Thursday, April 23, 2015

Bukan Melarang, Mengatur, dan Mengendalikan, tetapi Memfasilitasi, Memberi Ruang Bereksplorasi, Mencontohkan, Mengajak, dan Mengarahkan Pada Saat yang Tepat

Kemandirian | Latihan Hidup Sehari-hari | Multiple Intelligence


Azka memiliki tempat piringnya sendiri, sejak usia 19 bulan. Tempat itu terletak dalam jangkauannya. Ada beberapa mangkok, piring, cangkir, sendok, dan garpu di dalamnya. Jadi, jika ia kepingin makan atau minum, saya minta ia sendiri yang mengambil peralatan makannya. Dengan begitu, Azka makin mampu membedakan antara piring dan mangkok, sendok dan garpu. Kadang-kadang, jika peralatan makannya baru selesai dicuci, Azka juga kami ajak dan contohkan untuk menaruhnya sendiri.

Azka juga memiliki tempat pakaian kotor sendiri. Tiap akan mandi, saya mengajaknya untuk bersama-sama, lalu mencontohkan untuk meletakkan pakaian kotornya di tempat yang telah disediakan.

Azka suka sekali buah Lengkeng. Baru-baru ini, Azka (21 bulan) sudah bisa membuka sendiri kulit lengkeng dengan cara digigit. Sekarang, ia kerap menolak jika saya menawarkan bantuan untuk membukakan kulit lengkeng yang akan dimakannya. Kepingin membukanya sendiri.

Di rumah, kami memiliki jemuran setinggi dagu Azka. Jika saya sedang menjemur kain, bebadapa kali ia ikut menyampirkan cucian baju pada tali jemuran, lalu berusaha menjepitnya dengan jepitan baju. Meski tentu saja, hasil pekerjaannya belum sempurna. Saya biarkan saja susunan baju-baju yang dijemurnya sebagaimana adanya.

Kami juga menyediakan gantungan baju sejangkauannya agar dia bisa menggantung sendiri baju-bajunya yang telah saya setrika. Salah satu kegiatan yang disukainya.

Jika akan naik atau turun tangga di rumah, Azka melakukannya sendiri. Ia sudah jago sekali naik tangga. Memasuki usia 20 bulan, ia juga sudah bisa turun tangga sendiri.

Sejak usia 21 bulan, Azka tidak pernah lagi dengan sengaja memperlakukan hp dengan tidak semestinya, seperti sengaja menjatuhkan atau melempar, menginjak, atau memukul-mukulkannya pada lantai. Ia memperlakukan hp seperti halnya kita memperlakukan. Meski tentu, belum sempurna.

Jemari Azka (21 bulan) juga sudah cukup stabil dan terkendali dalam mengoperasikan touchscreen hp. Bila ia kepingin membuka app drum, biola, gitar, atau pun piano di-hp, ia sudah bisa melakukannya sendri. Pun jika Azka kepingin melihat rekaman kegiatannya, ia juga sudah bisa membuka dan memilih-milih rekaman yang akan ditontonnya.

Jika kepingin minum, Azka juga sudah memiliki inisiatif mengambil cangkir sendiri dari tempat piringnya, lalu menggeser kursi ke dekat meja dispenser dan meminta saya duduk, setelah itu ia meminta saya untuk memangkunya, lantas meletakkan cangkir yang dibawanya di bawah keran dispenser dingin, menunjuk keran dispenser panas seraya bilang, "anas" dan menunjuk keran dispenser dingin seraya bilang "ninin", kemudian menekan keran dispenser dingin hingga airnya keluar.

Azka memiliki beberapa cangkir yang ada tutupnya, yang tutupnya harus diputar jika ingin menutup cangkir itu erat. Suatu hari ia mengetuk-ngetuk kamar mandi memanggil-manggil saya yang sedang berada di dalam dan memperlihatkan keberhasilannya dalam menutup cangkir itu. Rapi dan erat.

Suatu kali, Azka (ketika ia 20 bulan) bermain- main dengan sekumpulan meal boxes, menebarnya dan menjadikannya alat musik pukul. Setelah puas bermain, ia bangkit dari duduknya, dan bilang, "tayok agi", lalu meletakkan kembali box-box itu pada tempat semula. Hal itu kerap terjadi hingga sekarang tanpa sekalipun saya menyuruhnya.

Sejak ia 18 bulan hingga kini, setiap saya sedang menyapu dan memasukkan sampah hasil sapuan ke dalam cikrak, Azka buru-buru mengambil cikrak itu dan berjalan menuju tempat sampah, lalu membuang sampa-sampah yang ada di dalamnya. Kini, ia pun kepingin, ia sendiri yang menyapukan sampah itu ke dalam cikrak.

Bersebab tanah di sini tanah rawa, kadang-kadang ada kaki seribu yang masuk ke dalam rumah. Jika kebetulan Azka melihatnya, ia langsung sibuk mencari sapu, mengarahkan saya untuk membuka pintu, lalu mendorong kaki seribu itu dengan sapu ke arah luar rumah. Salah satu tugas Azka sekarang adalah menyingkirkan kaki seribu dari dalam rumah. Kadang, sebelum membuangnya, ia memperhatikan dulu kaki seribu itu lama-lama sambil bilang, "kaki ebu, kaki ebu." Kepo.

Apa itu karena saya selalu berusaha untuk mengajarinya?

Saya tidak pernah mengajarinya.

Saya dan suami hanya memberikan sarana dan memberinya ruang untuk melakukan aktivitas yang kepingin dilakukannya.

Yang kami lakukan hanya membiarkannya bereksplorasi, dan membiarkan rumah berantakan bersebab eksplorasinya.

Yang saya lakukan hanya menahan diri untuk tidak melarang-larangnya dan menahan diri untuk tidak mengatur-aturnya, apalagi berusaha mengendalikannya.

Suatu kali, ketika ia sedang bermain sendok, saya pernah mencoba mengaturnya dengan mengatakan, "kalau sudah selesai main, tarok lagi di tempatnya ya." Azka lalu bangkit berdiri dan bilang, "gak!" Kemudian dengan cueknya berlari meninggalkan sendok-sendok itu dan bermain yang lainnya.

Yang saya lakukan adalah mencermati aktivitasnya, lalu "masuk" pada situasi yang tepat, yaitu ketika ia siap untuk mendengarkan, baru saya berikan arahan.

Ketika Azka kepingin bermain beras, saya biarkan. Lalu ketika ia akan membuang segenggam beras ke lantai, saya bilang, "berasnya masukin kesini ya," sambil saya berikan sebuah wadah. Kini, setiap sedang main beras, tepung, kacang hijau, makaroni, Azka selalu mengambil wadah lain untuk menuangnya. Ia tidak lagi menyerakkannya ke lantai. Tapi tentu saja ya, tetap masih ada yang berceceran di lantai.

Ketika Azka kepingin bermain hp, saya berikan. Kalau kebetulan ia bermain hp di dapur, di bawah kompor pula, saya bilang, "Azka kalau mau main hp di depan (ruang tamu) ya." Ia akan segera bangkit dan berjalan ke ruang tamu.

Kalau Azka kepingin minum dari gelas kaca, saya izinkan. Tapi, sebelum ia minum, saya bilang, "minumnya sambil duduk ya." Azka pun akan segera duduk.

Kalau ia sedang main hp, lalu kesulitan menemukan hal yang dicarinya, Azka akan berteriak bilang, "Cucaah, cucaah," atau "Nggak ica, nggak ica." Saat itulah saya "masuk" dan memberinya pengarahan.

Jika Azka kepingin memanjat-manjat di area dekat televisi, saya biarkan. Ia senang sekali mengutak-atik tombol-tombol di tv dan speaker. Saya cuma bilang, "Azka kalau mau naik-naik, bilang umi ya." Dan setiap ia akan memanjat, ia selalu bilang, "Mii, Aca aiik (umi, Azka mau naik)." Segera saya gelar matras di bawahnya, agar jika ia terjatuh, tidak terlalu sakit.

Yang kami lakukan adalah mencontohkan. Ketika Azka menumpahkan air, langsung saya pel lantainya tanpa melarangnya kembali untuk menumpahkan. Ketika ia selesai bermain dengan piring-mangkoknya yang ia tumpahkan dan sebar ke penjuru ruangan, setelah ia selesai main, saya kumpulkan mainannya ke tempatnya tanpa melarangnya untuk bermain dan menebarnya kembali. Setiap ada sampah di lantai, langsung saya pungut dan buang ke tempat sampah. Azka melihat dan merekam semuanya, lalu menirunya.

Ketika ia menumpahkan air, ia akan mencari kain pel dan mengelapnya sendiri. Ketika menemukan sampah, ia akan memungut lalu membuangnya tanpa disuruh. Ketika ada semut di lantai, Azka langsung ambil sapu dan menyapu semut-semut itu. Yaaa... meski semut-semutnya jadinya bertebaran di mana-mana sih...

Ya memang ada saatnya saya akan bilang "Azka boleh main ini itu asal nanti dibereskan lagi," tapi ya itu nanti, bukan sekarang di saat ia masih 21 bulan ini.

Yang kami lakukan adalah mengajaknya melakukan suatu hal. "Yuk, kita masukkan baju kotor Azka ke tempatnya." Saya juga ikut mendampinginya berjalan ke tempat keranjang kotor, memasukkan sehelai, lalu meminta Azka memasukkan yang lainnya.

Saya meyakini, dari pengalaman, pengamatan, dan bacaan, pola asuh yang terlalu banyak melarang, mengatur, dan mengendalikan tidak akan membuat anak banyak belajar. Pola asuh tersebut hanya akan menimbulkan banyak perselisihan antara orang tua dan anak. Orang tua akan menganggap anak keras kepala dan suka melawan karena tidak mau menurut. Anak akan menganggap orang tua terlalu banyak melarang dan mengatur. Jadi, jika pola asuh tersebut tidak banyak membuahkan hasil, malah hanya membuat orang tua dan anak kerap berselisih, mengapa harus diteruskan?

Anak-anak itu adalah mahluk yang penuh energi. Badan mereka masih segar dan sehat. Tidak seperti kita yang sudah banyak sakit di sana sini dan cepat lelah. Menyuruh orang yang memiliki energi penuh, yang badannya masih segar dan sehat untuk melulu duduk diam, melarang mereka untuk bergerak ke sana kemari, bukankah itu hal yang mustahil? Selama badan kita segar, sehat, penuh energi, pasti kita kepinginnya bergerak terus. Begitu pun anak-anak.

Pembelajar dan mandiri sebenarnya adalah sifat alami manusia. Proses belajar adalah proses yang didahului oleh rasa ingin tahu, dan berlanjut dengan pengulangan-pengulangan. Sementara, kemandirian ditandai dengan berusaha melakukan sesuatu sendiri, tanpa mengandalkan orang lain. Bukankah hal ini sangat kental terlihat pada anak-anak?

Azka, tidak mau disuapi. Kepingin buka buah lengkeng sendiri. Kepingin mengambil air sendiri dari dispenser. Ketika minum, gelasnya tidak mau dibantu dipegangi. Kepingin menyalakan dan mematikan televisi, lampu, kipas angin sendiri. Kepingin naik-turun tangga sendiri. Kalau makan ikan atau ayam, tidak mau disuwir-suwir, kepinginnya diberikan utuh, biar ia yang melepasnya dari tulangnya, dan lainnya. Ini adalah tanda-tanda kemandirian, bukan?

Azka, selalu bertanya "apa ini?" ketika melihat sebuah benda. Lalu setelah diberi tahu, ia akan mengulangnya terus. Jika esok harinya ia menemukan benda yang sama, ia akan menyebutnya berulang-ulang kembali. Saya tidak pernah mengajarinya harus menghapal kosa kata ini dan itu. Azka selalu kepingin tahu apa yang sedang saya lakukan. Sampai-sampai ia hapal urutan mencuci dan membilas baju, urutan menanak nasi, dan lainnya. Saya tidak pernah mengajarinya. Ia yang kepingin tahu, lalu kepingin juga melakukannya. Ini adalah sifat seorang pembelajar, bukan?

Lalu mengapa, ketika anak-anak itu menjadi manusia dewasa, sifat pembelajar dan mandiri itu perlahan malah menjadi lenyap? Banyak orang tua yang mengeluhkan anaknya susah disuruh belajar, tidak mau membantu di rumah, dan apa-apa minta diambilkan atau dibantu.

Saya meyakini, sifat mandiri dan pembelajar yang secara alami sudah ada pada manusia sejak kanak-kanak itu malah menjadi lenyap ketika mereka beranjak dewasa,itu adalah akibat pola asuh yang tidak tepat.


Salam,


Ananda Putri Bumi

Thursday, April 16, 2015

Ketika Bayi Azka Senang Mengulum Jari Tangannya

Kemandirian


Dulu, sewaktu Azka sedang senang-senangnya memasukkan tangan ke dalam mulut, ketika usianya masih hitungan bulan, saya membiarkannya. Saya hanya memastikan tangannya selalu dalam keadaan bersih.

Karena dibiarkan, kegiatan memasukkan tangan ke dalam mulut pun makin lama makin berkembang. Dari yang tadinya hanya sekedar mengisap-isap ujung jari, hingga ia berusaha memasukkan kedua tangannya ke dalam mulut lalu mengunyah jari-jarinya. Ia juga sering kelolodan karena jari dan telapak tangannya terlalu dalam masuk ke dalam mulut.

Saya menyadari, membiarkan bayi memasukkan jari-jarimya ke dalam mulut, bahkan hingga dia mengunyah jari-jarinya sendiri sampai kelolodan, adalah diluar kebiasaan. Saya perhatikan, kebanyakan orang selalu melarang bayinya ketika sang bayi hendak memasukkan tangannya ke dalam mulut.

Bahkan, beberapa kali saya menyaksikan, ketika saya membawa Azka ke tempat umum atau sedang berada di tempat kerabat, saat ia akan memasukkan tangannya ke dalam mulut, banyak orang yang berinisiatif sendiri langsung berusaha menjauhkan tangan Azka dari mulutnya. Alasan mereka, tangan itu kotor. Padaha saat itu Azka belum merangkak sehingga tidak sulit untuk selalu mengontrol kebersihan tangannya.

Lalu, mengapa saya biarkan?

Semua bayi, pada usia tertentu, pasti gemar memasukkan tangannya ke dalam mulut, bukan? Semua bayi. Bukan hanya bayi tertentu saja. Sama halnya dengan, semua bayi pada waktunya pasti akan tengkurap, merangkak, lalu berjalan. Artinya, semua bayi memang di desain begitu, akan ada fase di mana mereka gemar memasukkan tangan ke dalam mulut. Lalu siapa yang mendesain mereka seperti itu? Allah.

Apakah Allah pernah menciptakan sesuatu tanpa alasan? Artinya, pasti ada alasannya mengapa Allah menciptakan bayi dengan kegemarannya memasukkan tangan ke dalam mulut. Apakah Allah pernah salah dalam menciptakan atau merencanakan sesuatu? Bagi saya, jawabannya adalah "tidak". Jadi, apakah merupakan sebuah kesalahan atau ketelodaran dari Allah, ketika Ia menciptakan bayi gemar memasukkan tangannya ke dalam mulut pada usia tertentu? Bagi saya, jawabannya adalah "tidak". Allah menciptakan adanya fase oral pada bayi, tentu ada maksud tertentu di dalamnya.

Itulah landasan yang saya pegang saat membiarkan Azka bereksplorasi dengan mulut dan tangannya, bahwa apapun yang dilakukan bayi dan kanak-kanak, saat mereka belum memiliki dosa, adalah arahan dari Allah.

Jika hal itu adalah arahan dari Allah, mengapa kebanyakan orang tua justru melarang? Sebab, ketika mengasuh anak, kebanyakan orang tua memandang bayi adalah mahluk kecil yang belum tahu apa-apa, jadi mesti selalu diajari ini-itu. Mereka lupa bahwa bayi itu di desain oleh Zat yang Maha Sempurna. Kebanyakan orang tua lupa menyertakan Sang Pencipta saat sedang mengasuh dan mendidik anak-anak mereka sehingga tidak pernah menyadari bahwa apa-apa yang dilakukan bayi adalah desain dan arahan dari Sang Pencipta, bukan karena bayi belum mengerti apa pun.

Dengan membiarkan Azka bereksplorasi dengan tangan dan mulutnya, pengetahuan saya malah jadi bertambah. Tadinya saya pikir bayi hanya sekedar mengisap jari tangannya saja. Tapi ternyata mereka mampu memasukkan kedua telapak tangan dan jari-jari mereka ke dalam mulut, lalu mengunyah jari-jari dengan gusi hingga ia kelolodan. Ketika kelolodan, barulah Azka mengeluarkan jari-jarinya dari dalam mulut. Tak berapa lama, kegiatan itu diulanginya kembali. Dengan begitu, saya pun mengetahui bahwa mengunyah adalah juga refleks yang tak perlu diajari kepada bayi seperti halnya mengisap. Bayi sudah tahu dengan sendirinya.

Dan saat pertama kali saya sodorkan pada Azka potongan buah pir ketika usianya enam bulan (seperti yang pernah saya bahas pada tulisan "Ummi, Aku Sudah Tidak Mau Disuapi Lagi"), Azka langsung berupaya mengunyah dengan gusinya, seolah sudah tahu bahwa makanan itu harus dikunyah dulu sebelum ditelan.

Memasukkan jari tangan, mengulum, dan mengunyahnya akan memperkuat otot rahangnya.

Saat bayi sedang merasa cemas atau tidak nyaman, mereka juga akan memasukkan tangannya ke dalam mulut sebagai upaya untuk mengurangi perasaan cemas atau ketidaknyamanannya. Artinya, ketika misalnya bayi sedang berada di tengah keramaian, lalu tiba-tiba ia memasukkan tangannya ke dalam mulut, itu pertanda bahwa bayi sedang merasa tidak nyaman dengan kondisi sekitar, dan ia sedang berusaha menenangkan dirinya dengan caranya. Jika dilarang, dapat dipastikan tak berapa lama kemudian, bayi akan rewel bersebab terus-terusan merasa tidak nyaman.

Melarang bayi memasukkan tangannya ke dalam mulut juga dapat mengganggu tumbuh kembangnya di kemudian hari. Urusan tumbuh kembang bukan hanya menyangkut fisik, tapi juga jiwa. Ada beberapa artikel online yang membahas hal ini dengan cukup jelas. Googling saja.

Belakangan, saya baru tahu kalau membiarkan bayi mengulum dan mengunyah jari tangannya juga akan membantu perkembangan otaknya.


Salam,


Ananda Putri Bumi

Thursday, April 2, 2015

Jenis Permainan yang Dilarang

Akhlak | Multiple Intelligence | Kecerdasan Intrapersonal | Kecerdasan Interpersonal


Suatu hari, saya mendengar abi dan Azka seru sekali bercengkerama di ruang tamu. Ada suara benturan, ada suara abi, dan ada gelak tawa Azka. Bersebab penasaran, saya melongok ke ruang tamu. Saat itu, saya melihat Azka sedang mendorong sepedanya ke arah abi hingga membentur dinding. Abi berpura-pura sepeda itu mengenainya dan meng-"aduh" kesakitan. Azka spontan tertawa melihat ekspresi kesakitan dan dan teriakan "aduh" dari abi. Makin keras Azka membenturkan sepeda ke dinding, maka makin keras abi berteriak dan mengekspresikan kesakitannya, makin berderai pula gelak tawa Azka. Hal itu dilakukan berulang-ulang.

Saya mengernyitkan kening melihat permainan itu. Rasanya seperti ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak berkenan di hati. Akan tetapi, di lain sisi, permainan semacam itu adalah permainan yang tidak asing dimainkan oleh orang dewasa ketika sedang bermain dengan kanak-kanak. Setidaknya sependek ingatan saya. Semacam permainan di mana orang dewasa menjadi objek penderita, entah itu pura-pura tertembak, pura-pura tertabrak, atau pura-pura terkena tendangan anak, kemudian mereka berpura-pura berteriak kesakitan maupun berpura-pura mati, lalu anak-anak pun tertawa menyaksikan drama itu.

Jadi, meski tidak berkenan di hati, saya diamkan dan biarkan saja permainan terus berlanjut, sebab permainan itu memang permainan yang tidak asing. Menjadi objek penderita adalah suatu usaha yang kerap dilakukan orang dewasa demi membuat anak-anak terhibur dan tertawa. Seingat saya, beberapa kali saya juga pernah memainkannya dengan para keponakan saya dulu dan juga dengan Azka saat ini.

Akan tetapi, sungguh berbeda ternyata ketika kita menjadi pelaku dan pengamat. Ketika sedang bermain, saya sama sekali tidak merasakan ada sesuatu yang salah dengan permainan ini. Seru-seru saja. Lain halnya ketika menjadi pengamat. Saat melihat permainan itu, saya merasa ada sesuatu yang salah.

Hingga pada suatu waktu...

Saat itu malam hari. Saya sedang menyiapkan makan malam untuk abi. Azka bersama abi di ruang tamu. Abi sedang tiduran di lantai, sementara Azka duduk di lantai menghadap ke kepala abi. Tiba-tiba sebuah pukulan cukup keras dari telapak tangan mungil itu mendarat di wajah abi. Abi spontan meng-"aduh" kesakitan. Azka tertawa. Belum pulih keterkejutan abi, sebuah pukulan lebih keras mendarat kembali di wajahnya. Teriakan "aduh" abi lebih keras dari yang pertama. Tawa Azka pun menjadi lebih keras. Dan lalu, belum sempat abi menjauhkan diri, pukulan ketiga pun mendarat kembali...

Obrolan singkat pun terjadi antara saya dan suami. Saya bilang, kejadian barusan mengingatkan saya pada permainan "tertabrak sepeda" yang pernah dimainkan Azka dan abi. Polanya mirip. Bedanya hanya, yang kemarin abi pura-pura berteriak kesakitan, sementara yang sekarang, abi benar-benar berteriak kesakitan. Akhirnya kami bersepakat untuk tidak lagi melakukan permainan semacam itu.

Jadi sekarang, jika saya mendapati diri saya mulai melakukan permainan itu, saya segera berhenti dan mengajak Azka bermain yang lain. Jika saya "disakitinya", saya menyampaikan ketidaksukaan saya lewat ekspresi wajah, lalu menjauhinya. Hal itu saya lakukan agar saya tidak membentak atau memarahinya. Anak-anak sangat mahir membaca ekspresi. Pada bulan-bulan awal hidup mereka, anak-anak berkomunikasi lewat ekspresi wajah dan tubuh.

Jika saya tidak dapat menghindar, misal ketika Azka menggiggit atau mencubit dengan kuku, sambil memperlihatkan ekspresi tidak suka, saya bilang, "Umi kesakitan Azka cubit. Lepas!" Azka pun akan melepas cubitan atau gigitannya. Lewat penyampaian ekspresi dan kalimat verbal, saya usahakan untuk menyampaikan "apa yang saya rasakan (dengan mengatakan: umi kesakitan)", "bahwa saya tidak suka diperlakukan begitu (dengan ekspresi wajah dan tubuh)", dan "apa yang harus dilakukannya (dengan mengatakan: lepas!)".

Saya menghindari pemakaian kata "jangan" atau "tidak boleh" seperti kalimat "tidak boleh gigit-gigit orang ya..." atau "jangan begitu ya..." sebab kalimat itu tidak menyampaikan informasi apa pun pada anak. Anak akan tetap melakukan apa yang sedang dilakukannya. Singkatnya, lebih baik menyampaikan dengan jelas, perilaku apa yang kita kita harapkan untuk dilakukan anak. Misal (ini contoh yang lain), ketika Azka mulai memukul-mukulkan handphone pada lantai, saya tidak akan bilang, "Azka tidak boleh begitu ya" atau "eh, jangan dipukul-pukul, nanti rusak hp-nya". Sebab, saya yakin ia tidak akan mengubah perilakunya, kadang malahan, ia akan memukul lebih keras lagi. Tetapi, yang saya katakan adalah, "dipeluk dong hp-nya." Azka pun akan segera memeluk hp ditangannya dan berhenti memukul-mukulkannya pada lantai.

Baru setelahnya, akan ada dialog-dialog sederhana yang dilakukan untuk menjelaskan pertanyaan "mengapa" dibenaknya.

*****

Kejadian itu menjadi pengingat bagi saya bahwa anak-anak belajar setiap saat, kapan pun, di mana pun, dan dalam situasi dan kondisi bagaimana pun. Termasuk saat mereka sedang bermain. Bagi orang dewasa, permainan ya permainan saja, untuk menghibur dan untuk hiburan. Namun bagi kanak-kanak, belum ada batas antara permainan dan kenyataan. Tanpa kita sadari, banyak pesan-pesan yang tersampaikan pada anak lewat permainan, baik pesan positif ataupun negatif. Untuk itu, perlu diperhatikan benar jenis permainan yang dimainkan bersama anak.

Barangkali pikiran saya terlalu berlebihan, akan tetapi jujur saja, permainan itu mengingatkan saya pada kasus penganiayaan dan pembunuhan seorang perempuan yang dilakukan oleh mantan pacarnya yang sudah memiliki kekasih lain. Mantan pacar dan kekasihnya melakukan pembunuhan itu bersama. Setelah menganiaya dan membunuh, tak tersirat penyesalan sama sekali dari wajah mereka. Bahkan wajah-wajah itu terlihat puas. Kepuasan yang terlihat dari wajah-wajah mereka inilah yang menjadi salah satu berita menggegerkan selain pembunuhan itu sendiri.

Seperti yang sudah saya ucapkan di atas, barangkali pikiran saya terlalu berlebihan. Saat membaca tulisan saya ini, barangkali akan ada yang nyeletuk, "Gak segitunya juga kellees". Akan tetapi, meski mungkin tidak akan sebegitunya, saya meyakini jenis permainan semacam di atas, jika dimainkan terus menerus, lama-kelamaan akan menghilangkan sensitifitas anak terhadap penderitaan orang lain, baik saat ini maupun saat ia dewasa nanti. Penderitaan orang lain akan menjadi tontonan dan lelucon bagi mereka. Jika ada yang terjatuh, mereka akan tertawa alih-alih menolong, menganggap kejadian itu adalah suatu hal yang lucu. Berita-berita di televisi tentang kejadian menyedihkan yang menimpa orang lain hanya sekedar menjadi tontonan dan bahan obrolan sehari-hari.

Barangkali, jenis permainan anak-anak yang (saya meyakini) sudah merambah dari sabang sampai merauke inilah -yang kerap diajarkan dan kita mainkan di kala kecil- yang menyebabkan acara-acara lawak di televisi kita banyak menyuguhkan adegan kekerasan dan penderitaan sebagai bahan lucuannya. Entah itu sengaja membuat orang lain tersandung, terbentur, terjatuh, dan lainnya.



Salam,


Ananda Putri Bumi

Thursday, March 26, 2015

Acuan dalam membeli mainan dan memilih kegiatan untuk Azka

Multiple Intelligence | Kecerdasan Kinestetik | Kecerdasan Naturalis | Kecerdasan Musikal


Acuan apa yang akan kami pakai dalam menentukan mainan untuk Azka? Beberapa waktu lalu, pertanyaan itu berputar-putar di kepala saya. Saya merasa, kami perlu membuat parameter itu agar mainan yang dibelikan, selain bermanfaat untuknya, juga tidak membuat kami jadi boros dalam belanja mainan.

Yang pasti, berdasarkan tulisan saya sebelumnya (Semua benda di rumah adalah mainan Azka, semua ruangan di rumah adalah tempat bermain Azka), salah satu ukuran yang kami pakai adalah, selama bisa menyediakan benda aslinya, kami tidak perlu lagi membelikan versi mini atau versi tiruannya. Jika saya sedang memasak, biasanya Azka juga sibuk memasak "masakannya" sendiri. Saya membiarkannya memakai wajan, sutil, piring, mangkok serta bahan-bahan masakan yang ada di dapur. Kadang-kadang ia meminta bahan-bahan yang akan saya masak. Saya sisihkan sedikit untuk "dimasaknya". Untuk kompornya, saya berikan kompor listrik bekas yang sudah tidak kami pakai.

Jika sudah bosan memasak sendiri sementara saya masih sibuk dengan kegiatan memasak, biasanya Azka kepingin nimbrung. Jika saya sedang mengaduk adonan tertentu, saya biarkan Azka ikut serta mengaduknya. Jika saya sedang memotong-motong, biasanya Azka akan menarik sebuah kursi ke dekat saya berdiri, menyuruh saya duduk, lalu ia pun minta dipangku. Itu tandanya, ia kepingin melihat kegiatan saya. Saya penuhi keinginannya, saya pangku Azka, lalu saya lanjutkan kembali memotong-motong sambil meladeni pertanyaannya. Jika saya sedang di depan kompor, biasanya Azka kepingin digendong agar dapat melihat apa-apa yang sedang saya masak di atas kompor. Saya lalu menggendongnya sambil memasak. Semua itu saya lakukan agar Azka tidak merasa asing dan berjarak dengan kegiatan memasak.

Mengutip pernyataan Howard Gardner, tokoh kecerdasan majemuk, dalam "Sekolah Para Juara"-nyaThomas Amstrong, bahwa beberapa kecerdasan muncul lebih dulu dibanding beberapa kecerdasan lainnya, maka saya pikir, menggunakan teori kecerdasan majemuk ini sebagai acuan dalam menentukan jenis mainan Azka, ada baiknya juga. Ketika saya ungkapkan hal itu pada suami, ia menyetujuinya. Jadi, tujuan mainan yang dibeli adalah untuk terus mengasah dan mengembangkan beberapa kecerdasannya yang telah muncul. Kecerdasan yang saya maksud di sini, tentu bukan kecerdasan akademis yang berkaitan dengan kegiatan membaca, menulis, dan berhitung.

Beberapa kecerdasan, dari keseluruhan kecerdasan majemuk, yang sudah muncul pada dini adalah kecerdasan kinestetik, kecerdasan berbahasa (lisan: mengucapkan kosakata dan kalimat sedehana), kecerdasan naturalis (ketertarikan pada hewan dan benda-benda di sekitar), kecerdasan musikal (ketertarikan pada bunyi-bunyian), kecerdasan intrapersonal (mampu merasakan dan mengenal emosi yang sederhana), serta kecerdasan interpersonal (mampu membedakan ekspresi wajah, gerak, isyarat). Munculnya kecerdasan ini, salah satunya dapat dilihat dari ketertarikan anak terhadap suatu hal atau kegiatan.

Untuk mengasah kecerdasan naturalisnya, saat ini kami membelikan Azka boneka hewan. Kami pilihkan boneka yang benar-benar mirip hewan asli. Bukan hewan jadi-jadian seperti angry bird, mickey mouse, donald duck, dan lainnya. Boneka-boneka ini dibelikan karena kondisi kami belum memungkinkan untuk memelihara hewan asli. Kepinginnya sih suatu saat Azka punya beberapa hewan peliharaan.

Penamaan boneka hewan ini pun disesuaikan dengan jenis atau suaranya. Boneka kuda ya namanya kuda. Boneka kucing ya namanya kucing atau meong. Boneka harimau ya namanya harimau atau aum. Boneka anjingnya bernama gukguk. Boneka kura-kura-nya bernama kura-kura. Begitu pula dengan bebek, gajah, dan hewan lainnya. Kami tidak mengarahkan Azka untuk memberi nama mumu, nyitnyit, bobo, atau yang sejenisnya, agar ketika suatu saat Azka bertemu dengan hewan asli, Azka tidak menyebutnya dengan nama mumu atau nyitnyit, tetapi menyebutnya kuda, atau gajah, atau gukguk.

Selain dipakai untuk parameter dalam membeli mainan, secara mengalir, ukuran ini ternyata juga terterapkan dalam memilih kegiatan untuk Azka. Ketika sedang belanja di pasar swalayan atau pasar tradisional (jika mereka ikut), sementara saya berbelanja, Azka dan abi biasanya sibuk melihat-lihat ikan, ayam, dan lainnya.

Kecerdasan naturalis ini juga saya asah dengan mengajak Azka jalan-jalan sore. Sambil berjalan, saya kenalkan ia pada bunga, rumput, daun, batu, tanah, rumah, pohon, pasir, tanah, bermacam jenis kendaraan, dan lainnya. Semakin bertambah usiaya, obrolan yang dilakukan pun makin meluas, dari yang tadinya saya hanya menjawab pertanyaan "apa ini" darinya, hingga pertanyaan tentang kepemilikan (rumah orang lain, layang-layang abang, motor om) dan pertanyaan "mana?" jika apa-apa yang dilihatnya sudah tak terlihat lagi.

Tujuan dari mengasah kecerdasan naturalis ini adalah agar kelak Azka merasa dekat dan peduli dengan hewan dan lingkungannya. Saya meyakini, jika kecerdasan ini terus diasah dengan konsisten, dengan terus mendekatkannya pada hewan dan lingkungan, dengan mendampinginya menjawab pertanyan "mengapa begini, mengapa begitu" seputar hewan dan lingkungan, kelak ia tidak hanya sekedar kepingin tahu "apa ini", akan tetapi juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian hewan dan lingkungan. Kepedulian terhadap hewan dan lingkungan adalah bagian dari akhlak untuk menjaga bumi-Nya dari kerusakan.

Untuk kegiatan liburan nanti pun, pilihan prioritas adalah mengunjungi kebun binatang dan taman safari.

Nah, untuk mengasah kecerdasan kinestetiknya, kami membelikannya mainan yang menstimulasinya untuk bergerak. Bola, agar ia berlari, menendang, melempar, menangkap. Tadinya sih saya kepingin membelikan bola aslinya, bola kaki, bola basket, bola voli. Tetapi kata suami, bola asli itu berat, belum kuat dimainkan anak-anak seusia Azka (20 bulan). Ya sudah, bola-bolaan saja kalau begitu untuk saat ini. Lalu, mainan yang mengeluarkan melodi selama beberapa saat agar ia menari, berputar, melompat.

Untuk kegiatan yang berkaitan dengan kecerdasan ini, selain memanfaatkan tangga di rumah untuk kegiatan naik-turun dan kasur untuk area guling-guling dan salto, jogging di stadion gor pontianak setiap sabtu dan minggu pagi adalah kegiatan bersama yang kami pilih saat weekend. Sebulan sekali, kami juga mengajak Azka berenang. Khusus di hari minggu, sebelum menuju gor, kami menikmati waktu berjalan-jalan di area car free day terlebih dulu.

Di car free day inilah saya mengetahui ada klab in line skate khusus untuk anak, di kota ini. Setiap hari minggu mereka berkumpul dan berkegiatan di car free day dengan memakai t-shirt berkerah bewarna hijau yang bertuliskan keterangan klab di bagian punggung atas kanan; seragam klab. Sependek pengamatan saya, rentang usia anak yang tergabung dalam klab ini sekitar empat atau lima, hingga belasan tahun.

Kanak-kanak mana yang tidak suka ber-in line skate? Apalagi jika kegiatan itu dilakukan ramai-ramai. Seru dan menantang. Tentu saja, bergabung di klab ini adalah salah satu rencana kami untuk Azka nanti. Dari sekarang, kami membiasakannya melihat para anggota klab itu berkegiatan. Itu artinya, in line skate masuk ke dalam daftar mainan atau perlengkapan yang akan kami belikan untuk Azka.

Kegiatan lain yang saya kepingin Azka untuk ikut, yang berkaitan dengan pengembangan kecerdasan kinestetiknya adalah kegiatan bela diri. Saat ini saya sedang mencari tahu klab bela diri apa saja yang ada di pontianak dan untuk rentang usia berapa tahun.
Untuk liburan nanti pun, pilihan prioritas akan berkisar pada kegiatan bergerak seperti berenang, jalan pagi di area car free day, jogging di taman-taman, mengunjungi arena permainan sepak bola untuk toddler (jika ada), mengunjungi beberapa arena olah raga dan melihat kegiatannya agar pengetahuan azka tentang jenis-jenis olah raga bertambah, dan sebagainya.

Kemudian, dalam mengasah kecerdasan musikalnya, mainan yang dibelikan adalah miniatur alat musik dan mainan yang mengeluarkan melodi. Untuk alat musik pukul, saya memanfaatkan benda-benda yang ada di rumah. Untuk memperkenalkan azka pada alat musik asli, saya bawa Azka ke kampus seni tempat abinya mengajar. Di sana ia puas bermain drum, piano, biola, gitar, dan lainnya.
Kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan kecerdasan musikal ini sudah pernah saya bahas (Mendengarkan, Meniru, dan Menciptakan Bunyi-bunyian).

Ke depannya, rencana kami selanjutnya adalah mengikutkan azka kursus drum di usia tiga tahun nanti. Terlebih lagi, dalam beberapa waktu ke belakang ini ia sangat tergila-gila dengan drum. Hampir setiap hari ia bilang kepingin main drum. Drum asli, bukan drum dari galon atau kaleng biskuit. Saat kami perlihatkan mainan drum di salah satu toko mainan anak pun ia tak berminat. Ia baru antusias saat kami mengunjungi toko alat musik dan menemukan drum asli di sana. Azka pun asik memukul-mukul dan takmau diajak pulang. Untungnya, di saat ia kepingin sekali main drum, di saat itu pula ada kegiatan abi yang memungkinkan azka ikut serta dan ia dapat bermain drum dengan puas di sana.

Oya, awal dari keinginan menggebu-gebunya itu, ketika ia melihat gambar drum di salah satu karpet di rumah. Ia mengenal gambar itu sebab pernah beberapa kali main drum di kampus tempat abi mengajar. Azka menunjuk-nunjuk gambar itu berulang-ulang seraya bilang, " ini, ini, main...(ia selalu bilang "main" jika melihat alat musik)."

"Oh, itu drum," ucap saya dengan memperagakan gerakan orang main drum sambil menirukan bunyi hasil pukulan drum. Azka pun lantas bilang, "mau umi, main, mau main ini, dyam, dyam." Beberapa hari berturut-turut Azka selalu mengatakan hal itu setiap melihat gambar di karpet.

Bagi saya, keinginannya itu ya seperti kata pepatah "pucuk di cinta ulam pun tiba". Jauh sebelumnya, abi juga pernah mengusulkan, saat Azka tiga tahun nanti, akan dikursuskan drum. Kala itu abi sedang menunjukkan pada saya, penampilan dua anak usia sekitar empat tahunan sedang bermain drum dan keyboard di televisi. Saat saya tanya mengapa drum, bukan alat musik yang lainnya, abi mengatakan, drum adalah salah satu alat musik paling mudah dimainkan oleh anak usia dini yang paling banyak membutuhkan gerakan dan koordinasi anggota tubuh. Cocok untuk anak-anak yang sedang butuh banyak bergerak. Saya sepakat. Bermain drum akan memperkuat otot tangannya, yang akan digunakannya untuk menulis kelak.

***

Ternyata, dengan dibuatnya ukuran untuk memilih mainan dan permainan atau kegiatan untuk Azka, lebih memudahkan kami dalam memilihkan berbagai mainan dan kegiatan untuknya. Serta, tujuan dari dibelikan mainan dan berkegiatan itu pun menjadi jelas dan terarah. Selain itu, ukuran ini dapat menjadi landasan kami dalam mengabulkan atau menolak permintaan Azka kelak, ketika ia sudah bisa meminta dibelikan mainan. Dan saat ini (sejak 18 bulanan) ia sudah mulai bisa meminta, mau ini, mau itu. Jika tidak boleh, kami dapat menyampaikan alasan yang jelas, tidak hanya sekedar bilang "tidak boleh" atau hanya memakai alasan "mainanmu kan sudah banyak di rumah". Pun jika boleh, kami paham tujuan dibelikan mainan itu untuk apa.

Ringkasnya, beberapa ukuran itu adalah:

1) Pembelian, pemberian, dan pemilihan mainan dan kegiatan disesuaikan dengan kemunculan kecerdasannya, merujuk pada teori kecerdasan majemuk Howard Gardner.
2) Selama masih bisa memberikan atau membelikan benda aslinya, kami akan memprioritaskan benda aslinya. Ketika Azka kepingin main masak-masakan, saya berikan wajan, sutil, dan kompor asli, tidak perlu membelikan mainan masak-memasak. Kalau Azka kepingin main alat musik, ya main ke kampus abi saja, di sana tersedia banyak alat musik asli (hihihiii...). Takperlu dibelikan gitar plastik atau drum-druman. Kalau kepingin main laptop, pake laptop abi aja takperlu beli laptop-laptop-an (hihihiii lagiii...).
3) Kalau kami belum bisa memberikan benda aslinya, ya diberikan yang semirip mungkin dengan benda aslinya. Bersebab belum bisa memelihara hewan asli, saat ini kami berikan Azka boneka hewan yang dipilih semirip mungkin dengan hewan asli. Kami juga usahakan agar Azka dapat melihat langsung hewan asli melalui kunjungan ke kebun binatang. Pengetahuan tentang hewan jadi-jadian itu nanti saja.

Pembahasan untuk mainan dan kegiatan pada beberapa kecerdasan lain akan saya bahas pada tulisan lain. Rasanya tulisan ini akan terlalu panjang jika saya satukan di sini.



Salam,


Ananda Putri Bumi

Wednesday, March 18, 2015

Semua Benda di Rumah Adalah Mainan Azka, Semua Ruangan di Rumah Adalah Tempat Bermain Azka

Latihan Hidup Sehari-hari | Kemandirian | Multiple Intelligence


Saya mulai mempertanyakan tentang apa sebenarnya fungsi mainan setelah beberapa
waktu mengamati Azka dengan mainannya. Jika mainan itu baru dilihatnya atau baru
dibelikan, ia akan cukup intens menguliknya. Akan tetapi, kegiatan itu hanya berselang
beberapa saat. Esoknya, perlakuannya terhadap mainan baru itu sama saja dengan
perlakuannya terhadap mainan lama, dicuekkin aja. Azka baru akan mengulik mainannya
lagi jika diajak untuk menguliknya, atau jika sudah cukup lama takdisentuhnya.
Tidak ada sebuah mainan pun yang tidak pernah bosan diuliknya terus setiap hari.

Padahal, semua mainannya sengaja dipajang pada sebuah tempat seperti meletakkan
pajangan, tidak ditumpuk di dalam keranjang atau kardus, tujuannya agar ia dapat
selalu melihatnya dan tertarik untuk memainkannya. Namun, Azka hanya gemar
memporak-porandakannya (jika pagi hari saat bangun dari tidur lantas ia melihat
semua mainannya tersusun rapi), lalu mengabaikannya.

Azka justru tertarik pada benda-benda yang sering dipakai oleh saya atau abinya. Jika
saya sedang memasak, ia senang bermain dengan sutil, wajan, panci, misting, maupun
ulekan. Dalam bermain, kadang benda-benda itu diperlakukannya sesuai fungsinya. Ia
mengaduk-aduk entah apa yang diisinya ke dalam wajan -kerupuk mentah, kacang mentah,
tepung, makaroni, bahan masakan yang akan saya masak, sisa makanan dan minumannya-
lalu mengaduk-aduknya dengan sutil. Terkadang, peralatan masak itu dipukul-pukulnya
seperti sedang memainkan alat musik pukul. Sambil tetap memukul, ia lantas menari-nari
atau berjalan ke sana ke mari.

Jika sedang menemani abinya bertukang membikin beberapa peralatan rumah (tempat
sepatu, meja setrika, gantungan pakaian, rak-rak di ruang makan), ia senang memainkan
palu, paku, meteran, spidol, penggaris, kayu, obeng, cutter, dan apa pun peralatan
pertukangan yang sedang dipakai abinya. Kadang ia meniru apa-apa yang dilakukan abi
dengan peralatan itu, kadang benda-benda itu dijadikannya pemukul untuk menghasilkan
bunyi-bunyian, entah memukul lantai, dinding, atau lainnya. Kadang, benda-benda
panjang seperti penggaris dan kayu dijadikannya seolah-olah itu adalah alat musik
tiup.

Ketimbang bermain dengan mainan yang sengaja dibelikan untuknya, ia justru akan
bermain dengan durasi waktu lebih lama jika bermain-main dengan benda-benda yang
merupakan "peralatan dan perlengkapan rumah tangga".

Pada titik itulah saya mulai mempertanyakan fungsi mainan. Jika anak-anak justru lebih
menyukai benda-benda "peralatan dan perlengkapan rumah tangga" ketimbang mainan
yang sengaja dibelikan untuknya, lantas, apa sebenarnya fungsi mainan? Untuk apa
mainan itu diciptakan? Lalu, mengapa tak kita biarkan saja anak-anak kita bermain
dengan "peralatan dan perlengkapan rumah tangga", alih-alih memaksa mereka bermain
dengan mainannya? Ya, terkecuali jika memang mainan itu menarik minatnya.

Dan, bukankah mainan itu justru menjauhkannya atau menjadikannya berjarak dengan
benda-benda asli yang justru kelak akan dipakainya dalam kehidupan sehari-hari?
Bagaimana ia akan dapat memakai gunting dengan baik, misalnya, jika yang kita sodorkan
padanya adalah gunting-guntingan. Apalagi, sepanjang pengamatan saya, rata-rata bentuk
gunting-guntingan itu cukup jauh berbeda dengan bentuk gunting asli.

Azka (19 bulan), sejak pertama kali ia melihat dan penasaran dengan gunting (kalau
tidak salah sejak usianya 16 bulanan), saya sodorkan gunting asli, seraya saya jelaskan
kalau benda itu tajam. Saya berikan ia pengalaman menyentuh bagian tajam dari gunting
agar ia tahu apa yang dimaksud dengan tajam. Efeknya, setiap bereksplorasi dengan
gunting, ia bersikap hati-hati, lalu setelah puas, ia akan menyerahkan benda itu pada
saya (seolah-olah paham jika benda tajam takboleh diletakkan sembarangan).

Begitu juga dengan jarum (ia sering melihat saya menggunakan jarum saat memakai
kerudung), saya berikan jarum asli untuk dipegangnya (tentu saja tetap dalam
pengawasan) dan saya sentuhkan ujung jarum pada kulitnya agar ia paham jarum itu
tajam dan bagaimana rasanya jika terkena benda tajam. Sejak ia memahami hal itu,
setiap ia menemukan benda tajam, jarum, peniti, dan sejenisnya, ia akan memungutnya
dan memberikannya pada saya, seraya bilang, "jajum...(jarum), jam...(tajam)."

Saya pernah cukup lama berkecimpung dalam dunia entrepreneurship, dari mulai rajin
menghadiri seminar, workshop, maupun sekolah entrepreneurship, menjadi bagian dari
event organizer yang mengadakan seminar maupun workshopnya, bersama teman-teman
mendirikan organisasi yang bergerak dalam bidang entrepreneurship, bekerja sebagai
reporter dan penulis di sebuah majalah entrepreneurship, beberapa kali merintis bisnis
sendiri bersama kawan-kawan, dan terakhir, saya diminta oleh kawan saya untuk menjadi
bagian dari pemilik dan manajemen perusahaan yang sedang dirintisnya.

Barangkali bersebab adanya pengalaman tersebut, sehingga arah kesimpulan atas
pertanyaan saya di atas adalah, "mainan sejatinya diciptakan untuk kepentingan bisnis,
bukan murni untuk membantu perkembangan anak. Analoginya kira-kira seperti ini; sebuah
perusahaan obat yang menemukan bahwa sejenis buah yang sehari-hari mudah ditemukan,
ternyata jika dikonsumsi rutin, dapat menyembuhkan penyakit berat seperti kanker. Akan
tetapi, perusahaan obat itu menyembunyikan fakta itu dan berusaha membikin bahan
sintetis atau obat yang menyerupai kandungan buah itu. Tentu saja, agar perusahaan
obat itu dapat meraih keuntungan besar dari penjualan obat ciptaannya.

Ya, memang tidak semuanya. Sebab ada juga mainan-mainan yang murni dibuat untuk
membantu tumbuh kembang anak, namun akhirnya banyak orang tua yang tertarik
ingin memiliki untuk anak-anak mereka, maka jadilah mainan itu diproduksi lebih banyak
untuk memenuhi permintaan, lalu akhirnya jadilah sebuah bisnis mainan. Jika ditilik
dari sejarahnya, salah satu contohnya adalah mainan Lego.

Di sinilah saya pikir, kami sebagai orang tua, pada akhirnya harus mampu memilah-milah
mainan yang memang benar-benar bermanfaat bagi Azka, dan mainan yang justru
hanya akan menjauhkannya atau menjadikannya berjarak dengan kehidupan nyata. Maksud
saya berjarak dengan kehidupan nyata itu misalnya, anak-anak yang dilarang bermain-
main di dapur dan di larang bermain-main dengan peralatan dapur, dengan alasan apapun
(biasanya alasannya adalah takut anak terkena minyak panas atau terkena api kompor)
kemungkinan besar jika ia dewasa nanti, ia tidak akan pandai memasak dan tidak akan
betah berada lama-lama di dapur.

Di rumah, kami memiliki dua rak untuk meletakkan piring-mangkok-talenan-ulekan-
misting-cangkir-dan benda semacamnya. Benda-benda yang diletakkan pada rak ini berada
dalam jangkauan Azka. Ia bisa kapan saja bereksplorasi dengan benda-benda ini. Saya
merasa cukup aman membiarkannya bermain dengan peralatan ini sebab tidak ada yang
terbuat dari kaca, dan memang sengaja tidak membeli benda-benda yang terbuat dari
kaca. Apa yang dilakukannya dengan benda-benda ini? Pertama, ia meniru apa-apa yang
pernah saya lakukan dengan menggunakan benda-benda itu, kedua, ia menciptakan bunyi-
bunyian dengan benda-benda itu, ketiga, untuk peralatan eksperimennya; memindahkan air
atau benda cair lainnya dari satu wadah ke wadah lain.

Bersebab ia suka sekali menekan saklar lampu, tombol kipas angin, dan tombol televisi,
setiap saya hendak mematikan atau menyalakan benda-benda tersebut, saya minta ia yang
melakukannya. Tentu saja, Azka dengan senang hati melakukannya. Televisi dan kipas
angin juga terletak dalam jangkauannya. Sejak usia 15-16 bulanan ia sudah paham
bagaimana menyalakan dan mematikan benda-benda itu. Apakah Azka sering memasukkan
jarinya ke celah-celah kipas angin? Awalnya ya, akan tetapi setelah beberapa kali
jarinya pernah tersangkut dan ia susah untuk melepasnya, sudah tidak lagi.

Bahan-bahan memasak saya juga terletak dalam jangkauannya. Ia senang sekali bermain
dengan makaroni, beras, tepung, kerupuk mentah, dan kacang-kacangan. Awalnya,
makaroni dan beras mentah itu sering dimakannya. Akan tetapi, setelah memiliki
pengalaman bahwa kedua benda itu keras untuk digigit, susah untuk ditelan,
ia taklagi memakannya jika sedang memain-mainkannya.

Ada juga benda-benda yang saya letakkan jauh dari jangkauan Azka, yaitu benda-benda
yang jika dimainkannya harus dalam pengawasan. Salah satunya, Azka suka sekali duduk-
duduk di meja makan, sementara di meja makan ada sebuah rak khusus untuk menyimpan
beberapa gelas kaca. Ia suka memainkan gelas-gelas itu, mengangkatnya, pura-pura minum
dari gelas itu, atau pura-pura mengaduk minuman. Efek positifnya, jika sedang minum
dengan memakai gelas kaca, pegangan tangannya sudah kuat. Pernah beberapa kali saya
mendapatkan Azka berhasil mengambil gelas kaca berisi minuman saya atau abinya,
bersebab gelas itu terletak hampir ditepi meja sehingga dapat dijangkaunya. Ia
berhasil mengambilnya tanpa menjatuhkannya, lalu meminum isinya, membawanya
mondar-mandir, juga tanpa menjatuhkan gelas tersebut.

Intinya, seperti judul yang saya tuliskan di atas, semua benda di rumah adalah
mainan Azka, juga peralatan menyapu, mencuci, kulkas beserta isinya, pakaian, dan
lainnya. Satu hal saya rasakan, semakin dekat ia dengan benda-benda asli dalam
kehidupan nyata, semakin banyak kosa katanya dan semakin banyak ia memahami fungsi-
fungsi benda. Sebab, setiap ia melihat dan menyentuh sebuah benda, pertama kali yang
ditanyakannya pasti nama benda tersebut dan kepingin tahu benda itu untuk apa. Setelah
diberi tahu, ia akan mengulang-ulang terus nama benda itu. Lalu, jika suatu saat ia
melihat dan menyentuhnya kembali, ia akan mengulang menyebutkan nama benda itu
kembali dan memperagakan cara memakainya.

Jika ada sebuah benda yang pernah dilihat dan disentuhnya namun jarang-jarang, kadang
ia lupa namanya, namun ingat fungsinya. Contohnya adalah palu. Azka hanya menyentuh
palu ketika sedang menemani abi membikin rak. Suatu kali ia menunjuk-nunjuk tempat
penyimpanan palu sambil bilang, "Km km km km," sambil memeragakan cara memakai palu.
Itu adalah bunyi palu yang pukulkan pada paku yang pernah didengarnya.

Mendidik anak itu memang penuh dengan resiko. Jika anak dibiarkan memanjat atau
berlari-lari, akan ada resiko cidera terjatuh atau terpeleset. Jika anak diperkenankan
bermain-main di dapur, akan ada resiko terkena api atau terkena minyak panas. Jika
anak diperkenankan bermain air atau diajak dalam kegiatan mencuci, akan ada resiko ia
terpeleset dan demam karena kedinginan. Jika anak diperkenankan mendekati kita yang
sedang menyetrika, akan ada resiko tangannya akan terkena setrika panas, seperti yang
sudah pernah terjadi pada azka. Jika anak diizinkan bermain dengan benda-benda tajam,
akan ada resiko tertusuk. Akan tetapi, berani mengambil resiko dalam mendidik anak
bukan berarti tidak berhati-hati.

Saya meyakini, tugas orang tua adalah menjaga anak saat mereka sedang bereksplorasi
agar cedera yang mereka terima masih dalam batas wajar. Tugas orang tua bukan
melarang-larang atau menjauhkan anak-anak dari hal-hal yang beresiko. Misal, saat azka
sedang berjalan di lantai yang licin, tugas saya adalah memberitahunya bahwa lantai
itu licin, bukan melarangnya berjalan di lantai yang licin. Lalu ketika ia terjatuh,
saya usahakan agar saat jatuh, kepalanya tidak terbentur lantai.

Kemampuan mengambil, menghadapi, dan menerima resiko itu tidak tumbuh dengan
sendirinya. Kemampuan itu didapatkan dari latihan yang berulang-ulang. Orang tua yang
terlalu sering melarang-larang anaknya melakukan permainan yang beresiko justru akan
menghambat anak dalam latihan menghadapi resiko.

Hidup ini pun penuh dengan resiko, bukan? Saya meyakini, anak yang sering dilarang-
larang melakukan ini itu karena orang tuanya memiliki ketakutan yang berlebihan
terhadap resiko atau cedera yang akan menimpa sang anak, akan mencetak anak-anak yang
takut mengambil resiko dalam kehidupan nyatanya kelak, anak-anak peragu dan penakut,
anak-anak yang pasif, dan anak yang tidak memiliki banyak kemampuan. Ketakutan orang
tua yang berlebihan itu akan menular pada anak.

Sebaliknya, orang tua yang menahan diri untuk tidak melarang-larang anaknya
bereksplorasi dan memberikan kesempatan pada anak untuk merasakan "sakit" entah itu
sakit karena jatuh atau yang lainnya, akan mencetak anak-anak yang berani serta
berhati-hati. Anak-anak itu akan memiliki sifat berani karena orang tua tidak
menularkan ketakutan mereka, juga, mereka akan memiliki sikap berhati-hati karena
sudah punya segudang pengalaman "sakit".

Resiko itu wajar. Cedera itu wajar. Itu yang selalu saya bilang pada Azka jika ia
terjatuh dan mulai menangis. Setelah saya bantu ia berdiri jika posisi jatuhnya
membuatnya kesulitan bergerak, atau setelah saya obati jika ia terluka, saya akan
bilang, "kalau Azka gak mau jatuh atau sakit, ya diem aja. Selama Azka bergerak,
selama itu pula akan ada resiko yang akan Azka tanggung. Itu namanya konsekuensi.

Berani bergerak ya harus berani terima apa pun konsekuensi yang mengikutinya."
Sekali lagi, seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, semua benda di rumah adalah
mainan Azka, tanpa terkecuali. Semua ruangan di rumah adalah tempat bermain Azka,
tanpa terkecuali, termasuk di dapur saat saya sedang memasak, di tangga, atau pun di
kamar mandi. Ia juga bebas bermain apa pun; berlari, memanjat, berputar-putar, dan
sebagainya. Tugas kami sebagai orang tua adalah menjaga agar resiko yang diterimanya
masih dalam batas wajar. Tugas kami bukan melarang-larangnya. Tertusuk sedikit jarum,
terkena setrika panas, terjatuh saat berlari, adalah resiko-resiko yang wajar.

Tuesday, March 10, 2015

Belajar Naik Tangga

Latihan hidup sehari-hari | Kemandirian | Multiple Intelligence | Kecerdasan Kinestetik


Rumah yang kami tempati saat ini adalah rumah mungil berlantai dua. Kedua lantai tersebut terhubung dengan sebuah tangga kayu. Tangga tersebut agak curam -tidak landai- dan memiliki jarak yang agak lebar antar anak tangga.

Pertama kali pindah ke rumah ini, saya sedikit takut untuk menggendong Azka naik turun tangga. Bahkan, ketika pertama kali kami melihat-lihat rumah ini, belum memutuskan untuk tinggal di sini, saya meminta suami yang menggendong Azka naik-turun, saya belum berani. Saat itu, saya membayangkan, jika kami akhirnya memilih untuk tinggal di sini, mungkin ruangan untuk tamu akan saya sulap sebagian untuk ruangan tidur siang Azka (semua kamar tidur di lantai atas) dan baju-baju rumah Azka sebagian saya simpan di lantai bawah agar saya takperlu sering-sering naik turun.

Akan tetapi, setelah beberapa lama tinggal di rumah ini, naik turun tangga dengan menggendong Azka akhirnya menjadi hal biasa bagi saya. Azka pun, jika tidur siang, tak pernah di lantai bawah. Setelah terbiasa, mulailah saya memikirkan untuk melatih Azka naik tangga sendiri.

Jarak antara lantai bawah dan anak tangga pertama lebih lebar lagi dibanding jarak antar anak tangga, sehingga Azka hingga kini belum bisa naik dari lantai bawah ke anak tangga pertama. Kondisi ini membuat saya masih merasa cukup aman untuk melepasnya bermain sendiri disekitar tangga jika sedang berada di lantai bawah. Barangkali, kondisi ini pula yang menyebabkan Azka, hingga usia 17 bulan, jarang sekali minta bermain-main di tangga atau minta naik tangga sendiri. Sementara, pada anak tangga teratas, ada pagar dengan tinggi sekitar satu meter, yang selalu kami kunci jika Azka sedang berada di lantai atas.

Pertama kali saya resmi mengukuhkan bahwa sudah saatnya Azka naik tangga sendiri ya di usianya ke-17 bulan itu. Sebelumnya, beberapa kali saya biarkan ia naik dengan cara ditatah (saya pegang kedua tangannya, ia melangkah sendiri).

Maka dimulailah pengalaman pertama Azka naik tangga sendiri. Saya naikkan ia ke anak tangga pertama, setelah itu saya lepas. Ia senyum-senyum senang. Lalu Azka pun mulai naik tangga sendiri dengan cara merangkak. Saya mengikuti di belakangnya. Sejak saat itu, Azka pun resmi naik tangga sendiri jika kami hendak ke lantai atas. Kecuali jika sudah mengantuk, biasanya ia kepinginnya digendong. Lama-lama, Azka juga bisa naik tangga dengan cara, sebelah tangan berpegangan pada tangan tangga, tanpa merangkak, meski belum laju benar.

Sekarang, tangga adalah salah satu tempat bermain Azka. Ia tak hanya senang menaikinya, tapi juga senang duduk-duduk di tangga. Alhasil, saat ini, jika sedang naik tangga, bisa memakan waktu bermenit-menit. Pada setiap anak tangga ia kepingin duduk, lalu baru mulai menaiki lagi. Kadang-kadang pada anak tangga tertentu, ia hanya bolak-balik turun-naik turun-naik sambil bilang, "aik... (naik), dudu... (duduk)," berulang-ulang.Hal ini kerap bikin saya garuk-garuk kepala dan menghembuskan napas. Akan tetapi, saya menyadari, kalau pada akhirnya saya gendong juga ia untuk menuju ke atas, misi melepasnya untuk naik tangga sendiri ini bisa-bisa tidak akan konsisten.

Akhirnya, saya menemukan sebuah cara. Jika saya sedang kepingin cepat namun tetap tanpa menggendongnya, saya cari sebuah benda yang membikinnya penasaran, lalu saya letakkan pada anak tangga di depannya namun takterjangkau olehnya. Azka akan naik dengan cepat dan bersemangat untuk menjangkau benda itu. Setiap ia hampir dapat menyentuh benda tersebut, saya naikkan lagi ke anak tangga di atasnya, begitu seterusnya hingga sampai ke lantai atas.

Pernah pada suatu saat, saya menaikkannya ke anak tangga pertama, sengaja tanpa meletakkan sebuah benda di depannya, sebab kepingin tahu apa yang akan dilakukannya, apakah tetap naik dengan ngebut, atau naik sambil duduk-duduk di tangga, atau yang lainnya. Ia lantas melihat cukup lama ke anak tangga, lalu menoleh ke arah saya yang berada di belakangnya dengan mimik muka heran dan berkata, "mannaa...?" Lalu, setelah saya letakkan sebuah benda di hadapannya, ia pun tersenyum dan memulai aksi pengejaran.

Setelah jago naik tangga, Azka sekarang juga kepingin turun tangga sendiri. Kegiatan turun tangga sedikit lebih sulit ketimbang sebaliknya sehingga memakan waktu lebih lama. Hingga usianya 19 bulan, paling-paling ia baru berani turun hingga tiga anak tangga, setelah itu minta gendong. Akan tetapi, sekitar sebulan kemudian, saat ia 20 bulan, Azka mulai berani turun tangga, dengan satu tangan berpegangan pada tangan tangga, dan satu tangan lagi berpegang pada tangan saya.

Meski Azka sudah bisa naik tangga sendiri sejak usia 17 bulan, namun saya belum terlalu khawatir untuk meninggalkannya barang semenit atau dua menit di lantai bawah jika ada keperluan sebentar di lantai atas semisal, sekedar hendak menutup pintu depan atas atau mengambil diapers serta pakaian Azka, sebab ia belum bisa naik ke anak tangga pertama yang jarak antara lantai dan anak tangga itu cukup lebar. Paling-paling Azka akan menunggui saya di bawah tangga sambil bermain-main dan sesekali memanggil.

Akan tetapi, ketika usianya 19 bulan, saat saya hendak turun setelah menyelesaikan keperluan di lantai atas, beberapa kali saya mendapati Azka sudah mencapai anak tangga ketiga, hendak menyusul saya. Itu artinya, ia sudah mampu naik sendiri dari lantai bawah ke anak tangga pertama. Saya cukup kaget juga, sebab setahu saya, ia masih kesulitan untuk naik ke anak tangga pertama itu. Cara yang dilakukannya untuk bisa naik ke anak tangga pertama itu membikin saya penasaran, sebab tidak mungkin dengan cara memanjat seperti biasa, anak tangga itu cukup tinggi.

Bersebab penasaran, beberapa kali saya beri Azka kesempatan untuk naik sendiri ke anak tangga pertama saat kami akan ke lantai atas. Anehnya, jika ada saya, meski ia berusaha beberapa kali, ia tetap tidak bisa melakukannya sehingga saya pun kembali membantunya untuk naik ke anak tangga pertama itu. Bersebab itu juga, saya masih belum khawatir untuk meninggalkannya sebentar di lantai bawah jika ada keperluan di atas yang hanya memakan waktu semenit atau dua menit, meski beberapa kali Azka telah berhasil naik sendiri. Saya pikir, ya itu kebetulan saja.

Lalu, pada suatu hari, saat saya meninggalkannya sebentar di lantai bawah untuk mencari sesuatu di kamar yang terletak di lantai atas (yang mungkin tanpa saya sadari memakan waktu cukup lama), tiba-tiba saya mendengar bunyi pagar tangga di lantai atas yang ditutup lalu dikunci. Ketika saya keluar kamar, saya mendapati Azka sudah ada di lantai atas dan sedang mengunci pagar tersebut, seperti biasa saya melakukannya begitu kami menginjakkan kaki di lantai atas. Azka (saat itu usianya hampir 20 bulan) naik tangga sendiri, tanpa dijaga. Saya kaget sekali, sekaligus senang, bangga dan juga bersyukur sebab tidak terjadi apa-apa padanya, semisal terpeleset atau kehilangan keseimbangan lalu berguling-guling ke bawah karena tidak ada yang menjaganya.

Sedikit, demi sedikit, saya mencoba melepaskan ketergantungan Azka pada kami, untuk hal-hal yang memang kami pikir ia sudah mampu melakukannya sendiri. Salah satunya adalah pada kegiatan naik tangga ini. Tujuannya, tentu, agar ia makin mandiri, sehingga kelak, jika kepingin melakukan ini itu, ia tidak merengek minta dibantu atau dilayani padahal sudah bisa melakukannya sendiri meski belum sempurna.

Saya masih banyak mendapati orang tua yang melarang anaknya berlari, memanjat, melompat, apalagi salto, bahkan naik tangga sendiri padahal usia anak itu sudah hampir dua tahun. Padahal, kegiatan tersebut masih bagian dari tumbuh kembang mereka. Banyak orang tua yang belum menyadari bahwa perkembangan motorik kasar tidak hanya sampai pada saat anak berhasil berjalan sendiri. Kebanyakan orang tua, mereka sangat memberi kesempatan bagi anak-anak mereka agar mampu berjalan secepat mungkin, namun setelah anak-anak itu mampu berjalan, mulailah banyak larangan yang keluar dari mulut orang tua saat melihat anaknya mulai berlari, memanjat, melompat, dan lainnya.

Di rumah, kami membiarkan Azka berlari (bahkan ada sesi bermain kejar-kejaran), berputar-putar, berdiri di high chair-nya lalu berupaya memanjat dan melompat ke meja makan, berjalan di lantai yang licin (namun tetap diberitahukan padanya bahwa lantai itu licin, agar ia berhati-hati), naik tangga, dan baru-baru ini Azka tengah belajar salto dengan abinya. Ya memang, sudah tak terhitung berapa kali ia jatuh karena berlari dan memanjat, bahkan dalam sehari.

Khusus untuk kegiatan naik tangga, selain untuk perkembangan motorik kasarnya, kegiatan ini juga memiliki manfaat banyak bagi Azka, di antaranya, melatih keseimbangan tubuhnya, melatih fokusnya, melatih keberaniannya berada pada ketinggian, dan lainnya.

Naik-turun tangga adalah salah satu kegiatan bermain yang saya dan Azka lakukan ketika sedang berdua saja di rumah.


Salam,


Ananda Putri Bumi

Tuesday, March 3, 2015

Azka Mulai Menabung

Kemandirian | Multiple Intelligence | Kecerdasan Logis Matematis | Kecerdasan Finansial

dutii... (duit)
babum... (nabung)
-Azka, 18 bulan

Itu adalah dua kata yang diucapkan Azka ketika melihat duit maupun celengannya. Sejak
awal Nopember 2014, ketika ia berusia 14 bulan, salah satu kegiatan rutin Azka adalah
menabung.

Semua berawal saat saya melihat dua anak bule usia tiga atau empat tahunan, satu
laki-laki dan yang lainnya perempuan, menarik dan menduduki travel bag milik mereka
ketika di Bandara Schiphol, Amsterdam, Oktober 2014 lalu. Travel bag si anak perempuan
berwarna pink sementara milik anak laki-laki berwarna biru muda.

Yang membikin saya tertarik dengan travel bag itu adalah desain dan fungsinya.
Bentuknya bukan seperti travel bag anak-anak pada umumnya; berbentuk tas punggung,
bergambar kartun, beroda dua di belakang dan memiliki tarikan yang terbuat dari
plastik keras. Akan tetapi, bentuknya seperti koper mini, desainnya dibikin untuk bisa
dan nyaman diduduki, beroda empat, dan memiliki tarikan di salah satu pinggirnya -
bukan di bagian belakang-, mirip tali yang bukan berbahan keras.

Secara umum, desainnya memudahkan anak untuk menariknya hilir mudik. Juga, ketika ada
situasi dimana kita harus menunggu cukup lama saat bepergian, ia dapat dijadikan
tempat duduk bagi anak-anak. Saya benar-benar naksir.

Tadinya saya pikir travel bag dengan model tersebut tidak ada di Indonesia. Jika ingin
beli online pun, saya tidak tahu merknya sehingga mungkin agak sulit untuk mencari di
google. Sementara keberadaan kami di bandara saat itu menuju pulang, sehingga tidak
ada kesempatan untuk mencarinya. Padahal saya kepingin sekali membelikan Azka
bersebab desainnya yang mudah untuk dibawa/ditarik oleh anak-anak serta punya fungsi lebih.

Kami, minimal satu kali setahun, pasti akan melakukan perjalanan keluar pulau; pulang
kampung. Pengalaman selama ini, lebih dari sekali dalam setahun kami mengadakan
perjalanan keluar pulau yang tak hanya pulang kampung sehingga travel bag menjadi
peralatan yang cukup penting buat kami.

Jika Azka sudah berusia sekitar dua tahunan, saya berencana secara bertahap akan
memintanya untuk mengurus pakaian dan perlengkapannya sendiri saat kami akan
melakukan perjalanan, lalu membawanya sendiri, sehingga keberadaan travel bag khusus
untuknya merupakan hal yang penting.

Saat penerbangan dari Jakarta ke Pontianak, saya iseng membuka-buka majalah yang
memuat barang-barang yang dijual maskapai tersebut. Ternyata, maskapai itu menjual
travel bag yang saya inginkan, juga tidak harus langsung membelinya di atas pesawat
saat itu juga, sebab mereka punya webshop bagi pelanggan yang ingin belanja online.

Saya girang sekaligus garuk-garuk kepala saat melihat harganya yang hampir tujuh ratus
ribu rupiah. Akan tetapi, niat ingin membelikan Azka benda itu tidak surut sama
sekali, sebab bisa dibilang, travel bag adalah salah satu peralatan homeschooling yang
saya perlukan untuk melatih Azka mandiri.

Membelinya dengan langsung mengeluarkan kocek segitu memang akan membuat benda itu
terasa cukup mahal. Maka saya pun putar otak, menghitung ini itu, dan aha, saya punya
sebuah cara agar dapat membelinya, juga sekaligus tidak merasakan benda itu sebagai
benda mahal saat membelinya, yaitu Menabung.

Jika Azka menabung dua ribu rupiah saja sehari, maka dalam waktu setahun Azka dapat
mengumpulkan sekitar 720 ribu rupiah, jumlah yang lebih dari cukup untuk membeli
travel bag itu. Lagi pula, mengajarkannya untuk membawa barangnya sendiri saat kami
melakukan perjalanan mulai tahun depan tidaklah terlambat, sebab usianya nanti baru
2,5 tahun.

Yang paling penting, selama setahun ini, saya bisa mengajarkannya beberapa hal lagi,
yaitu pelajaran "menabung terlebih dulu jika ingin membeli sebuah benda", serta
pelajaran "kemampuan menunda keinginan untuk sementara waktu". Dua pelajaran ini
termasuk dalam pelajaran "kemampuan mengendalikan diri", dimana kemampuan ini
merupakan salah satu faktor penting yang akan menentukan keberhasilan anak dalam
mencapai impiannya kelak.

Lalu, awal Nopember 2014 lalu, mulai lah Azka menabung. Tabungannya dibuat dari toples
plastik yang sedikit transparan. Bulat dan cukup tinggi. Saya minta tolong suami untuk
memberi lubang memanjang pada permukaan tutup toples tersebut. Sengaja saya buat dari
toples agar mudah dibuka, dirapikan, dan ditutup kembali jika uang di dalamnya sudah
lumayan penuh. Warnanya yang agak transparan, yang membikin uang-uang di dalamnya
sedikit kelihatan, menjadi daya tarik tersendiri bagi Azka.

Saya usahakan setiap hari mengajaknya menabung. Azka juga senang dengan kegiatan ini,
apalagi jika yang dimasukkannya uang logam. Untuk uang logam, ia bisa memasukkannya
sendiri, namun untuk uang kertas, saya lipat dan cantolkan dulu di lubangnya, baru
setelah itu, Azka yang menekannya masuk.

Sejauh ini, sejak usianya 16 bulan, jika melihat duit, Azka akan bilang,"Du tii...
(duit), bah buu... (nabung)." Melalui kegiatan ini, kosa kata yang dimilikinya
setidaknya jadi bertambah (meski kadang-kadang sobekan kertas bertulisan yang sebesar
uang kertas masih dibilangnya duit). Selain itu, ia juga mulai mengasosiasikan duit
dengan kegiatan menabung. Jika ia melihat uang, di mana pun berada, ia akan bilang,"Du
tii... (duit), bah buu... (nabung)."

Target lain saya dari kegiatan menabung ini, selain latihan menabung secara khusus dan
latihan mengendalikan diri secara umum, juga mengajarkan pada Azka (dan mengingatkan
diri saya sendiri) untuk menghargai uang sebab itu adalah hasil keringat sang pencari
nafkah, sekecil apa pun nilainya. Juga bahwa, sekecil apapun nilai uang, jika terus
dikumpulkan secara konsisten, jumlahnya bisa menakjubkan.

Menabung sebesar dua ribu rupiah saja perhari, jika konsisten dilakukan dalam satu
tahun saja dulu, sudah bisa membeli sebuah perlengkapan yang nilainya sekitar tujuh
ratus ribu rupiah. Pemikiran ini berawal dari, terkadang, bersebab nilainya yang
kecil, uang kertas senilai dua ribu rupiah ini mudah saja digeletakkan di mana-mana
dan cuek-cuek saja jika hilang.

Lalu, juga ada pembelajaran umum yang didapat dari menabung sedikit demi sedikit lalu
lama-lama menjadi bukit ini, yaitu pembelajaran tentang proses. Proses (apa pun itu)
yang rasanya remeh temeh, yang rasanya nilainya kecil dan nyaris takberarti -misal,
membaca lima menit sehari atau menulis satu paragraf sehari-, jika terus dilakukan
dengan konsisten, pada suatu waktu akan membuahkan hasil yang menakjubkan. Hal ini
juga akan membuatnya paham bahwa segala sesuatu yang ada, tidak tiba-tiba jatuh dari
langit, akan tetapi semua yang ada pasti telah melewati serangkaian proses.

Akhirnya, kami menyepakati, ke depannya, jika Azka memiliki keinginan dan kebutuhan
tertentu yang harganya lumayan tinggi namun tidak terlalu mendesak, kami akan
mengarahkannya untuk menabung terlebih dulu; memastikan harga benda tersebut,
menetapkan waktu benda itu akan dibeli (jika ada deadline-nya), lalu menghitung ini
itu-nya sehingga didapatkan angka berapa rupiah ia harus menabung perhari atau per dua
hari atau perminggunya. Lihatkan, di sini pun ia tidak hanya belajar menabung, tapi
juga belajar logika matematika, belajar menetapkan dan memastikan tujuan, belajar
memotong-motong proses yang panjang hingga menjadi langkah-langkah kecil yang akan
dilakukannya perhari atau perminggu, belajar melakukan sesuatu secara konsisten, dan
barangkali masih banyak lagi.

Ke depannya, materi mengelola keuangan tentu juga akan masuk ke dalam program
homeschooling kami. Di mulai dari latihan menabung/menyimpan uang; menabung dulu
untuk membeli/melakukan sesuatu yang diinginkan (tidak langsung membelinya saat itu
juga) dan menabung yang tidak untuk tujuan membeli benda tertentu, tapi untuk
mengantisipasi hal-hal takterduga yang terjadi di masa datang yang bisa jadi
membutuhkan uang yang tidak sedikit.

Lalu, berikutnya, tentu, akan ada juga latihan menghasilkan uang. Dalam bayangan saya,
kelak nanti jika Azka sudah memahami fungsi dan nilai uang, saya akan mengarahkannya
untuk "bekerja" dulu jika ingin mendapatkan uang atau meminta uang dari orang tuanya.
Bahkan jika uang yang dimintanya itu untuk tujuan menabung. "Bekerja" di sini, tentu
sesuai kemampuannya, misal, ia harus mengajari saya terlebih dulu sebuah keterampilan
yang telah dikuasainya, atau ia membikin hasil karya lalu mempresentasikannya pada
saya yang jika saya membeli hasil karyanya, benefit apa saja yang akan saya dapatkan.
Atau, bisa juga, saya memintanya terlebih dulu untuk melakukan suatu kegiatan jika ia
ingin mendapatkan uang, misal membuat atau menghias pigura foto, membuat sebuah lagu,
menjadi juru potret saya, membuat gambar-gambar untuk di pajang di dinding, lalu, ia
akan menerima kompensasi atas jasanya.

Untuk latihan menghasilkan uang ini, saya akan menghindari memberinya kompensasi atas
bantuan yang telah dilakukannya, (misal, ia membantu saya berbenah rumah). Saya juga
akan menghindari untuk memberinya kompensasi jika saya membutuhkan bantuannya
untuk melakukan suatu hal, misal saya meminta tolong padanya untuk menjemur pakaian.
Hal itu saya maksudkan agar ia mampu membedakan antara memberi bantuan dan
melakukan pekerjaan-pekerjaan yang memang dapat dilakukannya untuk menghasilkan uang.

Kemudian, setelah latihan menghasilkan uang, berikutnya akan ada latihan mengelola
keuangan. Setelahnya juga akan ada latihan memutar uang.

Bahasan tentang pengelolaan keuangan lainnya, rencananya akan saya bahas lebih detail
di tulisan lain.


Salam,


Ananda Putri Bumi