Tuesday, March 10, 2015

Belajar Naik Tangga

Latihan hidup sehari-hari | Kemandirian | Multiple Intelligence | Kecerdasan Kinestetik


Rumah yang kami tempati saat ini adalah rumah mungil berlantai dua. Kedua lantai tersebut terhubung dengan sebuah tangga kayu. Tangga tersebut agak curam -tidak landai- dan memiliki jarak yang agak lebar antar anak tangga.

Pertama kali pindah ke rumah ini, saya sedikit takut untuk menggendong Azka naik turun tangga. Bahkan, ketika pertama kali kami melihat-lihat rumah ini, belum memutuskan untuk tinggal di sini, saya meminta suami yang menggendong Azka naik-turun, saya belum berani. Saat itu, saya membayangkan, jika kami akhirnya memilih untuk tinggal di sini, mungkin ruangan untuk tamu akan saya sulap sebagian untuk ruangan tidur siang Azka (semua kamar tidur di lantai atas) dan baju-baju rumah Azka sebagian saya simpan di lantai bawah agar saya takperlu sering-sering naik turun.

Akan tetapi, setelah beberapa lama tinggal di rumah ini, naik turun tangga dengan menggendong Azka akhirnya menjadi hal biasa bagi saya. Azka pun, jika tidur siang, tak pernah di lantai bawah. Setelah terbiasa, mulailah saya memikirkan untuk melatih Azka naik tangga sendiri.

Jarak antara lantai bawah dan anak tangga pertama lebih lebar lagi dibanding jarak antar anak tangga, sehingga Azka hingga kini belum bisa naik dari lantai bawah ke anak tangga pertama. Kondisi ini membuat saya masih merasa cukup aman untuk melepasnya bermain sendiri disekitar tangga jika sedang berada di lantai bawah. Barangkali, kondisi ini pula yang menyebabkan Azka, hingga usia 17 bulan, jarang sekali minta bermain-main di tangga atau minta naik tangga sendiri. Sementara, pada anak tangga teratas, ada pagar dengan tinggi sekitar satu meter, yang selalu kami kunci jika Azka sedang berada di lantai atas.

Pertama kali saya resmi mengukuhkan bahwa sudah saatnya Azka naik tangga sendiri ya di usianya ke-17 bulan itu. Sebelumnya, beberapa kali saya biarkan ia naik dengan cara ditatah (saya pegang kedua tangannya, ia melangkah sendiri).

Maka dimulailah pengalaman pertama Azka naik tangga sendiri. Saya naikkan ia ke anak tangga pertama, setelah itu saya lepas. Ia senyum-senyum senang. Lalu Azka pun mulai naik tangga sendiri dengan cara merangkak. Saya mengikuti di belakangnya. Sejak saat itu, Azka pun resmi naik tangga sendiri jika kami hendak ke lantai atas. Kecuali jika sudah mengantuk, biasanya ia kepinginnya digendong. Lama-lama, Azka juga bisa naik tangga dengan cara, sebelah tangan berpegangan pada tangan tangga, tanpa merangkak, meski belum laju benar.

Sekarang, tangga adalah salah satu tempat bermain Azka. Ia tak hanya senang menaikinya, tapi juga senang duduk-duduk di tangga. Alhasil, saat ini, jika sedang naik tangga, bisa memakan waktu bermenit-menit. Pada setiap anak tangga ia kepingin duduk, lalu baru mulai menaiki lagi. Kadang-kadang pada anak tangga tertentu, ia hanya bolak-balik turun-naik turun-naik sambil bilang, "aik... (naik), dudu... (duduk)," berulang-ulang.Hal ini kerap bikin saya garuk-garuk kepala dan menghembuskan napas. Akan tetapi, saya menyadari, kalau pada akhirnya saya gendong juga ia untuk menuju ke atas, misi melepasnya untuk naik tangga sendiri ini bisa-bisa tidak akan konsisten.

Akhirnya, saya menemukan sebuah cara. Jika saya sedang kepingin cepat namun tetap tanpa menggendongnya, saya cari sebuah benda yang membikinnya penasaran, lalu saya letakkan pada anak tangga di depannya namun takterjangkau olehnya. Azka akan naik dengan cepat dan bersemangat untuk menjangkau benda itu. Setiap ia hampir dapat menyentuh benda tersebut, saya naikkan lagi ke anak tangga di atasnya, begitu seterusnya hingga sampai ke lantai atas.

Pernah pada suatu saat, saya menaikkannya ke anak tangga pertama, sengaja tanpa meletakkan sebuah benda di depannya, sebab kepingin tahu apa yang akan dilakukannya, apakah tetap naik dengan ngebut, atau naik sambil duduk-duduk di tangga, atau yang lainnya. Ia lantas melihat cukup lama ke anak tangga, lalu menoleh ke arah saya yang berada di belakangnya dengan mimik muka heran dan berkata, "mannaa...?" Lalu, setelah saya letakkan sebuah benda di hadapannya, ia pun tersenyum dan memulai aksi pengejaran.

Setelah jago naik tangga, Azka sekarang juga kepingin turun tangga sendiri. Kegiatan turun tangga sedikit lebih sulit ketimbang sebaliknya sehingga memakan waktu lebih lama. Hingga usianya 19 bulan, paling-paling ia baru berani turun hingga tiga anak tangga, setelah itu minta gendong. Akan tetapi, sekitar sebulan kemudian, saat ia 20 bulan, Azka mulai berani turun tangga, dengan satu tangan berpegangan pada tangan tangga, dan satu tangan lagi berpegang pada tangan saya.

Meski Azka sudah bisa naik tangga sendiri sejak usia 17 bulan, namun saya belum terlalu khawatir untuk meninggalkannya barang semenit atau dua menit di lantai bawah jika ada keperluan sebentar di lantai atas semisal, sekedar hendak menutup pintu depan atas atau mengambil diapers serta pakaian Azka, sebab ia belum bisa naik ke anak tangga pertama yang jarak antara lantai dan anak tangga itu cukup lebar. Paling-paling Azka akan menunggui saya di bawah tangga sambil bermain-main dan sesekali memanggil.

Akan tetapi, ketika usianya 19 bulan, saat saya hendak turun setelah menyelesaikan keperluan di lantai atas, beberapa kali saya mendapati Azka sudah mencapai anak tangga ketiga, hendak menyusul saya. Itu artinya, ia sudah mampu naik sendiri dari lantai bawah ke anak tangga pertama. Saya cukup kaget juga, sebab setahu saya, ia masih kesulitan untuk naik ke anak tangga pertama itu. Cara yang dilakukannya untuk bisa naik ke anak tangga pertama itu membikin saya penasaran, sebab tidak mungkin dengan cara memanjat seperti biasa, anak tangga itu cukup tinggi.

Bersebab penasaran, beberapa kali saya beri Azka kesempatan untuk naik sendiri ke anak tangga pertama saat kami akan ke lantai atas. Anehnya, jika ada saya, meski ia berusaha beberapa kali, ia tetap tidak bisa melakukannya sehingga saya pun kembali membantunya untuk naik ke anak tangga pertama itu. Bersebab itu juga, saya masih belum khawatir untuk meninggalkannya sebentar di lantai bawah jika ada keperluan di atas yang hanya memakan waktu semenit atau dua menit, meski beberapa kali Azka telah berhasil naik sendiri. Saya pikir, ya itu kebetulan saja.

Lalu, pada suatu hari, saat saya meninggalkannya sebentar di lantai bawah untuk mencari sesuatu di kamar yang terletak di lantai atas (yang mungkin tanpa saya sadari memakan waktu cukup lama), tiba-tiba saya mendengar bunyi pagar tangga di lantai atas yang ditutup lalu dikunci. Ketika saya keluar kamar, saya mendapati Azka sudah ada di lantai atas dan sedang mengunci pagar tersebut, seperti biasa saya melakukannya begitu kami menginjakkan kaki di lantai atas. Azka (saat itu usianya hampir 20 bulan) naik tangga sendiri, tanpa dijaga. Saya kaget sekali, sekaligus senang, bangga dan juga bersyukur sebab tidak terjadi apa-apa padanya, semisal terpeleset atau kehilangan keseimbangan lalu berguling-guling ke bawah karena tidak ada yang menjaganya.

Sedikit, demi sedikit, saya mencoba melepaskan ketergantungan Azka pada kami, untuk hal-hal yang memang kami pikir ia sudah mampu melakukannya sendiri. Salah satunya adalah pada kegiatan naik tangga ini. Tujuannya, tentu, agar ia makin mandiri, sehingga kelak, jika kepingin melakukan ini itu, ia tidak merengek minta dibantu atau dilayani padahal sudah bisa melakukannya sendiri meski belum sempurna.

Saya masih banyak mendapati orang tua yang melarang anaknya berlari, memanjat, melompat, apalagi salto, bahkan naik tangga sendiri padahal usia anak itu sudah hampir dua tahun. Padahal, kegiatan tersebut masih bagian dari tumbuh kembang mereka. Banyak orang tua yang belum menyadari bahwa perkembangan motorik kasar tidak hanya sampai pada saat anak berhasil berjalan sendiri. Kebanyakan orang tua, mereka sangat memberi kesempatan bagi anak-anak mereka agar mampu berjalan secepat mungkin, namun setelah anak-anak itu mampu berjalan, mulailah banyak larangan yang keluar dari mulut orang tua saat melihat anaknya mulai berlari, memanjat, melompat, dan lainnya.

Di rumah, kami membiarkan Azka berlari (bahkan ada sesi bermain kejar-kejaran), berputar-putar, berdiri di high chair-nya lalu berupaya memanjat dan melompat ke meja makan, berjalan di lantai yang licin (namun tetap diberitahukan padanya bahwa lantai itu licin, agar ia berhati-hati), naik tangga, dan baru-baru ini Azka tengah belajar salto dengan abinya. Ya memang, sudah tak terhitung berapa kali ia jatuh karena berlari dan memanjat, bahkan dalam sehari.

Khusus untuk kegiatan naik tangga, selain untuk perkembangan motorik kasarnya, kegiatan ini juga memiliki manfaat banyak bagi Azka, di antaranya, melatih keseimbangan tubuhnya, melatih fokusnya, melatih keberaniannya berada pada ketinggian, dan lainnya.

Naik-turun tangga adalah salah satu kegiatan bermain yang saya dan Azka lakukan ketika sedang berdua saja di rumah.


Salam,


Ananda Putri Bumi

1 comment:

  1. Anak saya dari masih merangkak sudah naik turun tangga sendiri mbak, sehingga kami harus mengikutinya dari belakang soalnya kalau dilarang anaknya marah. Kebetulan tangga setandar, permanen dan tidak curam. Kalau sekarang sudah umur 1 tahun 2 bulan sudah jalan lebih susah lagi ngejagainnya.

    ReplyDelete