Akhlak | Multiple Intelligence | Kecerdasan Intrapersonal | Kecerdasan Interpersonal
Suatu hari, saya mendengar abi dan Azka seru sekali bercengkerama di ruang tamu. Ada suara benturan, ada suara abi, dan ada gelak tawa Azka. Bersebab penasaran, saya melongok ke ruang tamu. Saat itu, saya melihat Azka sedang mendorong sepedanya ke arah abi hingga membentur dinding. Abi berpura-pura sepeda itu mengenainya dan meng-"aduh" kesakitan. Azka spontan tertawa melihat ekspresi kesakitan dan dan teriakan "aduh" dari abi. Makin keras Azka membenturkan sepeda ke dinding, maka makin keras abi berteriak dan mengekspresikan kesakitannya, makin berderai pula gelak tawa Azka. Hal itu dilakukan berulang-ulang.
Saya mengernyitkan kening melihat permainan itu. Rasanya seperti ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak berkenan di hati. Akan tetapi, di lain sisi, permainan semacam itu adalah permainan yang tidak asing dimainkan oleh orang dewasa ketika sedang bermain dengan kanak-kanak. Setidaknya sependek ingatan saya. Semacam permainan di mana orang dewasa menjadi objek penderita, entah itu pura-pura tertembak, pura-pura tertabrak, atau pura-pura terkena tendangan anak, kemudian mereka berpura-pura berteriak kesakitan maupun berpura-pura mati, lalu anak-anak pun tertawa menyaksikan drama itu.
Jadi, meski tidak berkenan di hati, saya diamkan dan biarkan saja permainan terus berlanjut, sebab permainan itu memang permainan yang tidak asing. Menjadi objek penderita adalah suatu usaha yang kerap dilakukan orang dewasa demi membuat anak-anak terhibur dan tertawa. Seingat saya, beberapa kali saya juga pernah memainkannya dengan para keponakan saya dulu dan juga dengan Azka saat ini.
Akan tetapi, sungguh berbeda ternyata ketika kita menjadi pelaku dan pengamat. Ketika sedang bermain, saya sama sekali tidak merasakan ada sesuatu yang salah dengan permainan ini. Seru-seru saja. Lain halnya ketika menjadi pengamat. Saat melihat permainan itu, saya merasa ada sesuatu yang salah.
Hingga pada suatu waktu...
Saat itu malam hari. Saya sedang menyiapkan makan malam untuk abi. Azka bersama abi di ruang tamu. Abi sedang tiduran di lantai, sementara Azka duduk di lantai menghadap ke kepala abi. Tiba-tiba sebuah pukulan cukup keras dari telapak tangan mungil itu mendarat di wajah abi. Abi spontan meng-"aduh" kesakitan. Azka tertawa. Belum pulih keterkejutan abi, sebuah pukulan lebih keras mendarat kembali di wajahnya. Teriakan "aduh" abi lebih keras dari yang pertama. Tawa Azka pun menjadi lebih keras. Dan lalu, belum sempat abi menjauhkan diri, pukulan ketiga pun mendarat kembali...
Obrolan singkat pun terjadi antara saya dan suami. Saya bilang, kejadian barusan mengingatkan saya pada permainan "tertabrak sepeda" yang pernah dimainkan Azka dan abi. Polanya mirip. Bedanya hanya, yang kemarin abi pura-pura berteriak kesakitan, sementara yang sekarang, abi benar-benar berteriak kesakitan. Akhirnya kami bersepakat untuk tidak lagi melakukan permainan semacam itu.
Jadi sekarang, jika saya mendapati diri saya mulai melakukan permainan itu, saya segera berhenti dan mengajak Azka bermain yang lain. Jika saya "disakitinya", saya menyampaikan ketidaksukaan saya lewat ekspresi wajah, lalu menjauhinya. Hal itu saya lakukan agar saya tidak membentak atau memarahinya. Anak-anak sangat mahir membaca ekspresi. Pada bulan-bulan awal hidup mereka, anak-anak berkomunikasi lewat ekspresi wajah dan tubuh.
Jika saya tidak dapat menghindar, misal ketika Azka menggiggit atau mencubit dengan kuku, sambil memperlihatkan ekspresi tidak suka, saya bilang, "Umi kesakitan Azka cubit. Lepas!" Azka pun akan melepas cubitan atau gigitannya. Lewat penyampaian ekspresi dan kalimat verbal, saya usahakan untuk menyampaikan "apa yang saya rasakan (dengan mengatakan: umi kesakitan)", "bahwa saya tidak suka diperlakukan begitu (dengan ekspresi wajah dan tubuh)", dan "apa yang harus dilakukannya (dengan mengatakan: lepas!)".
Saya menghindari pemakaian kata "jangan" atau "tidak boleh" seperti kalimat "tidak boleh gigit-gigit orang ya..." atau "jangan begitu ya..." sebab kalimat itu tidak menyampaikan informasi apa pun pada anak. Anak akan tetap melakukan apa yang sedang dilakukannya. Singkatnya, lebih baik menyampaikan dengan jelas, perilaku apa yang kita kita harapkan untuk dilakukan anak. Misal (ini contoh yang lain), ketika Azka mulai memukul-mukulkan handphone pada lantai, saya tidak akan bilang, "Azka tidak boleh begitu ya" atau "eh, jangan dipukul-pukul, nanti rusak hp-nya". Sebab, saya yakin ia tidak akan mengubah perilakunya, kadang malahan, ia akan memukul lebih keras lagi. Tetapi, yang saya katakan adalah, "dipeluk dong hp-nya." Azka pun akan segera memeluk hp ditangannya dan berhenti memukul-mukulkannya pada lantai.
Baru setelahnya, akan ada dialog-dialog sederhana yang dilakukan untuk menjelaskan pertanyaan "mengapa" dibenaknya.
*****
Kejadian itu menjadi pengingat bagi saya bahwa anak-anak belajar setiap saat, kapan pun, di mana pun, dan dalam situasi dan kondisi bagaimana pun. Termasuk saat mereka sedang bermain. Bagi orang dewasa, permainan ya permainan saja, untuk menghibur dan untuk hiburan. Namun bagi kanak-kanak, belum ada batas antara permainan dan kenyataan. Tanpa kita sadari, banyak pesan-pesan yang tersampaikan pada anak lewat permainan, baik pesan positif ataupun negatif. Untuk itu, perlu diperhatikan benar jenis permainan yang dimainkan bersama anak.
Barangkali pikiran saya terlalu berlebihan, akan tetapi jujur saja, permainan itu mengingatkan saya pada kasus penganiayaan dan pembunuhan seorang perempuan yang dilakukan oleh mantan pacarnya yang sudah memiliki kekasih lain. Mantan pacar dan kekasihnya melakukan pembunuhan itu bersama. Setelah menganiaya dan membunuh, tak tersirat penyesalan sama sekali dari wajah mereka. Bahkan wajah-wajah itu terlihat puas. Kepuasan yang terlihat dari wajah-wajah mereka inilah yang menjadi salah satu berita menggegerkan selain pembunuhan itu sendiri.
Seperti yang sudah saya ucapkan di atas, barangkali pikiran saya terlalu berlebihan. Saat membaca tulisan saya ini, barangkali akan ada yang nyeletuk, "Gak segitunya juga kellees". Akan tetapi, meski mungkin tidak akan sebegitunya, saya meyakini jenis permainan semacam di atas, jika dimainkan terus menerus, lama-kelamaan akan menghilangkan sensitifitas anak terhadap penderitaan orang lain, baik saat ini maupun saat ia dewasa nanti. Penderitaan orang lain akan menjadi tontonan dan lelucon bagi mereka. Jika ada yang terjatuh, mereka akan tertawa alih-alih menolong, menganggap kejadian itu adalah suatu hal yang lucu. Berita-berita di televisi tentang kejadian menyedihkan yang menimpa orang lain hanya sekedar menjadi tontonan dan bahan obrolan sehari-hari.
Barangkali, jenis permainan anak-anak yang (saya meyakini) sudah merambah dari sabang sampai merauke inilah -yang kerap diajarkan dan kita mainkan di kala kecil- yang menyebabkan acara-acara lawak di televisi kita banyak menyuguhkan adegan kekerasan dan penderitaan sebagai bahan lucuannya. Entah itu sengaja membuat orang lain tersandung, terbentur, terjatuh, dan lainnya.
Salam,
Ananda Putri Bumi
Wuih, udah bisa lah di undang jd pembicara parenting ke Batam
ReplyDeleteiya, undang-undang lah Pak Putra, biar saya bisa sekalian jalan-jalan lagi ke Batam, kekekekk
Deletebermanfaat sekali sharingnya mak, btw cari tombol follow blog ga nemu ni.. :(
ReplyDeleteok nanti ditampilkan :)
Deletesetuju
ReplyDeletetoosss ^^
Deletebagus sekali mba, homeschooling nya azka jd terdokumentasi. sy blm sempet mendokumentasikan punya anak2
ReplyDeletesaya juga sebisanya aja kok. banyaaaak sekali sebenarnya yang ingin dituliskan :)
Delete