketika sedang bermain, saya sama sekali tidak merasakan ada sesuatu yang salah dengan permainan ini. Seru-seru saja. Lain halnya ketika menjadi pengamat. Saat melihat permainan itu, saya merasa ada sesuatu yang salah.

Hingga pada suatu waktu...

Saat itu malam hari. Saya sedang menyiapkan makan malam untuk abi. Azka bersama abi di ruang tamu. Abi sedang tiduran di lantai, sementara Azka duduk di lantai menghadap ke kepala abi. Tiba-tiba sebuah pukulan cukup keras dari telapak tangan mungil itu mendarat di wajah abi. Abi spontan meng-"aduh" kesakitan. Azka tertawa. Belum pulih keterkejutan abi, sebuah pukulan lebih keras mendarat kembali di wajahnya. Teriakan "aduh" abi lebih keras dari yang pertama. Tawa Azka pun menjadi lebih keras. Dan lalu, belum sempat abi menjauhkan diri, pukulan ketiga pun mendarat kembali...

Obrolan singkat pun terjadi antara saya dan suami. Saya bilang, kejadian barusan mengingatkan saya pada permainan "tertabrak sepeda" yang pernah dimainkan Azka dan abi. Polanya mirip. Bedanya hanya, yang kemarin abi pura-pura berteriak kesakitan, sementara yang sekarang, abi benar-benar berteriak kesakitan. Akhirnya kami bersepakat untuk tidak lagi melakukan permainan semacam itu.

Jadi sekarang, jika saya mendapati diri saya mulai melakukan permainan itu, saya segera berhenti dan mengajak Azka bermain yang lain. Jika saya "disakitinya", saya menyampaikan ketidaksukaan saya lewat ekspresi wajah, lalu menjauhinya. Hal itu saya lakukan agar saya tidak membentak atau memarahinya. Anak-anak sangat mahir membaca ekspresi. Pada bulan-bulan awal hidup mereka, anak-anak berkomunikasi lewat ekspresi wajah dan tubuh.

Jika saya tidak dapat menghindar, misal ketika Azka menggiggit atau mencubit dengan kuku, sambil memperlihatkan ekspresi tidak suka, saya bilang, "Umi kesakitan Azka cubit. Lepas!" Azka pun akan melepas cubitan atau gigitannya. Lewat penyampaian ekspresi dan kalimat verbal, saya usahakan untuk menyampaikan "apa yang saya rasakan (dengan mengatakan: umi kesakitan)", "bahwa saya tidak suka diperlakukan begitu (dengan ekspresi wajah dan tubuh)", dan "apa yang harus dilakukannya (dengan mengatakan: lepas!)".

Saya menghindari pemakaian kata "jangan" atau "tidak boleh" seperti kalimat "tidak boleh gigit-gigit orang ya..." atau "jangan begitu ya..." sebab kalimat itu tidak menyampaikan informasi apa pun pada anak. Anak akan tetap melakukan apa yang sedang dilakukannya. Singkatnya, lebih baik menyampaikan dengan jelas, perilaku apa yang kita kita harapkan untuk dilakukan anak. Misal (ini contoh yang lain), ketika Azka mulai memukul-mukulkan handphone pada lantai, saya tidak akan bilang, "Azka tidak boleh begitu ya" atau "eh, jangan dipukul-pukul, nanti rusak hp-nya". Sebab, saya yakin ia tidak akan mengubah perilakunya, kadang malahan, ia akan memukul lebih keras lagi. Tetapi, yang saya katakan adalah, "dipeluk dong hp-nya." Azka pun akan segera memeluk hp ditangannya dan berhenti memukul-mukulkannya pada lantai.

Baru setelahnya, akan ada dialog-dialog sederhana yang dilakukan untuk menjelaskan pertanyaan "mengapa" dibenaknya.

*****

Kejadian itu menjadi pengingat bagi saya bahwa anak-anak belajar setiap saat, kapan pun, di mana pun, dan dalam situasi dan kondisi bagaimana pun. Termasuk saat mereka sedang bermain. Bagi orang dewasa, permainan ya permainan saja, untuk menghibur dan untuk hiburan. Namun bagi kanak-kanak, belum ada batas antara permainan dan kenyataan. Tanpa kita sadari, banyak pesan-pesan yang tersampaikan pada anak lewat permainan, baik pesan positif ataupun negatif. Untuk itu, perlu diperhatikan benar jenis permainan yang dimainkan bersama anak.

Barangkali pikiran saya terlalu berlebihan, akan tetapi jujur saja, permainan itu mengingatkan saya pada kasus penganiayaan dan pembunuhan seorang perempuan yang dilakukan oleh mantan pacarnya yang sudah memiliki kekasih lain. Mantan pacar dan kekasihnya melakukan pembunuhan itu bersama. Setelah menganiaya dan membunuh, tak tersirat penyesalan sama sekali dari wajah mereka. Bahkan wajah-wajah itu terlihat puas. Kepuasan yang terlihat dari wajah-wajah mereka inilah yang menjadi salah satu berita menggegerkan selain pembunuhan itu sendiri.

Seperti yang sudah saya ucapkan di atas, barangkali pikiran saya terlalu berlebihan. Saat membaca tulisan saya ini, barangkali akan ada yang nyeletuk, "Gak segitunya juga kellees". Akan tetapi, meski mungkin tidak akan sebegitunya, saya meyakini jenis permainan semacam di atas, jika dimainkan terus menerus, lama-kelamaan akan menghilangkan sensitifitas anak terhadap penderitaan orang lain, baik saat ini maupun saat ia dewasa nanti. Penderitaan orang lain akan menjadi tontonan dan lelucon bagi mereka. Jika ada yang terjatuh, mereka akan tertawa alih-alih menolong, menganggap kejadian itu adalah suatu hal yang lucu. Berita-berita di televisi tentang kejadian menyedihkan yang menimpa orang lain hanya sekedar menjadi tontonan dan bahan obrolan sehari-hari.

Barangkali, jenis permainan anak-anak yang (saya meyakini) sudah merambah dari sabang sampai merauke inilah -yang kerap diajarkan dan kita mainkan di kala kecil- yang menyebabkan acara-acara lawak di televisi kita banyak menyuguhkan adegan kekerasan dan penderitaan sebagai bahan lucuannya. Entah itu sengaja membuat orang lain tersandung, terbentur, terjatuh, dan lainnya.



Salam,


Ananda Putri Bumi