Latihan Hidup Sehari-hari | Akhlak | Multiple Intelligence | Kecerdasan Naturalis
Suatu hari, Azka (saat itu usianya 17 bulan) merajuk minta dibukakan kulkas. Ia kepingin ngemil dan ingin memilih sendiri cemilannya. Setelah menunjuk ini itu yang diinginkannya sambil minta izin saya, pilihan cemilan sore menjelang malam hari ini pun jatuh pada se-cup yoghurt, cemilan yang disukai Azka dan juga saya izinkan. Seperti biasa, jika sudah makan yoghurt, ia akan makan dengan tenang. Kali ini saya dudukkan ia di lantai, bukan di high chair, sebab high chair sebentar lagi akan dipakai untuk makan malam (dan saya malas untuk membersihkannya kembali).
Saya temani ia sebentar, lalu saya tinggal untuk membereskan ini-itu. Beberapa saat kemudian saya mendengar bunyi plastik kresek. Bersebab penasaran dengan apa yang sedang lakukannya, saya mengecek dari kejauhan dan melihatnya sedang memegang plastik kresek kecil yang sebelumnya saya jadikan tempat sampah untuk mengumpulkan remah-remah makanan dan tisu kotor. Saya lupa, plastik itu masih saya taruh di kursi makan -belum saya buang- tempat yang bisa dijangkau Azka. Refleks benak saya berucap, "Haduhhh... eksplorasi apa lagi yang akan dilakukannya dengan plastik dan sampah-sampah itu." Tapi ya sudah lah, selama ia tidak menyentuh hal yang berbahaya saat saya tinggal sebentar, saya biarkan saja. Nanti tinggal dibersihkan.
Tak berapa lama, Azka menghampiri saya dan berkata, "Paah, paah..," sambil menunjuk ke arah di mana ia tadi memegang plastik tersebut. "Iya, itu sampah," sahut saya sambil tetap beraktivitas dan tidak menengok pada apa yang sedang ditunjuknya. Azka sudah cukup bisa membedakan benda-benda yang merupakan sampah dan bukan sampah. Jadi dugaan saya saat itu, ia sedang mengucapkan apa yang sebelumnya dilihat atau ditemukannya. "Paah, paah..." ulangnya lagi sambil tetap menunjuk.
Saya pun menghentikan kegiatan saya dan menoleh ke arah telunjuknya menunjuk. Apa yang saya lihat membuat saya takjub. Ada cup yoghurt yang telah kosong berada dalam plastik itu. Jadi, saat itu ia sedang memberi tahu saya, "Umi, aku udah buang sampah bekas yoghurt di tempat sampah." Saya pun lalu memberikan apresiasi untuk memperkuat perilakunya.
***
Dari usia Azka sekitar sembilan bulan, saya memang sering berceloteh tentang sampah. Biasanya itu terjadi ketika Azka menemukan benda-benda di lantai dan akan memasukkannya ke dalam mulut. Saya bilang, "Itu bukan makanan, itu sampah, sampah adalah bla... bla... bla..., sampah harus dibuang ke tempatnya..., dan seterusnya."
Di usianya ini juga, ia mulai sering mencontoh saya mengelap noda di lantai dengan tisu atau kain. Meski, seringnya, yang ditirunya adalah gerakan mengelapnya, tidak benar-benar sedang ada noda di lantai. Kegiatan mengelapnya ini pun meluas, dari mengelap lantai, hingga mengelap dinding, lemari, kasur, serta benda apapun yang ditemuinya.
Kemudian, ketika usianya sekitar 15 bulan, ia sering mencontoh saya memasukkan benda-benda ke tempat sampah. Saya katakan padanya, "ini tempat sampah, sampah adalah bla... bla... bla..." Awalnya, semua benda yang ditemukannya -meski bukan sampah- dimasukkannya begitu saja. Kemudian saya pilah-pilah. Jika yang dimasukkannya bukan sampah, saya akan bilang, "ini bukan sampah, yang dimasukkan ke sini hanya sampah saja, sampah itu artinya bla... bla... bla..., nah kalau yang ini sampah..."
Setelah ia cukup bisa membedakan sampah dan bukan sampah, kegiatan menemukan dan membuang sampah adalah salah satu kegiatan yang disenanginya. Barangkali salah satu penyebabnya, ia sering melihat saya menyapu, mengepel, mengelap lantai yang kotor, lalu memunguti remahan-remahan -apapun itu- yang berserakan di lantai dan memasukkannya ke sebuah tempat. Maka, jika ada sesuatu yang tergeletak di lantai, ia akan menunjuk atau mengambil, lalu berkata, "Paah..." Saya lalu memintanya untuk membuang sendiri ke tempat sampah. Demikian juga ketika ia selesai makan, beberapa benda yang dianggapnya sampah -tisu kotor, hasil kunyahan yang taktertelan, makanan yang jatuh- akan diperlihatkannya pada saya seraya berkata, "Paah..."
Saya juga kerap meminta tolong Azka untuk membuang sampah, baik ketika sedang berada di rumah ataupun di luar rumah. Botol bekas minuman, misalnya, setelah isinya saya habiskan, saya minta tolong Azka untuk membuangnya ke tempat sampah. Dengan senang hati ia melakukannya.
Kembali ke cerita tentang sampah cup yoghurt tadi, jika biasanya, saat menemukan sampah, terlebih dulu ia memperlihatkannya pada saya seraya bilang "Paah..." (seakan meminta penegasan atau persetujuan saya bahwa itu memang sampah) lalu kemudian saya mengarahkan untuk membuangnya ke tempat sampah, namun kali ini ia berinisiatif membuangnya ke tempat sampah terlebih dulu, baru mengabarkannya pada saya. Ini adalah sebuah momen yang membikin saya takjub dan terharu biru.
***
Saat ini, kegiatan membuang sampah adalah kegiatan yang setiap hari dilakukan Azka. Saya selalu berusaha untuk tidak lupa sehingga ada satu hari di mana kegiatan ini luput dikerjakan. Azka pun juga adalah pengingat saya. Ia peka sekali dengan benda yang disebut sampah ini. Jika sedang berada di luar, ia akan terus menunjuk sampah-sampah yang tergeletak di jalan lalu berkata, "paahh..., paahh..." Azka juga sudah cukup bisa membedakan benda-benda yang dikategorikan sampah dan bukan sampah. Jika saya letakkan sampah di atas piring, lalu piring itu saya berikan pada Azka dan memintanya membuang ke tempat sampah, Azka hanya membuang sampahnya dan tidak membuang piringnya. Setiap ada jenis dan bentuk sampah baru, saya kenalkan padanya agar ia makin mampu membedakan.
Saya memahami bahwa kegiatan tertib sampah ini bukan hanya sekadar membuang sampah pada tempatnya, akan tetapi jauh lebih dalam lagi seperti mengelompokkan sampah sesuai jenisnya, meminimalisasi penggunaan plastik, mengurangi jumlah produksi sampah (rumah tangga), serta mendaur ulang sampah. Kegiatan tertib sampah saya baru sebatas membuang sampah pada tempatnya, mengelompokkan sampah sesuai jenisnya, membawa tas sendiri setiap berbelanja (kadang-kadang pun masih lupa), membuka bungkus plastik dengan rapi agar dapat didaur ulang.
Khusus yang terakhir ini, sekitar tahun 2008, saya pernah mengikuti pelatihan membuat tas, tempat pinsil, dan semacamnya dari bungkus plastik bekas. Namun syaratnya, bungkus itu baru bisa didaur ulang selama masih dalam keadaan rapi, tidak koyak di sana-sini. Sejak saat itu, jika membuka makanan atau minuman yang berbungkus plastik, saya buka dengan rapi dengan menggunting tepian atasnya dari ujung ke ujung, agar bisa didaur ulang oleh orang-orang yang menemukannya. Hal itu selalu saya perlihatkan pada Azka.
Rencana saya, ke depannya, pembahasan sampah dan praktek mendaur ulang sampah akan terus menjadi salah satu materi homeschooling kami. Bukan hanya materi satu kali pembahasan yang hanya menyentuh aspek kognitif lalu setelah itu selesai, tentu saja, akan tetapi materi yang sifatnya berkesinambungan antara terus mencari informasi tentang cara-cara terbaru dalam menangani sampah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, untuk menangani sampah plastik bekas serbuk minuman, kami akan mengguntingnya dengan rapi lalu menyimpannya, kemudian setelah jumlahnya cukup, kami jadikan sebagai bahan untuk membuat benda-benda lain seperti dompet, tempat hp, dan sebagainya. Suatu saat, siapa tahu kami bisa bikin museum khusus memajang benda-benda berbahan plastik bekas buatan kami.
Tentu, saya juga harus terus memperbaiki perilaku saya dalam tertib sampah agar dicontoh oleh anak saya. Anak adalah peniru ulung, bukan. Saya menyadari, kepekaan terhadap sampah dan perilaku tertib sampah adalah bagian dari akhlak, perilaku untuk menjaga bumi milik-Nya dari kerusakan. Ada banyak sekali ayat dalam Al-Qur'an yang yang memperingatkan kita untuk memelihara bumi beserta isinya. Tertib sampah adalah salah satu perilaku yang dapat menjaga bumi-Nya dari kerusakan. Bersebab itu, wajib untuk diajarkan pada anak-anak kita. Sudah takterhitung bencana yang datang akibat sampah-sampah yang menggunung.
Salam,
Ananda Putri Bumi
Nice post... Artikel yg bagus sbg referensi dlm mendidik buah hati ttg kedisiplinan.. Memang kita harus menanamkan nilai2 kedisiplinan sejak dini pada anak2.. Mksh sdh sharring ttg hal ini.. Salam kenal ya..
ReplyDeletesama-sama, salam kenal juga... :))
DeleteDuuhh azka pinternyaaa....
ReplyDeleteSetuju mak. Menanamkan sikap peduli lingkungan dg membuang sampah pd tempatnya memang harus ditanamkan sejak dini. Tfs ya mak
Sama-sama Mak Inda, semakin dini semakin gampang mengarahkannya, makin gede makin susah pastinya, jadi... kita cari yang gampang-gampang aja :D
Deletehai azka, berawal dari hal kecil ya Mba
ReplyDeleteSalam Kenal
Iya betul Astin, salam kenal juga :)
Deletehebat ya, mrndidik buah hati memang seharusnya sejak dini :)
ReplyDeletesalut mbak!
makasih ya, sebab semakin dini semakin gampang didiknya ^^
DeletePinternya Azka, dan Mamanya yang juga ga kalah hebat..mendidik anak dengan cerdas..
ReplyDeleteTerima kasih untuk apresiasinya Mak Kartina :))
DeleteDuh. Azka lucu & pintar ya... Keren udah ngerti & terbiasa terdidik ramah lingkungan :)
ReplyDelete