Multiple Intelligence | Kecerdasan Musikal
Sejak usia tiga atau empat bulan, gaya belajar dominan Azka mulai terlihat.
Ia kuat di visual, lalu auditori. Itu sebabnya, untuk ukuran bayi dan batita,
Azka cenderung lebih terlihat tenang, aktif namun tidak over-aktif.
Cenderung menjadi pengamat terlebih dulu sebelum terlibat aktif pada setiap situasi baru
(udah kebayang nanti gede-nya kayak gimanaaa, hahahaa...). Ia cepat hapal
bentuk dan nama benda. Penglihatannya detail. Lobang kecil yang berada di
dinding bagian atas pun terlihat dan terperhatikan olehnya.
Ia juga peka terhadap bunyi-bunyian di sekitar dan suka meniru bunyi-bunyi
itu dengan suaranya, bunyi yang halus dan sering diabaikan oleh orang dewasa
sekali pun, seperti bunyi yang keluar saat kita menggaruk bagian kulit yang
gatal dengan kuku.
Azka memiliki refleks mencari sumber bunyi dengan matanya. Setelah mendengar,
biasanya ia segera mencari asal suara tersebut. Biasanya, tebakannya selalu
tepat; ia selalu dapat menemukan tempat atau benda yang mengeluarkan bunyi-
bunyian itu. Namun semakin bertambah usianya, kemampuan itu sedikit
berkurang.
Seperti bayi-bayi pada umumnya, sejak bisa duduk sendiri, Azka mulai tertarik
untuk menghasilkan bunyi-bunyian dengan memukul benda-benda. Ya, tentu saja,
terus saya stimulasi, sebab, merujuk pada teori kecerdasan majemuk (multiple
intelligence)-nya Howard Gardner, kegiatan itu termasuk awal dari
perkembangan kecerdasan musikal bagi semua anak. Berkembang atau tidaknya
nanti, semua bergantung dari sikap orang tua; mengabaikannya, menstimulasi
setengah-setengah, atau menstimulasinya penuh hingga potensinya berkembang
menjadi kompetensi.
Salah satu program homeschooling kami adalah mengembangkan kecerdasan
majemuk, yang menurut Gardner semuanya merupakan kecerdasan, hingga sampai
pada tahap bisa, termasuk di dalamnya kecerdasan musikal. Lalu, mengembangkan
satu, dua, atau tiga bidang kecerdasan yang menjadi minat Azka, hingga sampai
pada tahap ahli. Gardner mengatakan, selama lingkungannya mendukung, setiap
manusia mampu mengembangkan semua kecerdasan yang dimilikinya, tidak hanya
terbatas pada satu atau dua kecerdasan saja.
Azka begitu takjub ketika pertama kali menemukan sebuah benda yang jika
dipukulkannya pada benda lain atau dipukul dengan tangannya, mereka
mengeluarkan bunyi-bunyian yang khas. Sejak saat itu, kegiatan memukul
benda-benda, baik dengan alat pemukul maupun dengan tangannya sendiri menjadi
kegiatan yang sehari-hari dilakukannya. Mulai dari memukul-mukul kaleng,
kotak, lemari, lantai, apa pun, bahkan memukul bagian tubuhnya.
Jika ia sedang asyik, saya biarkan, meski bunyi-bunyian yang dihasilkannya
cukup keras. Jika ia meminta saya bergabung, saya ladeni. Kami pun memukul
benda-benda dan asyik bersama. Saya berupaya melihat kegiatannya ini sebagai
awal dari perkembangan kecerdasan musikalnya, bukan sebaliknya, menganggapnya
sebagai kegiatan yang tidak bermanfaat dan berisik.
Tentu, sudut pandang saya pada kegiatannya ini akan berpengaruh pada sikap
saya. Jika saya menganggap kegiatannya ini adalah kegiatan yang tidak
bermanfaat, saya pasti akan mengabaikan, menyuruhnya berhenti jika ia mulai
berisik, bahkan melarangnya bersebab pusing dengan bunyi-bunyian yang bising
itu. Sebaliknya, jika saya memandang kegiatan ini merupakan awal dari
perkembangan kecerdasan musikalnya, tentu akan terus saya stimulasi dan saya
beri ia ruang untuk bereksplorasi dengan bunyi-bunyian itu.
Ternyata, kegiatan menghasilkan bunyi-bunyian ini terus berkembang seiring
dengan pertambahan usianya. Selain pendengarannya semakin peka, ia juga mulai
meniru bunyi-bunyian yang didengarnya dengan mulutnya dan berusaha
menyuarakannya semirip mungkin. Kerap ia meniru suara piring kaca yang
dipukul-pukul dengan sendok oleh penjual makanan yang sedang lewat di depan
rumah, suara air ketika keran dibuka, suara yang keluar dari rice cooker saat
nasi mulai matang, suara yang dihasilkan dari memaku-maku tembok, suara detik
jam, suara hewan, dan lainnya.
Ia juga kerap berjoget ketika mendengar bunyi-bunyian tertentu yang berbunyi
teratur dan berulang-ulang seperti bunyi gesekan gergaji dengan kayu, bunyi
sendok yang beradu dengan gelas saat mengaduk minuman, bunyi yang dihasilkan
saat menyikat kain ketika mencuci, dan bunyi-bunyian yang teratur lainnya.
Bagi Azka, semua bunyi-bunyian yang didengarnya sehari-hari adalah musik yang
mampu membuatnya bergerak, menari.
Sekarang, sejak usianya enam belas bulan, Azka juga senang melakukan kegiatan
menirukan melodi, yang berbunyi dari salah satu mainannya, dengan tangan dan
mulutnya. Ia memulainya dengan menekan salah satu tombol dari sebuah mainan
yang mengeluarkan melodi sekitar lima belas detik, lalu selama melodi itu
berbunyi, Azka bersuara, "pam... pam.. pam..." berusaha menirukan irama
melodi itu sambil memukul-mukul lututnya.
Satu lagi kesenangannya sejak ia mulai dapat berbicara yaitu, menebak asal
suara yang didengarnya saat wujud benda yang mengeluarkan suara itu takdapat
dilihatnya. Dari dalam rumah, dari pagi hingga malam, kami dapat mendengar
suara burung berkicau di pagi hari, suara gukguk, meong, ayam, dan bebek.
Juga suara kendaraan yang lewat sesekali, suara teriakan dan tangisan anak-anak
kecil di sekitar rumah, suara piring kaca yang dipukul-pukul dengan sendok
oleh penjual makanan, suara penjual yang meneriakkan jenis dagangannya,
tetangga yang sedang berbicara, suara pepohonan dan atap rumah saat tertiup
angin, suara rintik hujan pada atap rumah, serta suara yang selalu menarik
perhatiannya; suara pesawat terbang yang dapat terdengar beberapa kali dalam
sehari.
Jika dari dalam rumah ia mendengar suara anak-anak yang sedang menangis atau
berteriak, Azka (saat uia 17-18 bulan) segera bilang, "bah... bah... (abang, abang).
" Jika ia mendengar suara cericit burung, gonggongan, kukuruyuk, kwek-kwek, atau meong,
ia akan bilang, "buu cihh..., gukguk, yam, baba, puu (burung cit cit, gukguk,
ayam, bebek, pus)." Jika ia mendengar suatu suara namun belum mengenalnya, ia
akan bilang berulang-ulang, "Hah... mbnii, mbnii...(bunyi... bunyi...),"
dengan ekspresi mimik muka heran-penasaran dan mata yang membulat. Biasanya,
saya memberitahunya nama asal sumber bunyi itu, atau, jika kami dapat
melihatnya, saya akan membawanya untuk melihat sumber bunyi itu.
Lalu, jika ia mendengar suara pesawat terbang, suara paling favorit saat ini,
ia akan menghentikan kegiatannya, melihat ke arah pintu yang sedang terbuka,
menunjuk ke arah pintu bagian atas, dan mengatakan, "papah... papah...
(pesawat, pesawat)," lalu meminta saya membawanya untuk melihat pesawat
tersebut. Jika beruntung, kami dapat melihat dengan cukup jelas pesawat yang
sedang terbang itu dari teras atas atau dari pintu belakang rumah.
Azka juga kerap saya ajak ke kampus seni tari dan musik UNTAN, tempat suami
saya mengajar, sebab di sana ia akan banyak melihat abang dan kakak sedang
latihan musik dan tari. Jika disodorkan sebuah alat musik, ia antusias sekali
dan bisa kusyuk berlama-lama bereksplorasi dengan alat musik itu. Jika ia
dibolehkan bermain di studio musik atau ruang musik tradisi, Azka akan
berkeliling dan "memainkan" satu persatu alat musik yang ada di sana. Ia tahu lho,
mana alat musik yang di pukul pakai tangan, yang harus dipukul pakai alat,
ditiup, ditekan, digesek, serta dipetik. Sejauh ini, cukup banyak alat musik yang
sudah pernah dilihatnya langsung, disentuh, maupun "dimainkan"nya, seperti
gong, kenong, saron, tengga, rebana, marwas, gambus, tamborin, triangle, marakas,
beduk, akordeon, sape, selodang, gitar, keyboard, piano, biola, cello, contra bass,
drum, terompet, flute, serta klarinet.
***
Ada dua prinsip yang saya pegang dalam mengasah kecedasan musikal Azka, yaitu
1) bahwa cara mengasah kecerdasan musikal pada batita tidak hanya terbatas atau
sebatas dengan memperdengarkan musik, mempertontonkan kegiatan orang yang sedang
bermain musik, ataupun pergi ke acara musik. Batita itu lebih suka
"melakukan" ketimbang menonton atau mendengarkan lagu-lagu yang diputar.
Jika ia "melakukan", ia akan terus belajar selama matanya terbuka dan akan
menikmatinya. "Melakukan" berarti ia sendiri yang menciptakan bunyi-bunyian
itu, tidak sebatas menciptakan bunyi-bunyian melalui alat musik, namun benda
apapun bisa menjadi sumber bunyi, termasuk suara dan tubuhnya.
2) Bahwa mengembangkan kecerdasan musikal bukan hanya sekedar agar ia dapat
memainkan alat musik, menyanyi, atau menjadi penikmat musik, akan tetapi
lebih dari itu, yaitu untuk terus mempertajam indra pendengarannya, yang
merupakan salah satu media belajar, juga merupakan salah satu media dalam
berinteraksi dengan orang lain. Melalui pendengaran yang peka dan empati
tentunya, ia akan dapat membaca emosi melalui intonasi suara, suara napas,
apa yang sedang dirasakan oleh seseorang yang mengeluarkan bunyi ketukan jari
berulang-ulang, dan sebagainya.
Salam,
Ananda Putri Bumi
Inspiratif, Bunda. Bisa jadi bekal ilmu buat yg masih single ky saya ^_^. Tfs ya Bunda :)
ReplyDeletesama-sama ya :))
DeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDelete