Thursday, April 16, 2015

Ketika Bayi Azka Senang Mengulum Jari Tangannya

Kemandirian


Dulu, sewaktu Azka sedang senang-senangnya memasukkan tangan ke dalam mulut, ketika usianya masih hitungan bulan, saya membiarkannya. Saya hanya memastikan tangannya selalu dalam keadaan bersih.

Karena dibiarkan, kegiatan memasukkan tangan ke dalam mulut pun makin lama makin berkembang. Dari yang tadinya hanya sekedar mengisap-isap ujung jari, hingga ia berusaha memasukkan kedua tangannya ke dalam mulut lalu mengunyah jari-jarinya. Ia juga sering kelolodan karena jari dan telapak tangannya terlalu dalam masuk ke dalam mulut.

Saya menyadari, membiarkan bayi memasukkan jari-jarimya ke dalam mulut, bahkan hingga dia mengunyah jari-jarinya sendiri sampai kelolodan, adalah diluar kebiasaan. Saya perhatikan, kebanyakan orang selalu melarang bayinya ketika sang bayi hendak memasukkan tangannya ke dalam mulut.

Bahkan, beberapa kali saya menyaksikan, ketika saya membawa Azka ke tempat umum atau sedang berada di tempat kerabat, saat ia akan memasukkan tangannya ke dalam mulut, banyak orang yang berinisiatif sendiri langsung berusaha menjauhkan tangan Azka dari mulutnya. Alasan mereka, tangan itu kotor. Padaha saat itu Azka belum merangkak sehingga tidak sulit untuk selalu mengontrol kebersihan tangannya.

Lalu, mengapa saya biarkan?

Semua bayi, pada usia tertentu, pasti gemar memasukkan tangannya ke dalam mulut, bukan? Semua bayi. Bukan hanya bayi tertentu saja. Sama halnya dengan, semua bayi pada waktunya pasti akan tengkurap, merangkak, lalu berjalan. Artinya, semua bayi memang di desain begitu, akan ada fase di mana mereka gemar memasukkan tangan ke dalam mulut. Lalu siapa yang mendesain mereka seperti itu? Allah.

Apakah Allah pernah menciptakan sesuatu tanpa alasan? Artinya, pasti ada alasannya mengapa Allah menciptakan bayi dengan kegemarannya memasukkan tangan ke dalam mulut. Apakah Allah pernah salah dalam menciptakan atau merencanakan sesuatu? Bagi saya, jawabannya adalah "tidak". Jadi, apakah merupakan sebuah kesalahan atau ketelodaran dari Allah, ketika Ia menciptakan bayi gemar memasukkan tangannya ke dalam mulut pada usia tertentu? Bagi saya, jawabannya adalah "tidak". Allah menciptakan adanya fase oral pada bayi, tentu ada maksud tertentu di dalamnya.

Itulah landasan yang saya pegang saat membiarkan Azka bereksplorasi dengan mulut dan tangannya, bahwa apapun yang dilakukan bayi dan kanak-kanak, saat mereka belum memiliki dosa, adalah arahan dari Allah.

Jika hal itu adalah arahan dari Allah, mengapa kebanyakan orang tua justru melarang? Sebab, ketika mengasuh anak, kebanyakan orang tua memandang bayi adalah mahluk kecil yang belum tahu apa-apa, jadi mesti selalu diajari ini-itu. Mereka lupa bahwa bayi itu di desain oleh Zat yang Maha Sempurna. Kebanyakan orang tua lupa menyertakan Sang Pencipta saat sedang mengasuh dan mendidik anak-anak mereka sehingga tidak pernah menyadari bahwa apa-apa yang dilakukan bayi adalah desain dan arahan dari Sang Pencipta, bukan karena bayi belum mengerti apa pun.

Dengan membiarkan Azka bereksplorasi dengan tangan dan mulutnya, pengetahuan saya malah jadi bertambah. Tadinya saya pikir bayi hanya sekedar mengisap jari tangannya saja. Tapi ternyata mereka mampu memasukkan kedua telapak tangan dan jari-jari mereka ke dalam mulut, lalu mengunyah jari-jari dengan gusi hingga ia kelolodan. Ketika kelolodan, barulah Azka mengeluarkan jari-jarinya dari dalam mulut. Tak berapa lama, kegiatan itu diulanginya kembali. Dengan begitu, saya pun mengetahui bahwa mengunyah adalah juga refleks yang tak perlu diajari kepada bayi seperti halnya mengisap. Bayi sudah tahu dengan sendirinya.

Dan saat pertama kali saya sodorkan pada Azka potongan buah pir ketika usianya enam bulan (seperti yang pernah saya bahas pada tulisan "Ummi, Aku Sudah Tidak Mau Disuapi Lagi"), Azka langsung berupaya mengunyah dengan gusinya, seolah sudah tahu bahwa makanan itu harus dikunyah dulu sebelum ditelan.

Memasukkan jari tangan, mengulum, dan mengunyahnya akan memperkuat otot rahangnya.

Saat bayi sedang merasa cemas atau tidak nyaman, mereka juga akan memasukkan tangannya ke dalam mulut sebagai upaya untuk mengurangi perasaan cemas atau ketidaknyamanannya. Artinya, ketika misalnya bayi sedang berada di tengah keramaian, lalu tiba-tiba ia memasukkan tangannya ke dalam mulut, itu pertanda bahwa bayi sedang merasa tidak nyaman dengan kondisi sekitar, dan ia sedang berusaha menenangkan dirinya dengan caranya. Jika dilarang, dapat dipastikan tak berapa lama kemudian, bayi akan rewel bersebab terus-terusan merasa tidak nyaman.

Melarang bayi memasukkan tangannya ke dalam mulut juga dapat mengganggu tumbuh kembangnya di kemudian hari. Urusan tumbuh kembang bukan hanya menyangkut fisik, tapi juga jiwa. Ada beberapa artikel online yang membahas hal ini dengan cukup jelas. Googling saja.

Belakangan, saya baru tahu kalau membiarkan bayi mengulum dan mengunyah jari tangannya juga akan membantu perkembangan otaknya.


Salam,


Ananda Putri Bumi

1 comment:

  1. Subhanallah, ternyata hikmahnya begitu besar. Daku baru tahu, Bunda. Terima kasih banyak. Tapi bagaimana kalau kebiasaan itu berlanjut sampai ia tumbuh besar?

    ReplyDelete