Thursday, April 23, 2015

Bukan Melarang, Mengatur, dan Mengendalikan, tetapi Memfasilitasi, Memberi Ruang Bereksplorasi, Mencontohkan, Mengajak, dan Mengarahkan Pada Saat yang Tepat

Kemandirian | Latihan Hidup Sehari-hari | Multiple Intelligence


Azka memiliki tempat piringnya sendiri, sejak usia 19 bulan. Tempat itu terletak dalam jangkauannya. Ada beberapa mangkok, piring, cangkir, sendok, dan garpu di dalamnya. Jadi, jika ia kepingin makan atau minum, saya minta ia sendiri yang mengambil peralatan makannya. Dengan begitu, Azka makin mampu membedakan antara piring dan mangkok, sendok dan garpu. Kadang-kadang, jika peralatan makannya baru selesai dicuci, Azka juga kami ajak dan contohkan untuk menaruhnya sendiri.

Azka juga memiliki tempat pakaian kotor sendiri. Tiap akan mandi, saya mengajaknya untuk bersama-sama, lalu mencontohkan untuk meletakkan pakaian kotornya di tempat yang telah disediakan.

Azka suka sekali buah Lengkeng. Baru-baru ini, Azka (21 bulan) sudah bisa membuka sendiri kulit lengkeng dengan cara digigit. Sekarang, ia kerap menolak jika saya menawarkan bantuan untuk membukakan kulit lengkeng yang akan dimakannya. Kepingin membukanya sendiri.

Di rumah, kami memiliki jemuran setinggi dagu Azka. Jika saya sedang menjemur kain, bebadapa kali ia ikut menyampirkan cucian baju pada tali jemuran, lalu berusaha menjepitnya dengan jepitan baju. Meski tentu saja, hasil pekerjaannya belum sempurna. Saya biarkan saja susunan baju-baju yang dijemurnya sebagaimana adanya.

Kami juga menyediakan gantungan baju sejangkauannya agar dia bisa menggantung sendiri baju-bajunya yang telah saya setrika. Salah satu kegiatan yang disukainya.

Jika akan naik atau turun tangga di rumah, Azka melakukannya sendiri. Ia sudah jago sekali naik tangga. Memasuki usia 20 bulan, ia juga sudah bisa turun tangga sendiri.

Sejak usia 21 bulan, Azka tidak pernah lagi dengan sengaja memperlakukan hp dengan tidak semestinya, seperti sengaja menjatuhkan atau melempar, menginjak, atau memukul-mukulkannya pada lantai. Ia memperlakukan hp seperti halnya kita memperlakukan. Meski tentu, belum sempurna.

Jemari Azka (21 bulan) juga sudah cukup stabil dan terkendali dalam mengoperasikan touchscreen hp. Bila ia kepingin membuka app drum, biola, gitar, atau pun piano di-hp, ia sudah bisa melakukannya sendri. Pun jika Azka kepingin melihat rekaman kegiatannya, ia juga sudah bisa membuka dan memilih-milih rekaman yang akan ditontonnya.

Jika kepingin minum, Azka juga sudah memiliki inisiatif mengambil cangkir sendiri dari tempat piringnya, lalu menggeser kursi ke dekat meja dispenser dan meminta saya duduk, setelah itu ia meminta saya untuk memangkunya, lantas meletakkan cangkir yang dibawanya di bawah keran dispenser dingin, menunjuk keran dispenser panas seraya bilang, "anas" dan menunjuk keran dispenser dingin seraya bilang "ninin", kemudian menekan keran dispenser dingin hingga airnya keluar.

Azka memiliki beberapa cangkir yang ada tutupnya, yang tutupnya harus diputar jika ingin menutup cangkir itu erat. Suatu hari ia mengetuk-ngetuk kamar mandi memanggil-manggil saya yang sedang berada di dalam dan memperlihatkan keberhasilannya dalam menutup cangkir itu. Rapi dan erat.

Suatu kali, Azka (ketika ia 20 bulan) bermain- main dengan sekumpulan meal boxes, menebarnya dan menjadikannya alat musik pukul. Setelah puas bermain, ia bangkit dari duduknya, dan bilang, "tayok agi", lalu meletakkan kembali box-box itu pada tempat semula. Hal itu kerap terjadi hingga sekarang tanpa sekalipun saya menyuruhnya.

Sejak ia 18 bulan hingga kini, setiap saya sedang menyapu dan memasukkan sampah hasil sapuan ke dalam cikrak, Azka buru-buru mengambil cikrak itu dan berjalan menuju tempat sampah, lalu membuang sampa-sampah yang ada di dalamnya. Kini, ia pun kepingin, ia sendiri yang menyapukan sampah itu ke dalam cikrak.

Bersebab tanah di sini tanah rawa, kadang-kadang ada kaki seribu yang masuk ke dalam rumah. Jika kebetulan Azka melihatnya, ia langsung sibuk mencari sapu, mengarahkan saya untuk membuka pintu, lalu mendorong kaki seribu itu dengan sapu ke arah luar rumah. Salah satu tugas Azka sekarang adalah menyingkirkan kaki seribu dari dalam rumah. Kadang, sebelum membuangnya, ia memperhatikan dulu kaki seribu itu lama-lama sambil bilang, "kaki ebu, kaki ebu." Kepo.

Apa itu karena saya selalu berusaha untuk mengajarinya?

Saya tidak pernah mengajarinya.

Saya dan suami hanya memberikan sarana dan memberinya ruang untuk melakukan aktivitas yang kepingin dilakukannya.

Yang kami lakukan hanya membiarkannya bereksplorasi, dan membiarkan rumah berantakan bersebab eksplorasinya.

Yang saya lakukan hanya menahan diri untuk tidak melarang-larangnya dan menahan diri untuk tidak mengatur-aturnya, apalagi berusaha mengendalikannya.

Suatu kali, ketika ia sedang bermain sendok, saya pernah mencoba mengaturnya dengan mengatakan, "kalau sudah selesai main, tarok lagi di tempatnya ya." Azka lalu bangkit berdiri dan bilang, "gak!" Kemudian dengan cueknya berlari meninggalkan sendok-sendok itu dan bermain yang lainnya.

Yang saya lakukan adalah mencermati aktivitasnya, lalu "masuk" pada situasi yang tepat, yaitu ketika ia siap untuk mendengarkan, baru saya berikan arahan.

Ketika Azka kepingin bermain beras, saya biarkan. Lalu ketika ia akan membuang segenggam beras ke lantai, saya bilang, "berasnya masukin kesini ya," sambil saya berikan sebuah wadah. Kini, setiap sedang main beras, tepung, kacang hijau, makaroni, Azka selalu mengambil wadah lain untuk menuangnya. Ia tidak lagi menyerakkannya ke lantai. Tapi tentu saja ya, tetap masih ada yang berceceran di lantai.

Ketika Azka kepingin bermain hp, saya berikan. Kalau kebetulan ia bermain hp di dapur, di bawah kompor pula, saya bilang, "Azka kalau mau main hp di depan (ruang tamu) ya." Ia akan segera bangkit dan berjalan ke ruang tamu.

Kalau Azka kepingin minum dari gelas kaca, saya izinkan. Tapi, sebelum ia minum, saya bilang, "minumnya sambil duduk ya." Azka pun akan segera duduk.

Kalau ia sedang main hp, lalu kesulitan menemukan hal yang dicarinya, Azka akan berteriak bilang, "Cucaah, cucaah," atau "Nggak ica, nggak ica." Saat itulah saya "masuk" dan memberinya pengarahan.

Jika Azka kepingin memanjat-manjat di area dekat televisi, saya biarkan. Ia senang sekali mengutak-atik tombol-tombol di tv dan speaker. Saya cuma bilang, "Azka kalau mau naik-naik, bilang umi ya." Dan setiap ia akan memanjat, ia selalu bilang, "Mii, Aca aiik (umi, Azka mau naik)." Segera saya gelar matras di bawahnya, agar jika ia terjatuh, tidak terlalu sakit.

Yang kami lakukan adalah mencontohkan. Ketika Azka menumpahkan air, langsung saya pel lantainya tanpa melarangnya kembali untuk menumpahkan. Ketika ia selesai bermain dengan piring-mangkoknya yang ia tumpahkan dan sebar ke penjuru ruangan, setelah ia selesai main, saya kumpulkan mainannya ke tempatnya tanpa melarangnya untuk bermain dan menebarnya kembali. Setiap ada sampah di lantai, langsung saya pungut dan buang ke tempat sampah. Azka melihat dan merekam semuanya, lalu menirunya.

Ketika ia menumpahkan air, ia akan mencari kain pel dan mengelapnya sendiri. Ketika menemukan sampah, ia akan memungut lalu membuangnya tanpa disuruh. Ketika ada semut di lantai, Azka langsung ambil sapu dan menyapu semut-semut itu. Yaaa... meski semut-semutnya jadinya bertebaran di mana-mana sih...

Ya memang ada saatnya saya akan bilang "Azka boleh main ini itu asal nanti dibereskan lagi," tapi ya itu nanti, bukan sekarang di saat ia masih 21 bulan ini.

Yang kami lakukan adalah mengajaknya melakukan suatu hal. "Yuk, kita masukkan baju kotor Azka ke tempatnya." Saya juga ikut mendampinginya berjalan ke tempat keranjang kotor, memasukkan sehelai, lalu meminta Azka memasukkan yang lainnya.

Saya meyakini, dari pengalaman, pengamatan, dan bacaan, pola asuh yang terlalu banyak melarang, mengatur, dan mengendalikan tidak akan membuat anak banyak belajar. Pola asuh tersebut hanya akan menimbulkan banyak perselisihan antara orang tua dan anak. Orang tua akan menganggap anak keras kepala dan suka melawan karena tidak mau menurut. Anak akan menganggap orang tua terlalu banyak melarang dan mengatur. Jadi, jika pola asuh tersebut tidak banyak membuahkan hasil, malah hanya membuat orang tua dan anak kerap berselisih, mengapa harus diteruskan?

Anak-anak itu adalah mahluk yang penuh energi. Badan mereka masih segar dan sehat. Tidak seperti kita yang sudah banyak sakit di sana sini dan cepat lelah. Menyuruh orang yang memiliki energi penuh, yang badannya masih segar dan sehat untuk melulu duduk diam, melarang mereka untuk bergerak ke sana kemari, bukankah itu hal yang mustahil? Selama badan kita segar, sehat, penuh energi, pasti kita kepinginnya bergerak terus. Begitu pun anak-anak.

Pembelajar dan mandiri sebenarnya adalah sifat alami manusia. Proses belajar adalah proses yang didahului oleh rasa ingin tahu, dan berlanjut dengan pengulangan-pengulangan. Sementara, kemandirian ditandai dengan berusaha melakukan sesuatu sendiri, tanpa mengandalkan orang lain. Bukankah hal ini sangat kental terlihat pada anak-anak?

Azka, tidak mau disuapi. Kepingin buka buah lengkeng sendiri. Kepingin mengambil air sendiri dari dispenser. Ketika minum, gelasnya tidak mau dibantu dipegangi. Kepingin menyalakan dan mematikan televisi, lampu, kipas angin sendiri. Kepingin naik-turun tangga sendiri. Kalau makan ikan atau ayam, tidak mau disuwir-suwir, kepinginnya diberikan utuh, biar ia yang melepasnya dari tulangnya, dan lainnya. Ini adalah tanda-tanda kemandirian, bukan?

Azka, selalu bertanya "apa ini?" ketika melihat sebuah benda. Lalu setelah diberi tahu, ia akan mengulangnya terus. Jika esok harinya ia menemukan benda yang sama, ia akan menyebutnya berulang-ulang kembali. Saya tidak pernah mengajarinya harus menghapal kosa kata ini dan itu. Azka selalu kepingin tahu apa yang sedang saya lakukan. Sampai-sampai ia hapal urutan mencuci dan membilas baju, urutan menanak nasi, dan lainnya. Saya tidak pernah mengajarinya. Ia yang kepingin tahu, lalu kepingin juga melakukannya. Ini adalah sifat seorang pembelajar, bukan?

Lalu mengapa, ketika anak-anak itu menjadi manusia dewasa, sifat pembelajar dan mandiri itu perlahan malah menjadi lenyap? Banyak orang tua yang mengeluhkan anaknya susah disuruh belajar, tidak mau membantu di rumah, dan apa-apa minta diambilkan atau dibantu.

Saya meyakini, sifat mandiri dan pembelajar yang secara alami sudah ada pada manusia sejak kanak-kanak itu malah menjadi lenyap ketika mereka beranjak dewasa,itu adalah akibat pola asuh yang tidak tepat.


Salam,


Ananda Putri Bumi

3 comments:

  1. Azka lucuuuu....betul mam. Seperti dalam bukunya Mas Bukik, Anak Bukan Kertas yang Kosong. Mereka adalah makhluk pembelajar yang alami.

    ReplyDelete
  2. biasanya kalau yang seperti itu dari kecil selalu diajarkan manja begitu jadi pas dewasa susah diatur karena terbiasa dengan kemanjaannya itu

    ReplyDelete